Sekolah Swasembada WC Produksi 20.000 WC

LAMPUNG – Sekolah Swasembada WC (SSW) telah melakukan pelatihan di sebanyak 8 kecamatan dari sebanyak 17 kecamatan di Kabupaten Lampung Selatan dengan pelatihan pembuatan sarana pembuatan closet dan sekaligus fasilitas jamban sehat.

Joko Hadinirekso, selaku salah satu tentara sanitasi total berbasis masyarakat (tentara STBM) menyebutkan upaya pemerintah Lampung Selatan dilakukan dengan mengajak masyarakat meninggalkan kebiasaan buang air besar sembarangan (BABS).

Sebagai upaya mendukung pemerintah Kabupaten Lampung Selatan untuk mengimplementasikan Instruksi Bupati Lampung Selatan No.1 Tahun 2017 Tentang Penyelenggaraan Swasembada WC di Kabupaten Lampung Selatan, program sekolah WC terus digencarkan di Lampung Selatan. Hingga penghujung Oktober 2017 Joko Hadinirekso menyebut, sudah ada dua kecamatan di Lampung Selatan yang sudah terbebas dari aktifitas BABS meliputi Kecamatan Tanjungsari dan Candipuro.

Joko Hadinirekso menjadi narasumber dalam sekolah swasembada WC di Lampung Selatan. [Foto: Henk Widi/Ist]
“Upaya dalam menjalankan misi melayani dengan tulus dengan hati dan terus berbagi kebaikan dengan melibatkan berbagai pihak. Juga menyediakan fasilitas sanitasi dengan gembira, termasuk memperbanyak kader tentara STBM yang selalu siap mendampingi secara terus menerus,” ungkap Joko Hadinirekso, selaku pengajar sekolah swasembada WC sekaligus tentara STBM saat dikonfirmasi Cendana News, Jumat (10/11/2017).

Keprihatinan akan banyaknya masyarakat yang belum memiliki sanitasi yang baik membuat sekolah swasembada WC terus dilakukan, berkoordinasi dengan unit pelaksana teknis Pusat Kesehatan Masyarakat (UPT Puskesmas) di beberapa kecamatan di Kabupaten Lampung Selatan meliputi sebanyak 8 wilayah kerja Puskesmas di Lampung Selatan dan sudah dilakukan sekolah swasembada WC sebanyak 6 kecamatan.

Sekolah swasembada WC yang sudah berlangsung selama satu tahun terakhir, diakui Joko Hadinirekso, bahkan telah memiliki ratusan tentara STBM atau relawan dalam pembuatan WC sehingga sebanyak 20.000 WC dan jamban sehat sudah berhasil dibuat dengan proses pencetakan. Termasuk pelatihan pembuatan jamban sehat di setiap desa yang belum memiliki sanitasi yang baik.

Pelatihan diakuinya dimulai dari proses pencetakan dengan alat yang sudah disediakan oleh sekolah WC sehingga proses pembuatan closet lebih mudah dalam sehari dengan pelatihan yang baik bisa memproduksi sebanyak 5 closet lebih. Selain itu proses pembuatan jamban sehat juga melibatkan masyarakat di wilayah pelosok yang masih memanfaatkan sungai sebagai lokasi BABS. Harapannya ke depan tahun 2018 Lampung Selatan sudah terbebas dari aktifitas BABS dan tahun 2019 tersedia sanitasi serta air bersih yang memadai bagi masyarakat.

Sebagian closet yang dibuat oleh para relawan atau tentara STBM dalam sekolah swasembada WC. [Foto: Henk Widi/Ist]
“Kita juga tanamkan bahwa pembuatan jamban sehat tidak membutuhkan biaya mahal asal ada kemauan dan koordinasi berbagai pihak,” ungkap warga Candipuro tersebut.

Kesadaran dari masyarakat untuk memiliki jamban sehat diakuinya menjadi faktor penentu suksesnya sanitasi yang baik. Terutama adanya dukungan dari Dinas Kesehatan, Tentara Nasional Indonesia dengan melibatkan anggota Babinsa dan juga para relawan STBM yang dikenal sebagai tentara STBM sehingga pembuatan WC bisa berjalan dengan baik. Seluruh masyarakat di Lampung Selatan pun bisa memiliki jamban yang sehat.

Lihat juga...