Sastrawan Satmoko Budi Santoso Terima Anugerah Kebudayaan, Diserahkan Gubernur DIY di Kepatihan

YOGYAKARTA – Sastrawan Satmoko Budi Santoso menerima Anugerah Kebudayaan 2024 program Dinas Kebudayaan DIY yang diserahkan Gubernur DIY, Sri Sultan HB X, di Pendopo Kepatihan, Yogyakarta, Kamis (28/11/2024) pagi.

Selain sastrawan Satmoko Budi Santoso, ada 27 pelaku budaya lainnya yang juga menerima Anugerah Kebudayaan 2024 sesuai dengan bidang keahliannya masing-masing.

27 pelaku budaya tersebut di antaranya: Soimah Pancawati, Daud Aris Tanudirdjo, Matheus Sal Murgiyanto, Agus Dermawan T, FM Djamis Carolina, Suharjoso SK, Nur Ahmadi, Abdul Rachman, Zainal Arifin, Wasiran, Theresia Mujinah, Suti Rahayu, Y. Sutopo, Priyana Jatmika Salim, RM Nurhadi, Y. Sumandiyo Hadi.

Dari kanan ke kiri: sastrawan Satmoko Budi Santoso, FM Djamis Carolina, Agus Dermawan T, Sal Murgiyanto, dan Daud Aris Tanudirdjo. Foto: Istimewa

 

Selain itu adalah Forum Film Dokumenter, RM. H. Gembong Danudiningrat, Bekti Budi Hastuti, Afif Syakur, Nyoman Kertia, Awit Radiani, Perpustakaan Universitas Sanata Dharma, Agus Budi Nugroho, Joko Kuncoro, Anom Sucondro, dan R Sujarwanto.

Menurut Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Laksmi Pratiwi, adanya penghargaan ini diharapkan dapat memacu semangat para pegiat maupun pelaku kebudayaan untuk terus konsisten dalam berkarya, juga melaksanakan aksi-aksi pemeliharaan dan pengembangan kebudayaan yang ada di DIY.

Di sisi lain Gubernur DIY, Sri Sultan HB X, memaparkan bahwa dengan adanya momen penghargaan ini dapat menjadi pengingat bahwa kebudayaan merupakan pondasi yang kokoh dari kehidupan sosial kita.

Para pelaku budaya yang mendapatkan Anugerah Kebudayaan 2024 berfoto bersama. Foto: Istimewa

 

“Kebudayaan adalah identitas yang menyatukan dan memperkuat kita sebagai masyarakat. Lebih dari itu kebudayaan adalah sumber inspirasi dan daya kreativitas yang tiada habisnya,” papar Gubernur DIY.

Pemberian penghargaan kepada para pelaku budaya di DIY ini merupakan tradisi tahunan yang digelar Dinas Kebudayaan DIY.

Banyak buku sudah dihasilkan sastrawan Satmoko Budi Santoso, baik kumpulan cerpen, kumpulan esai, maupun novel.

Sastrawan Satmoko Budi Santoso (kiri) bersama Kepala Dinas Kebudayaan Bantul, Yanatun Yunadiana. Foto: Istimewa

 

Beberapa di antaranya misalnya kumpulan cerpen Perempuan Bersampan Cadik, novel Kasongan, kumpulan esai Ritual Karnaval Sastra Indonesia Mutakhir, novel Ciuman Terpanjang yang Ditunggu, novel Kutukan Rahim, kumpulan cerpen Uang yang Terselip di Peci, dan lain-lain.

Cerpen-cerpen Satmoko Budi Santoso juga sudah ada yang diterjemahkan ke bahasa Inggris dan bahasa Slovenia.

Buku kumpulan cerpen Uang yang Terselip di Peci bahkan digunakan sebagai bahan pembelajaran bahasa Indonesia oleh Akiko Iwata, dosen Fakultas Bahasa Asing, Universitas Meijo, Nagoya, Jepang.

Sebagian cerpen di dalam buku tersebut memang mengenai budaya lokal di Indonesia, misalnya mengangkat cerita tentang keris dan wayang. ***

Lihat juga...