Binatang Intim dan Dunia Infantil Rayni N Massardi
RESENSI BUKU
OLEH SATMOKO BUDI SANTOSO
Sebuah buku kumpulan cerpen berjudul Awas Kucing Hilang Lalat Cintaku (Firaz Media Publisher, 2025) karya Rayni N Massardi dengan ilustrasi cakep banget karya Christyan AS telah terbit, menjawab kebutuhan rasa haus para pembaca buku fiksi di mana pun berada.

Sebuah kumpulan cerpen yang unik karena tokoh-tokoh utama pada setiap cerpen justru dipercayakan pada kehadiran sosok binatang.
Binatang tertentu seperti anjing, lalat, orangutan, kutu, ayam, cicak, kura-kura, tikus, ulat, kecoak, kucing, dan semut menjadi mempunyai otoritas, mendominasi alur kisah pada setiap cerpen.
Tentu saja kehadiran kumpulan cerpen ini langsung tertebak, lebih mempercayakan pada sudut pandang infantil atau kekanak-kanakan.
Dunia main-main, dunia keseharian yang intim sekali.
Begitu membuka cerpen pertama, misalnya, pembaca langsung disuguhi dengan kisah perihal anjing bernama Bonzo.
Seekor anjing yang digambarkan sebagai anjing berbentuk lucu.
Dideskripsikan dalam narasi cerita, kadang mukanya sepintas kayak kucing, kadang seperti marmut.
Namun, aku yakin Bonzo adalah anjing dengan wajah sangat lucu: tidak ada duanya! (halaman 2)
Bonzo pun akhirnya menghadapi kompleksitas hidup yang lumayan menantang dalam lingkungannya.
Bonzo ternyata mempunyai nilai petualangan hidup dan berkembang yang sama dengan manusia.
Kadang-kadang ia menjumpai kesialan. Kadang-kadang ia menjumpai kepahitan hidup.
Sampai akhirnya, takdir menggiring Bonzo dengan sempurna, menemui ajal indah dan nikmatnya karena terseret arus banjir.
Itulah sekilas gambaran sudut pandang dunia infantil yang disampaikan Rayni.
Menjadi iman estetika yang tak tergoyahkan dalam jalinan ragam kisah kumpulan cerpen ini.
Boleh dikata, seluruh cerpen di dalam buku ini menggunakan teknik berkisah yang sama dengan cerpen berjudul Bonzo.
Rayni mempercayakan pada tokoh binatang untuk menyampaikan pesan moral, pesan sosial, pesan edukasi, atau apa pun.
Jadi, Rayni memang sengaja mengganti tokoh utama yang lazimnya manusia menjadi berbentuk binatang.
Rayni sengaja menyodorkan republik binatang yang suka gaduh sehingga akhirnya menjadi bernilai akrobat cerita.
Dalam dunia akrobat cerita itulah keseriusan strategi berkisah dibangun Rayni secara runtut.
Boleh jadi memang bernilai absurd, namun begitulah, dunia binatang dan manusia, bukankah sebenarnya sama?
Manusia hanya tidak tahu bahasa verbal binatang dan begitu pula sebaliknya.
Namun sama-sama bisa memahami gelagatnya. Apa maunya terbaca dari gelagat.
Petualangan hidup binatang dan manusia, kebahagiaan dan kesedihannya, bukankah sebenarnya juga sama?
Boleh jadi bedanya hanya terdidik atau tidak terdidik, karena binatang yang terdidik, kesehariannya bisa cenderung mempunyai tabiat menyamai manusia, bukan?
***
Hal yang juga menarik dari kehadiran buku kumpulan cerpen ini adalah kita dapat mengintip cara Rayni dalam membungkus kisah sehingga terasa tidak membosankan.
Misalnya dengan adanya deskripsi seperti ini: Contoh Gum lalat bersayap kehijauan. Sedari dulu agak sulit mendapatkan pekerjaan tetap.
Ia lebih sering diterima kerja paruh waktu. Sedangkan tanggungannya banyak: 50 sampai 60-an ekor lalat: anak, ponakan, ipar…
Gaya berkisah dengan pendekatan perumpamaan semacam inilah yang juga menggelayuti seluruh cerpen sehingga pembaca selamat dari kejenuhan.
Strategi narasi yang jitu untuk ditempuh, menjadikan kisah yang ada menjadi bernilai tidak terlalu menggurui. Pokoknya, relatif selamat dari jebakan klise dan monoton.
Saya sendiri merasakan adanya pengalaman pembacaan yang juga tidak berat. Tidak membutuhkan penafsiran berbelit.
Sebenarnya, sebagaimana pada umumnya cerita, apa yang disampaikan dalam setiap cerpen adalah substansi dinamika kehidupan itu sendiri.
Namun di tangan Rayni bisa tersampaikan dengan renyah, gurih, sepenuh kaldu, dan amat riang gembira.
Persoalan yang dijalani pun terasa seperti bukan lagi persoalan. Meskipun yang terpaparkan adalah tragisme.
Namun ada satu hal yang bagi saya tetap mengundang tanya.
Kenapa pilihan binatang sebagai tokoh utama dalam setiap cerpen adalah binatang cenderung piaraan? Bukan binatang buas?
Saya membayangkan, bagaimana seandainya Rayni memilih tokoh binatang di dalam cerpen-cerpennya adalah binatang buas dan ganas?
Kenapa bukan ular kobra, misalnya, dan binatang buas atau ganas lainnya?
Boleh jadi, ini adalah tantangan Rayni dalam berimajinasi selanjutnya.
Apakah akan terbit sekuel khusus buku kumpulan cerpen berikutnya dengan imaji tokoh binatang buas dan ganas?
Menghadirkan tokoh binatang yang jauh lebih ganas, menggambarkan bagaimana ular mengeluarkan bunyi derik, misalnya.
Atau mendeskripsikan saat ular mengalami fase berganti kulit dan tiba-tiba datang kemudian mengambil posisi melingkar di sebelah kaki kanan, saat ada manusia tidur.
Saat manusia itu bangun tidur, ternyata ular itu sudah tidak ada, namun tertinggallah kulitnya…
Sejauh ini, karya-karya Rayni memang sudah cukup banyak.
Cerpen-cerpennya juga ada yang dimuat di buku kumpulan cerpen Kompas Laki-laki yang Kawin dengan Peri (1995), dan kumpulan cerpen Kompas Riwayat Negeri yang Haru (2006).
Kumpulan cerpen tunggalnya yang pernah terbit misalnya Istri Model Baru (1990), Pembunuh (2005), I Don’t Care (2008), dan Terima Kasih, Anakku (2012). ***
Satmoko Budi Santoso, sastrawan, tinggal di Yogyakarta