Tunggu Cuaca Membaik, Nelayan Lamsel Pilih tak Melaut

LAMPUNG – Sejumlah nelayan di wilayah pesisir kecamatan Rajabasa, kecamatan Kalianda dan Kecamatan Ketapang memilih melakukan aktivitas di darat menunggu kondisi cuaca membaik khususnya ketika tiba angin kencang disertai gelombang memecah putih atau ombak mutih yang ditakuti oleh nelayan untuk melakukan aktivitas di perairan.

Ansori, salah satu nelayan di tempat pendaratan ikan Muara Piluk Bakauheni menyebut pada akhir November ini sejumlah nelayan justru mendapatkan tangkapan cumi dan teri yang cukup baik. Namun kondisi cuaca sedang tidak bersahabat bahkan saat berada di tepi dermaga gelombang dan angin kencang sangat dirasakan sejumlah nelayan.

Ansori sebagai salah satu pengelola kapal bagan congkel dimana bagan congkel tersebut merupakan milik salah satu bos menyebut, sang bos meminta menunda aktivitas melaut mempertimbangkan faktor keselamatan nelayan sekaligus risiko lain akibat nekat melaut. Ansori bahkan menyebut, salah satu kapal nelayan yang nekat melaut dalam kondisi gelombang tinggi dan angin kencang terdampar di wilayah pulau Kelapa di perairan Bakauheni beberapa bulan sebelumnya. Mengakibatkan tidak bisa dievakuasi karena terdampar di batu- batu karang.

Ansori (jongkok), salah satu nelayan di tempat pendaratan ikan Muara Piluk tengah membersihkan keranjang wadah ikan menunggu cuaca membaik sebelum melaut. [Foto: Henk Widi]
“Harga kapal bagan congkel memang sangat mahal bisa mencapai 500 juta sehingga risiko kerusakan kapal sangat besar. Selain itu risiko keselamatan nyawa nelayan tentunya lebih diutamakan sehingga banyak nelayan memilih enggan melaut,” terang Ansori, salah satu nelayan bagan congkel di Muara Piluk yang ditemui Cendana News tengah membersihkan puluhan keranjang ikan sembari menunggu kondisi cuaca membaik, Senin (27/11/2017).

Setelah kondisi cuaca membaik ia menyebut akan kembali melakukan kegiatan melaut. Terutama dirinya dan sejumlah nelayan bagan congkel yang ada di wilayah tersebut juga akan berburu ikan teri di perairan kepulauan Krakatau yang terlindung dari angin barat yang berasal dari Samudera Hindia. Meski kondisi cuaca perairan masih belum bersahabat bagi sejumlah nelayan, kondisi tersebut belum mempengaruhi harga jual ikan di wilayah pesisir Bakauheni, Kalianda dan Rajabasa dengan harga ikan yang masih stabil.

Kondisi cuaca yang tak bersahabat tersebut juga mendapat perhatian dari Satuan Polairud Kepolisian Resor Lampung Selatan dengan melakukan sosialisasi kepada sejumlah nelayan di Pantai Keramat Desa Sumur, Muara Piluk Desa Bakauheni, Blebug Desa Totojarjo dan sejumlah pantai lain di wilayah hukum Polres Lampung Selatan. Brigadir Polisi Kepala Agung GA selaku anggota Bhabinkamtimbas Polairud Polres Lampung Selatan bahkan menyebut telah memasang imbauan dengan menggunakan banner agar nelayan bisa memperhatikan kondisi cuaca yang saat ini sedang tidak bersahabat.

Sejumlah kapal bagan congkel belum melaut akibat kondisi cuaca gelombang tinggi disertai angin kencang saat musim angin barat. [Foto: Henk Widi]
“Selain memasang banner imbauan, tentunya kita juga memberikan pemahaman kepada nelayan agar memperhatikan faktor keselamatan dalam berlayar. Juga hal penting lain dalam pelayaran,” terang Bripka Agung GA.

Ia mengaku, selalu menekankan kepada nelayan bahwa laut telah memberikan rejeki kepada nelayan sehingga laut harus dicintai dan jangan merusak serta mencemari. Selain imbauan terkait keselamatan dan memperhatikan kondisi cuaca, juga imbauan agar nelayan selalu membawa jaket pelampung (life jacket) serta lingkaran pelampung plastik (ring boy). Bripka Agung pun tak ketinggalan mengimbau nelayan jangan membuang sampah ke laut. Jangan menggunakan bom ikan, jangan menggunakan narkoba dan nelayan harus melengkapi kapal dengan dokumen izin resmi.

Lihat juga...