Petani Lampung tak Tergiur Tingginya Harga GKP
LAMPUNG — Pasokan gabah yang melimpah dari para petani, termasuk harga yang mulai meningkat pada level petani di Kabupaten Lampung Selatan, tak serta-merta membuat para petani menjual gabahnya.
Sutini, salah satu petani di Desa Ruguk, Kecamatan Ketapang, mengaku sebagian petani melakukan pemanenan dua tahap pada akhir Oktober hingga pertengahan November ini pada jenis padi Ciherang dan IR 64 jumbo.
Harga gabah kering panen (GKP) yang saat ini cukup lumayan tinggi, sekitar Rp5.000 per kilogram, diakuinya cukup menggiurkan bagi petani untuk menjualnya, terutama dengan kebutuhan lain yang cukup banyak. Meski demikian, bersama suaminya, Rohman, ia sengaja menjual gabah pada panen pertama pada lahan sawahnya seluas satu hektar dengan hasil mencapai 6 ton sebanyak 4 ton saja, sisanya dijual dalam bentuk beras.

Harga gabah kering panen senilai Rp5.000 per kilogram atau Rp500 ribu per kuintal, diakui Sutini tidak serta-merta menggiurkan bagi petani penanam padi, terutama yang memiliki lumbung di rumah masing-masing, di antaranya melakukan sistem penitipan barang di beberapa penggilingan dan diambil saat membutuhkan beras.
Ia juga beralasan, meski harga gabah sudah cukup bagus, namun ia masih memperhitungkan tahun depan dalam masa tanam berikutnya selama proses menunggu panen berikutnya ia dan keluarganya masih membutuhkan beras.
Panen yang cukup bagus juga diakui oleh Sudin, petani di Desa Tetaan, Kecamatan Penengahan, yang pada masa panen tahun ini bisa mendapatkan sekitar 4 ton. Ia menyebut, harga gabah kering panen saat ini sesuai Peraturan Menteri Pertanian (Permentan/03/2017) dengan harga pembelian pemerintah (HPP) di kisaran Rp3.700, sementara di tingkat petani banyak pembeli berani membeli gabah kering panen sebesar Rp5.000 per kilogram.

Harga beras yang kini diakuinya sudah mencapai Rp9.000 untuk kelas sedang membuat ia tidak lantas menjual gabahnya, karena ia memilih menyimpan dalam bentuk gabah untuk selanjutnya digiling saat membutuhkan beras. Ia bahkan mendapat sosialisasi terkait serapan gabah dari petani untuk Perum Bulog, namun sebagian petani tidak berniat menjual gabahnya dan memilih memanfaatkannya sebagai stok hingga panen berikutnya.