JAKARTA – Aliansi Pengendalian Tembakau Asia Tenggara (SEATCA) menyampaikan kekecewaannya, karena Organisasi Buruh Internasional (ILO) menunda untuk memutuskan hubungan dengan industri tembakau besar, menyusul pembahasan yang berakhir dengan jalan buntu di Badan Pengurus ILO.
“ILO adalah satu-satunya badan PBB yang masih terus memelihara hubungan dengan industri tembakau. Industri tembakau mencengkeram sekeping kredibilitas terakhir PBB,” kata Penasihat Kebijakan Senior SEATCA, Mary Assunta, melalui siaran pers yang diterima di Jakarta, Sabtu (11/11/2017).
Penundaan pemutusan hubungan ILO dengan industri tembakau besar itu merupakan yang kedua. Sebelumnya, Badan Pengurus ILO juga sempat menunda mengakhiri hubungan yang tidak sehat itu.
Mary mengatakan, selama beberapa tahun terakhir ILO menerima sekitar 15 juta dolar Amerika Serikat dari industri tembakau dan sebuah lembaga swadaya masyarakat internasional bergerak di bidang penghapusan pekerja anak di perkebunan tembakau yang didanai industri tembakau transnasional.
“Industri tembakau memerlukan sponsor itu untuk mendapatkan dukungan lebih dari ILO. Sudah saatnya ILO memutuskan hubungan itu,” tuturnya.
Mengingat perusahaan transnasional itu telah mendorong epidemi tembakau dan menghambat kesejahteraan pekerja di industri dan pertanian tembakau, sudah seharusnya ILO mengakhiri kemitraan dengan industri tembakau.
Apalagi, sebagian besar dari negara-negara anggota ILO merupakan pihak dari Konvensi Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau Organisasi Kesehatan Dunia (FCTC WHO), mencapai 183 negara, yang telah meminta pemerintah di berbagai negara untuk melarang kegiatan tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR terkait tembakau.
“Telah banyak pemerintah melarang kegiatan CSR tersebut. Program tembakau yang disponsori ILO, jelas bertentangan dengan usaha tersebut,” katanya. (Ant)