CIREBON — Petani garam asal Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, memanen garam mereka lebih cepat dibandingkan dengan biasanya untuk menghindari kerugian akibat memasuki musim hujan.
“Kalau dipanennya seperti biasanya yaitu lima hari, sekarang tidak bisa, karena kami takut merugi ketika turun hujan yang membuat garam akan hancur,” kata seorang Petani Garam Cirebon, Tono (60), di Cirebon, Senin (9/10/2017).
Dia mengatakan saat ini garam yang diolahnya harus secepat mungkin dipanen dan untuk sekarang dua hari diolah langsung dipanen, karena dikhawatirkan rusak.
Akibatnya, kata Tono, garam yang dihasilkan tidak berkristal besar, namun lebih kecil dan hasilnya pun tidak seperti ketika diolah selama lima hari.
Meskipun demikian harga garam tidak terpengaruh, baik yang diolah selama lima hari maupun hanya dua hari.
“Harganya sama saja tidak ada pengaruhnya,” tuturnya.
Sementara itu petani lain, Tawa (45) mengatakan dengan kondisi saat ini yang biasa panen perpetak mendapatkan 12 karung seberat 60 kilogram, sekarang hanya bisa mendapatkan empat sampai lima karung saja, karena kurang lama dalam memprosesnya.
“Biasanya sepetak bisa dapat 12 karung dengan dipanen dini paling empat karung saja,” katanya.
Sedangkan untuk harga garam ditingkat petani sekarang sudah mulai berangsur naik, dari sebelumnya Rp750 per kilogram menjadi Rp1.300 dan ini tentu membuat para petani bisa tersenyum lebar.
“Sekarang harganya lagi naik, per kilogramnya kita jual Rp1.300,” kata Tawa lagi.[Ant]