Olahan Daun Kelor Diharap Jadi Maskot Desa Mandiri Lestari Trirenggo

YOGYAKARTA — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Kelompok Wanita Tani (KWT) Ngudi Rejeki, berharap produk olahan daun kelor bisa menjadi maskot Desa Mandiri Lestari Trirenggo, Bantul. Pasalnya olahan tersebut memiliki potensi besar untuk dikembangkan sekaligus menjadi ciri khas desa Trirenggo agar semakin dikenal luas.

Hal itu diungkapkan Sekretaris sekaligus motor KWT Ngudi Rejeki, Siti Haida kepada Cendananews, Rabu (11/10/2017).

Untuk bisa mewujudkan hal tersebut ia berharap Yayasan Damandiri melalui program Desa Mandiri Lestari di desa Trirenggo dapat mendorong pengembangan usaha olahan daun kelor produksi KWT Ngudi Rejeki.

“Saya berharap daun kelor dengan semua produk olahanya bisa menjadi maskot Desa Mandiri Lestari Trirenggo. Yakni dengan menjadikan kawasan desa sebagai plasma kelor. Di pinggir jalan-jalan desa, gang-gang kampung, atau depan rumah warga ditanam kelor,” ujarnya.

Selain menggerakkan masyarakat, hal yang juga harus dilakukan menurut Haida adalah membesarkan KWT Ngudi Rejeki agar usaha olahan daun kelor semakin berkembang dan maju. Selama beberapa tahun berdiri, perkembangan usaha telah berkembang pesat.

Terdapat sebanyak 18 produk olahan daun kelor mulai dari teh, kopi, tepung, keripik, onde-onde, hingga yang terbaru kapsul daun kelor. Memiliki 19 anggota yang terdiri dari 4 orang tenaga produksi dan 15 pemasok daun kelor, KWT Ngudi Rejeki telah mampu memproduksi 10 kilogram daun kelor kering, untuk dipasarkan ke berbagai daerah baik dijual secara langsung maupun online.

Berbagai pameran UKM rutin diikuti KWT Ngudi rejeki untuk memasarkan. Produk mereka juga telah dikenal tak hanya dari wilayah Bantul saja namun hingga ke luar daerah. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya tamu atau pengunjung yang sengaja datang untuk belajar ke KWT Ngudi Rejeki bagaimana mengolah daun kelor.

“Kendala kita saat ini lebih pada proses produksi. Dimana masih dilakukan secara manual. Pengeringan kita masih menggunakan bantuan matahari. Pengemasan teh juga manual. Sehingga kita berharap ada bantuan alat, terutama mesin pengering, sehingga proses bisa lebih cepat dan hasil warna lebih menarik,” katanya.

Sejak adanya pencanangan Desa Mandiri Lestari di desa Trirenggo, pengurus KWT Ngudi Rejeki sendiri telah dilatih dan dibina melalui berbagai diklat dan pelatihan yang diadakan Yayasan Damandiri. Mulai dari pelatian menyangkut pembuatan kemasan, mutu produk, managemen dan pembukuan, hingga soal pemasaran. Melalui program Tabur Puja, kelompok ini nantinya juga diberikan kesempatan mendapatkan bantuan modal usaha.

“Bantuan berupa hibah alat belum ada. Pelatihan terkait public speaking juga belum ada. Kita membutuhkan pelatihan itu agar bisa meyampaikan dengan baik. Apalagi kita sering diundang ke berbagai acara untuk menerangkan usaha pengolahan daun kelor ini,” katanya.

Seorang pelajar tengah melintas dengan sepeda di depan warung KWT Ngudi Rejeki/Foto: Jatmika H Kusmargana

Selain itu, KWT Ngudi Rejeki juga berharap adanya pendampingan untuk inovasi teknologi agar produk olahan daun kelor yang dihasilkan semakin beragam dan berkualitas. Yakni dengan cara membantu mengkoneksikan KWT Ngudi Rejeki dengan lembaga tetkait

“Selama ini kita belajar sendiri dari cari-cari di internet. Sebenarnya masih banyak bagian daun kelor yang bisa dimanfaatkan. Tidak hanya daunnya saja. Tapi juga batangnya, misalnya untuk bahan kosmetik dan kecantikan. Namun kita belum mampu karena belum memiliki ilmunya,” katanya.

Lihat juga...