Ribuan Warga Tumpah Ruah Saksikan Tradisi Saparan Bekakak
YOGYAKARTA — Ribuan masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya tumpah ruah menyaksikan tradisi Saparan Bekakak yang digelar di desa Ambarketawang, Gamping, Sleman, Jumat (3/11/2017) sore.
Mereka memenuhi ruas-ruas jalan yang menjadi rute kirab boneka Bekakak serta ogoh-ogoh yang menjadi bagian ritual tertua yang ada di Yogyakarta itu.
Baca Juga : Warga Klaten Gelar Festival Seribu Caping
Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, tradisi Bekakak dimulai dengan upacara adat di lapangan Ambarketawang. Upacara kemudian dilanjutkan dengan kirab untuk membawa sepasang boneka Bekakak menuju Gunung Gamping.
Dalam kirab ini, puluhan boneka ogoh-ogoh berbagai macam bentuk turut diarak. Tak ketinggalan prajurit bregodo juga ikut mengawal prosesi.
Sesampai di komplek Gunung Gamping, upacara yang menjadi prosesi inti tradisi bekakak dilangsungkan. Berupa penyembelihan sepasang boneka pengantin Bekakak yang terbuat dari tepung beras.

Masyarakat sekitar percaya, tradisi penyembelihan boneka Bekakak ini dilakukan untuk menolak musibah dan bencana.
“Dulu saat awal pembangunan keraton Jogja, sering terjadi musibah yakni ambruknya gunung gamping hingga menimpa warga sini termasuk pasangan suami istri. Agar tak terjadi hal seperti itu, Sultan meminta warga menggelar ritual. Berupa penyembelihan boneka Bekakak sebagai ganti korban manusia,” ujarnya warga setempat Cipto (73) warga Pereng Kembang, Ambarketawang, Gamping.
Hingga kini, tradisi yang digelar setiap hari Jumat bulan Sapar dalam penanggalan Jawa ini tetap dilestarikan warga. Bahkan tradisi ini menjadi agenda budaya dan pariwisata rutin tahunan.
Baca Juga : Menjajaki Silek Tradisi di Minangkabau

Tak sedikit masyarakat dari berbagai daerah menyaksikan tradisi ini. Baik itu untuk melestarikan tradisi maupun sekedar hiburan.
“Setiap tahun saya selalu nonton. Sudah sejak kecil. Setiap ada Bekakak selalu ke sini. Walaupun tidak bisa lihat sampai ke Gunung Gamping. Ya untuk mencari berkah agar hidup jauh dari musibah,” ujar salah seorang warga Ngatijem (60) asal dusun Depok Ambarketawang, Gamping.