Amerika Ketakutan terhadap Kekuatan Spiritual 10 November 1945

OLEH EKO ISMADI

Setelah kemerdekaan Indonesia diproklamasikan oleh Soekarno-Hatta 17 Agustus 1945, pasukan Jepang mulai dilucuti oleh tentara nasional dan rakyat. Proses pelucutan ini menimbulkan bentrokan-bentrokan di berbagai daerah yang cukup banyak menimbulkan korban. Inisiatif tersebut juga dilakukan karena pihak sekutu di Indonesia masih belum juga melucuti tentara Jepang.

Perang ini menimbulkan perlawanan lain di semua kota seperti Jakarta, Bogor, Bandung sampai dengan aksi membakar kota 24 Maret 1946. Mohammad Toha meledakkan gudang amunisi Belanda di Palagan Ambarawa, Medan, Brastagi, Bangka dan lain-lain. Perlawanan ini terus berlanjut baik dengan senjata maupun dengan negosiasi para pimpinan negeri seperti perjanjian Linggajati di Kuningan, perjanjian di atas kapal Renville, perjanjian Roem-Royen sampai akhirnya Belanda mengakui kedaulatan Indonesia pada Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda, tahun 1949.

Pihak sekutu yang telah menjatuhkan bom di kota Hiroshima dan Nagasaki di Jepang, akhirnya turun ke Indonesia untuk melucuti tentara Jepang. Pada 15 September 1945, sekutu yang diwakili oleh Inggris, mendarat di Jakarta. Sedangkan pada 25 Oktober 1945 di Surabaya, dengan 6.000 serdadu dari divisi ke-23 dengan pimpinan Brigadir Jenderal Mallaby.

Peristiwa peperangan yang berlangsung di kota Pahlawan itu jadi legitimasi peran prajurit dalam usaha memerdekakan Indonesia. Hal ini menjadikan nilai kepahlawanan tercanang pada sebuah perjuangan untuk menghadapi agresi militer, dan guna memobilisasi kepahlawanan dengan militeristik. Maka dari itu, tanggal 10 November 1945, dijadikan titik peringatan sebagai hari Pahlawan setiap tahun.

Terdapat ungkapan populer menyebutkan, bahwa “Bangsa yang besar ialah bangsa yang menghargai dan menghormati jasa pahlawannya”. Apabila bangsa tidak memiliki pahlawan, berarti sama saja bahwa bangsa tersebut tidak mempunyai hal yang dibanggakan. Apabila suatu bangsa tak mempunyai sosok yang patut untuk dibanggakan, maka bangsa itu merupakan satu bangsa yang belum memiliki harga diri.

SEJARAH HARI PAHLAWAN 10 NOVEMBER

Mungkin tidak semua orang tahu mengapa di tanggal 10 November diperingati sebagai hari pahlawan. Pada 10 November 2015 ini maupun 10 November di tahun tahun yang akan datang tentu bukan momentum sekedar hadiah untuk Indonesia. Hari tersebut merupakan momentum dimana bangsa Indonesia kembali mengingat seberapa besar jasa para pahlawan yang telah berjuang keras memerdekakan tanah air ini.

Pihak sekutu yang telah menjatuhkan bom di kota Hiroshima dan Nagasaki di Jepang, akhirnya turun ke Indonesia untuk melucuti tentara Jepang. Pada 15 September 1945, sekutu yang diwakili oleh Inggris, mendarat di Jakarta, sedangkan pada 25 Oktober 1945 mendarat di Surabaya.

Perang tersebut melibatkan pasukan sekutu dengan 30.000 serdadu yang terdiri dari 26.000 pasukan, didatangkan dari divisi ke-5 dan dilengkapi 24 tank Sherman beserta 50 pesawat tempur, juga diperkuat dengan beberapa kapal perang. Tentara Sekutu (Inggris) memperkirakan, dalam 3 hari, Surabaya akan bisa ditaklukan. Namun, kenyataannya, setelah satu bulan, barulah Surabaya jatuh ke tangan sekutu dan NICA.

Namun, pendaratan sekutu ini didomplengi kepentingan Belanda secara rahasia melalui NICA untuk kembali menguasai Indonesia, meskipun Indonesia sudah memproklamirkan kemerdekaan dirinya. Rakyat Indonesia marah mendengar konspirasi tersebut. Maka, perlawanan terhadap Inggris dan NICA tetap berlanjut. Puncaknya, yaitu ketika pimpinan sekutu wilayah Jawa Timur Brigadir Jenderal Mallaby terbunuh pada 30 Oktober 1945 di Surabaya.

Inggris dan NICA melalui Mayor Jenderal Mansergh yang menggantikan Mallaby, mengultimatum rakyat Indonesia untuk menyerah sampai batas akhir tanggal 10 November pagi hari. Namun, di batas ultimatum tersebut, rakyat Surabaya menjawabnya dengan meningkatkan perlawanan secara besar-besaran, salah satu pimpinan perlawanan tersebut adalah Sutomo, atau dikenal sebagai Bung Tomo. Berkat kepemimpinannya, Bung Tomo menerima penghargaan Bintang Mahaputra Utama pada tahun 1995 oleh presiden Suharto. Kemudian, pada tanggal 11 Juni 2015, Bung Tomo diangkat secara resmi menjadi Pahlawan Nasional.

Tanggal 10 Nopember telah dijadikan Hari Pahlawan, karena dalam pertempuran di Surabaya, merupakan pertempuran yang terbesar dan pertama kali di indonesia. Peristiwa ini mencerminkan dan menampilkan kepribadian, tekad, dan semangat perjuangan yang rela berkorban, tanpa pamrih, untuk bangsa dan Negara Indonesia.

Pertempuran ini hanya berlangsung tiga minggu. Namun, angka yang menunjukkan jatuh korban, sebanyak 6.000-16.000 pejuang Republik gugur, serta 200 ribu warga sipil mengungsi. Di pihak lawan, setidaknya, 2.000 orang terbunuh. Wajar jika kemudian, pemerintah menetapkan peristiwa 10 November sebagai Hari Pahlawan.

Dalam sebuah kesempatan, ada seorang bernama Sumarsono, seorang anggota gerakan Pemuda Republik Indonesia (PRI) yang menjadi saksi dan pelaku sejarah tersebut. Kemudian, Sumarsonolah yang memberi usul kepada Presiden Soekarno untuk merealisasikan tanggal 10 November sebagai Hari Pahlawan. Dan saran itu diterima.

PERANAN BUNG TOMO

Namanya Sutomo, orang menyebutnya Bung Tomo. Setiap kali Indonesia memperingati peristiwa 10 November yang kini sudah 72 tahun, selalu saja Bung Tomo disebut. Apa sebenarnya peran Bung Tomo pada Republik Indonesia, khususnya dalam pertempuran 10 Nopember di Surabaya, sehingga namanya tak pernah dipisahkan dari pertempuran bersejarah itu?

Bung Tomo lahir di Surabaya, tepatnya di kampung Blauran. Akibat krisis ekonomi pada tahun 1930, Bung Tomo ikut bekerja membantu orang tuanya. Jiwa kebangsaan Bung Tomo terasah ketika ikut aktif dalam kegiatan KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia). Prestasi terbaik Bung Tomo dalam KBI adalah memperoleh LENCANA ELANG. Prestasi ini membuat Bung Tomo menjadi terkenal di kampungnya. Bung Tomo memiliki kemampuan dalam hal tulis-menulis, sehingga mengantarkannya menjadi wartawan Domei. Daya tarik inilah yang membuat organisasi PRI (Pemuda Republik Indonesia) tergerak untuk merekrut Bung Tomo dan selanjutnya menempatkannya dalam seksi penerangan.

Umur Sutomo atau Bung Tomo waktu itu masih 25 tahun. Ia menjadi kepala Departemen Penerangan di organisasi Pemuda Republik Indonesia. Organisasi ini merupakan salah satu organisasi yang memiliki laskar terbesar di Surabaya. Namun, dengan posisi sebagai wartawan Domei–sekarang Antara—Surabaya tersebut, menjadikan ia tahu bagaimana membangkitkan pemberontakan rakyat.

Sejarawan Rushdy Hoesein mengatakan, peran utama Bung Tomo, yaitu ketika orasinya membakar rakyat untuk memberikan perlawanan. Karena itu, ketika ia menerima berita Proklamasi kemerdekaan Indonesia, maka dengan serentak, di Surabaya, diadakan peralihan pemerintahan dan perebutan senjata dari Jepang. Dan Bung Tomo pun menjadi peserta dalam perundingan dengan pihak Jepang, untuk mendapatkan persenjataan dari Jepang.

Bung Tomo kemudian membentuk organisasi yang dinamakan Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI) yang bertujuan mengorganisir dan mengerakkan kekuatan rakyat Surabaya, untuk menentang dan menghadapi datangnya pasukan Inggris maupun NICA di Surabaya. Saat itu, Inggris dan NICA bermaksud mengembalikan kekuasaan Belanda di Indonesia.

BPRI mempunyai senjata ampuh dalam menggerakkan massa, yaitu Radio Pemberontakan. Pidato Bung Tomo di Radio Pemberontakan berhasil memberikan semangat kepada rakyat untuk terus berjuang mempertahankan kemerdekaan di Surabaya. Berkat Radio Pemberontakan ini pula, terjalin komunikasi antar laskar pejuang. Bung Tomo, seperti pemuda yang menyiarkan Proklamasi ke seluruh dunia melalui Radio Republik Indonesia, juga memakai media elektronik untuk mengkomunikasikan perjuangan ke berbagai penjuru. Ia memilih melancarkan agitasi dan propaganda lewat corong radio.

Orasinya setiap hari pada pukul setengah enam sore selalu ditunggu. Sejarawan Rusdhy Husein menyebut, orang menyemut di sekitar tiang-tiang pengeras suara yang tersebar di berbagai sudut Surabaya. Suara Sutomo di Radio Pemberontakan itu bahkan terdengar hingga ke Yogyakarta.

MAKNA, ARTI, DAN PEMAHAMAN KEPAHLAWANAN

Ada sebuah ungkapan terkenal menyatakan, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati pahlawannya. Dan Bangsa tanpa pahlawan, sama artinya Bangsa yang tak memiliki sebuah kebanggaan. Jika sebuah bangsa tidak memiliki tokoh yang bisa dibanggakan, maka bangsa itu adalah bangsa yang tak memiliki harga diri. Bahkan, bangsa tersebut bisa menjadi sebuah bangsa kelas teri, serta diremehkan oleh bangsa-bangsa lain.

Jika dimaknai, sudah sepantasnya setiap bangsa memiliki tokoh yang disebut pahlawan.Seorang Pahlawan akan menjadi sangat penting karena ia akan memberikan suatu inspirasi dan motivasi. Inspirasi untuk selalu memperbaiki kondisi bangsa ini dan memotivasi agar bangsa ini terus bangkit menjadi sebuah bangsa yang bisa dibanggakan.

Jika hendak diartikan, mengapa hari pahlawan diperingati pada tanggal 10 November? Hari itu merupakan sebuah peristiwa yang luar biasa. Karena pertempuran tersebut hanya bersenjatakan bambu runcing, dengan tentara Inggris dan Belanda yang ada di Surabaya, bersenjata lengkap dan modern, didukung oleh kekuatan Udara Dan Kapal Laut. Walaupun dengan senjata sederhana, namun, dengan gagah dan berani, mampu memberikan perlawanan yang membuat Jenderal Pimpinan Pasukan inggris terbunuh.

Maka, marilah kita memahami bersama, pertempuran Surabaya merupakan peristiwa sejarah perang antara pihak tentara Indonesia dan pasukan Britania Raya. Peristiwa besar ini terjadi pada tanggal 10 November 1945 di Kota Surabaya, Jawa Timur. Pertempuran ini adalah perang pertama pasukan Indonesia dengan pasukan asing setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Sebuah pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia yang menjadi simbol nasional atas perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme.

KEKUATAN SPIRITUAL DI BALIK PERTEMPURAN

Perang ini sebenarnya bagian dari perang kemerdekaan Indonesia yang menempatkan Sekutu dan Belanda menjadi musuh bangsa Indonesia. Hal ini sebagai akibat dari Sekutu menghadirkan kembali Belanda ke Indonesia dan berniat ingin mengembalikan kekuasaan di Indonesia, seperti masa sebelum perang dunia II dan kekuasaan Jepang di Indonesia. Ini kemudian yang menumbulkan perlawanan hampir di semua kota seperti Jakarta, Bogor, Bandung, Palagan Ambarawa, Medan, Brastagi, Bangka, dan lain-lain. Kemudian, perlawanan ini terus berlanjut. Akhirnya, Belanda mengakui kedaulatan Indonesia pada Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda, pada tahun 1949. Itulah masa empat tahun revolusi yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia, hingga akhirnya momen 10 November dijadikan Hari Pahlawan.

Permasalahannya, JENDERAL MANA YANG BISA DAN MAU BERPERANG DENGAN BAMBU RUNCING MELAWAN MERIAM, PESAWAT TEMPUR, DAN TEMBAKAN KAPAL? ADAKAH JENDERAL YANG BISA MENGATUR STRATEGI PERANG TANK LAWAN PASUKAN BERSENJATA BAMBU RUNCING ? Inilah satu keistimewaan dari peristiwa perjuangan bangsa Indonesia dalam pertempuran 10 Nopember di Surabaya pada tahun 1945.

Pertempuran ini merupakan simbol keperkasaan bangsa Indonesia dalam menghadapi musuh. Karena itu, hingga sekarang ini, bangsa Amerika dan Eropa tidak takut dengan senjata yang dimiliki Indonesia. Tapi, tegak kokohnya NKRI, berkat kuat dan tegarnya mental bangsa Indonesia dalam menghadapi kesulitan dan ancaman bagi bangsa dan negaranya. Faktor berikutnya adalah keyakinan akan kebenaran berbangsa dan bernegara, berdasarkan pemahaman keimanan yang membuat nasionalisme Indonesia sulit dipatahkan dan diruntuhkan, dimata mereka. Perilaku dan sikap mental semacam ini, dengan konsisten dilakukan oleh bangsa Indonesia hingga sekarang ini, walaupun mengalami pasang surut, serta diterpa konflik yang berdarah darah.

Sikap Amerika, hingga sekarang ini, tetap konsisten bersikap kepada bangsa Indonesia dalam pemahaman sejarah nasionalismenya. Apakah sikap Amerika itu ? Hingga sekarang ini, Amerika terus bersikap, ”Indonesia jangan diberi senjata bagus, karena tidak dipersenjatai saja, Indonesia bisa merdeka.”

Saya mendengar sendiri dari pernyataan tersebut dari Jenderal Amerika dan Perancis sewaktu saya ditugaskan berangkat ke Kamboja 1992 dalam kegiatan Air Borne, juga pertemuan 1996 di Batu Jajar. Pertemuan tersebut adalah pertemuan antara Panglima Tentara Amerika Wilayah Asia Fasifik, Pertemuan Militer Kristen Sedunia, serta Seminar Komunisme di Oxfords.

Dalam keyakinan saya, Indonesia bisa mempertahankan kemerdekaan, karena landasan spiritual. Menurut pendapat saya, kekuatan spiritual adalah sesuatu yang bersifat rohani atau kejiwaan. Karena itu, kekuatan spiritual dapat diartikan sebagai sesuatu yang bersifat rohani, mampu memberikan kekuatan dan keyakinan untuk melakukan sesuatu yang diyakininya benar dan bermanfaat.

Kekuatan Spiritual, menurut saya, sesuai nilai kebaikan yang didapat dari belajar sejarah. Yang dapat mendatangkan kekuatan untuk menggerakan seseorang melakukan sesuatu, sebagaimana pernah dilakukan banyak orang dalam peristiwa sejarah tersebut. Ketika dalam sejarah Islam disebut sipirtual Islam, maka dalam Budaya Indonesia disebut spiritual Budaya Indonesia. Sedangka dalam sejarah nasionalisme disebut spiritual sejarah.

Kekuatan Spiritual dalam Perang 10 Nopember 1945 di Surabaya, tak lain adalah pekikan,”ALLAHU AKKBAR!” yang juga diteriakkan oleh Bung Tomo. Dengan menggaungkan kebesaran nama Tuhan tersebut, maka tergeraklah seluruh umat muslim di Surabaya untuk mengorbankan Jiwa dan raga, serta nyawanya, untuk bertempur melawan musuh, walaupun sudah tahu, perang saat itu sangat mustahil dimenangkan. Tapi, karena bersama Tuhan, rakyat Surabaya yakin, Tuhan Yang Maha Kuasa akan membela dan melindungi. Seandainya harus mati pun, tentu diterima ikhlas sebagai amal dan ibadah. Seandainya saja Bung Tomo tidak menyebut nama Tuhan dalam pertempuran tersebut, apakah akan datang kekuatan rakyat yang bisa dihimpun, Bung? Sulit untuk diperkirakan.

Bagi saya, ada beberapa peristiwa yang sangat bernuansa Spiritual dalam Sejarah Nasionalisme. Yaitu pada momentum Indonesia pada masa penjajahan Jepang, Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Penumpasan Pemberontakan PKI Madiun 1948, serta terbitnya Supersemar untuk mengatasi gerakan Pengkhianatan G 30/PKI Tahun 1965 di Jakarta.

Pada masa penjajahan Jepang pada tahun 1944. Soekarno berziarah ke Petilasan Sendan Menang, Kediri. Setelah selesai berziarah, Soekarno berkata kepada semua orang yang menyertai beliau dengan mengatakan, ”Kita akan merdeka di tahun ini. Karena kita dibantu oleh Leluhur dan Maha Kuasa.”

Peristiwa spiritual kedua adalah bulan Februari 1945. Yaitu ketika Soekarno mengatakan kepada Supriadi dan kawan kawannya dalam sebuah pertemuan di Blitar, ”Kalau kamu ingin tahu pendapat saya, jangan dulu melakukan pemberontakan. Karena, menurut keyakinan saya, Indonesia tidak akan lama lagi akan merdeka, Bersabarlah.” Soekarno bisa memberi keyakinan demikian, karena memang ada kekuatan spiritual dan kecerdasan spiritual dalam dirinya.

Momentum spiritual ketiga, yaitu dalam peristiwa Pemberontakan PKI Tahun 1948 di Madiun. Dalam pidato Soekarno kepada rakyat Madiun, ia meminta, ”Mari Ikut Soekarno Hatta. Insya Allah, Allah Bersama kita. Kita akan dapat membawa Indonesia menuju kehidupan yang adil dan Makmur.” Tidak lama setelah itu, pemberontakan segera dapat diatasi.

Momentum spiritual keempat, yaitu penumpasan atas Pengkhianatan G30S/PKI pada tahun 1965 di Jakarta. Dalam hal ini, memang tidak serta merta, penanganan pengkhianatan itu hanya inisiatif dari Soeharto. Namun, inisiatif penanganan atas pengkhianatan itu diawali dari ide Soeharto, sehingga peristiwa ini dapat ditangani.

Saat itu, Soeharto mengutus tiga orang Jenderal menghadap Presiden Soekarno di istana Bogor pada tahun 1965, dengan perintah, ”Kamu menghadap Presiden Soekarno. Katakan kepada beliau, bahwa ini jalan terbaik yang harus ditempuh untuk menyelesaikan masalah G 30 S/PKI ini.”

Dari pagi hingga menjelang Sholat Ma’grib, sama sekali tidak ditemukan solusi dan kata sepakat. Seorang Waperdam II Leimena yang beragama Kristen, meminta ijin Soekarno agar mempersilahkan utusan Soeharto untuk sholat Ma’grib dan berujar, ”Pak, biar Sholat dulu. Siapa tahu setelah Sholat mendapat pendapat yang baik.”

Ternyata benar. Setelah Sholat Maghrib, kemudian perundingan dilanjutkan. Akhirnya, Jenderal Amir Mahmud mengajukan konsep surat perintah untuk Soeharto. Setelah Soekarno menerima konsep, ia bertanya,”Ditanda tangani nggak ini?”

Pertanyaan itu diulang sampai berulang kali. Namun, pada saat yang bersamaan, Waperdam II DR. Leimena menyeletuk, ”Sudah, tanda tangani saja. Kita ucapkan Bismillahirrochmanirrochim saja, biar Tuhan menyertai kita dan menjadikan penyelesaian bagi bangsa Indonesia.” Dan semua yang hadir menyambut dengan ucapan, ”Amiiin!”

Momentum spiritual kelima, yaitu dalam peristiwa Reformasi 1998. Ketika Sultan HB X berpuasa dan menyepi untuk mendapatkan petunjuk dan wangsit, apakah benar reformasi akan berhasil? Kemudian, ketika menyepi, Sultan HB X mendapat petunjuk, bahwa Reformasi akan berhasil bila RINGIN KEMBAR DIRUBUNG LARON. MERGO IKU TANDANE ONO NOGO DITINGGAL DEWANE.”

Tidak puas hanya menyepi, kemudian Sultan HB X berkunjung ke Blabak. Saat berkunjung ke Blabak, kegelisahan Sultan HB X dijawab oleh Pengasuh Pesantren Blabak dengan mengatakan,”Pasti berhasil, karena ini memang sudah dikehendaki yang Maha Kuasa.” Sama dengan pengorbanan dimasa lalu, banyak rakyat yang jadi Korban. Tapi, hal ini berbeda dengan masa lalu, karena di masa reformasi, ada yang menjadi korban penjarahan.

TANGGUNG JAWAB BANGSA INDONESIA

Memang, saat ini, masyarakat Indonesia tidak lagi turut melawan penjajah, seperti halnya para pahlawan kala itu. Karena itu, sekarang ini, tugas untuk para penerus bangsa adalah memberikan arti baru mengenai kepahlawanan untuk mengisi kemerdekaan Indonesia ini yang seiring dengan perkembangan zaman.

Presiden Jokowi pernah mengatakan, “Kita sebagai generasi penerus, punya kewajiban untuk meneruskan apa yang sudah diperjuangkan oleh para pahlawan di masa lalu.” Hal itu disampaikan Jokowi usai meninjau kesiapankan pasukan Kopassus di Markas Kopassus, Cijantung, Jakarta Timur, Kamis (10/11/2016).

Jokowi juga mengatakan, kewajiban warga negara adalah melanjutkan perjuangan para pahlawan. “Kewajiban kita itu memperjuangkan terus apa yang jadi cita-cita pahlawan, baik dalam memakmurkan, mensejahterakan, serta memberikan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.”

Realitanya, saat ini, kita setiap tahun mengenang berbagai macam jasa para pahlawan. Tetapi, bila dirasakan, mutu peringatan itu menurun dari tahun ke tahun. Kita sudah semakin tidak menghayati makna hari pahlawan. Peringatan yang kita lakukan sekarang, cenderung bersifat seremonial saja.

Memang, saat ini, kita tidak ikut mengorbankan nyawa seperti para pejuang di Surabaya pada waktu itu. Tetapi, tugas kita saat ini, yaitu memberi makna baru kepahlawanan dan mengisi kemerdekaan, sesuai dengan perkembangan zaman. Saat memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan, rakyat telah mengorbankan nyawanya.

Dengan berbagai dasar pemikiran tersebut, kita perlu merayakan Hari Pahlawan setiap 10 November. Tetapi, kepahlawanan tidak hanya sekedar itu saja. Dalam mengisi kemerdekaan pun, kita dituntut untuk menjadi pahlawan. Mari kita meniru semangat juang para pahlawan yang telah gugur dengan berkontribusi terhadap perkembangan bangsa Indonesia. Ini kewajiban kita bersama.

Salah satu implementasi peringatan hari Pahlawan, yaitu memahami kekuatan spiritual dalam perjuangan bangsa Indonesia. Agar kita bisa menghargai dan mengetahui siapa diri kita sebenarnya. Memahami sejarah juga perlu sebagai kekuatan hidup berbangsa dan bernegara dan menjadi landasan kokoh dan kuat, bagi nasionalisme dan keimanan kepada Tuhan yang maha Kuasa.

Memang, saat ini, masyarakat Indonesia tidak lagi turut melawan penjajah, seperti halnya para pahlawan kala itu. Karena itu, sekarang ini, tugas untuk para penerus bangsa ini adalah memberikan arti baru mengenai kepahlawanan untuk mengisi kemerdekaan Indonesia yang seiring dengan perkembangan zaman.

Dari fakta sejarah di atas, bisa kita simpulkan, ancaman pertama kemerdekaan Indonesia bukan hanya Belanda ingin menguasai kembali. Namun, sekutu yang dipimpin Amerika, memiliki kepentingan tersendiri di Indonesia. Untuk itu, kita juga harus bersikap konsisten terhadap perilaku bangsa lain, sehingga kita dapat membangun kewaspadaan dan kesiapan untuk menghadapi segala ancaman bagi bangsa Indonesia.

Kekuatan Spiritual adalah buah dan aktualisasi dari belajar sejarah dan keyakinan kita terhadap kebenaran dalam berbangsa dan bernegara Indonesia. Dengan spiritualitas, maka, kita akan menghargai berdirinya Negara Indonesia adalah sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa. Tanggung jawab kita sebagai orang beriman adalah mengargai anugerah Tuhan tersebut dengan baik dan penuh rasa tanggungjawab.

Mengenai peranan Bung Tomo dalam peristiwa 10 November di Surabaya, dapat dijadikan tauladan dan contoh sikap yang diperlihatkan oleh Bung Tomo. Antara lain berwujud cinta tanah air, serta sikap moralitas yang baik dalam berbangsa, bernegara, dan beragama. Bagi rekan-rekan mahasiswa yang berminat pada penelitian tentang peranan tokoh-tokoh lain pada peristiwa pertempuran Surabaya 10 November 1945, masih ada yang belum dikaji, seperti peran tokoh Dul Arnowo, Residen Sudirman, drg. Murtopo dan lain-lainnya.

Kepada semua pahlawan tersebut, baik yang tertacata maupun tidak tercatat, kita harus memberi tempat yang paling terhormat dalam relung sanubari kita. Pengorbanan mereka akan menjadi nyala semangat abadi dalam mempertahankan Kemerdekaan Indonesia. Pada peringatan hari pahlawan ini, mari mengukir di hati kita masing-masing, “Sekali merdeka, tetap merdeka selama-lamanya!” Jangan sampai peristiwa 10 November 1945 tidak diperingati, karena saya berani menjamin, momentum tersebut selalu membuat Amerika ketakutan, hingga kapan pun! ***

Eko Ismadi adalah Pemerhati Sejarah dan Militer

Lihat juga...