Pekan Suro, Gelora Budaya Spiritual di TMII

JAKARTA — Manager Budaya Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jaya Purnawijaya mengatakan, visi TMII adalah melestarikan dan mengembangkan budaya, dan salah satu tradisi kebudayaan adalah budaya spiritual.

“TMII ingin mengelorakan budaya spiritual melalui Pekan Suro atau selamatan,” ujar Jaya dalam konferesnsi pers di Perpustakaan TMII, Jakarta, Kamis (14/9/2017).

Menurut Jaya, kegiatan selamatan menjadi tradisi hampir seluruh kehidupan masyarakat di Indonesia. Bagi masyarakat Jawa diyakini malam Suro sebagai malam penuh berkah. Itu sebabnya di dalam menyambut kalender Jawa, TMII selalu memperingati 1 Suro atau Tahun Baru Islam dengan doa melalui upacara Selamatan Agung yang bertempat di Pondopo Sasana Utama dengan membawa tumpeng, hasil bumi dan berbagai jenis makanan yang nantinya akan dibagikan kepada masyarakat atau pengunjung.

Sejarah ritual Suro, jelas dia, sudah dimulai sejak zaman Sultan Agung pada tahun saka 78 dimana tahun Jawa satu suro dimulai pada 1 Muharram 1043 dalam tahun Hijriah 8 Juli 1633. Sultan Agung kemudian menggabungkan kalender Hindu dan Jawa menjadi satu pada malam 1 Suro. Jatuh pada tanggal 21 September, disebut dengan kalender Jawa Ritual Suro dianggap sakral karena tidak hanya orang Jawa yang memperingatinya.

Namun, kata Jaya, seluruh provinsi mengakui ritual Suro ini, seperti Bengkulu, dimana sudah sejak lama peringati tradisi Tabot, Sumatera Barat khususnya Kabupaten Padang Pariaman ritual Tabuik. Kedua ritual dilakukan dengan proses yang sama yaitu sesajen dibuang ke laut.

Setelah selamatan kemudian berlanjut dengan Kirap yaitu dengan cara berjalan kaki keliling area TMII membawa tumpeng, hasil bumi dan pusaka dengan tujuan untuk menyatukan alam dan lingkungan pada malam menjelang memasuki tanggal 1 Suro. Kirap yang membawa tumpeng itu akan diawali dengan arak-arakan penari edan-edanan, penari Sumbamanggala dan Manggalayuda.

Acara diakhiri dengan Ngalap Berkah yaitu berebut tumpeng dan makan bersama. ” Pekan Suro ini diikuti oleh semua anjungan dan penghayat. Mereka juga akan membawa tumpeng dan hasil bumi, yaitu sayuran dan buah-buahan. Ada 100 tumpeng yang akan didoakan, lalu dibagikan untuk disantap bersama,” ungkap Jaya.

Pekan Suro juga dimeriahkan dengan Festival Dalang Bocah di Candi Bentar, pada 21-23 September 2017 yang diikuti 29 peserta dari 10 provinsi. Selanjutnya, Parade Musik Daerah ke 6 yang diikuti 18 peserta, digelar di Sasono Langen Budoyo, pada 22 September 2017. Tanggal 23 September 2017, yaitu gelaran wayang kulit Sanggar Putro Pandowo, di Candi Bentar TMII.

Adapun 7 Oktober 2017, kata Jaya, adalah Ruwatan Sukerto bertempat di panggung Candi Bentar dengan dilanjutkan wayang kulit berlakon “Murwakala” tampilan dalang KM Arum Anjangmas Kenyo Warsito.

“Ruwatan ini gratis, bagi masyarakat yang mau ikut silahkan daftar ke Museum Pusaka TMII. Tapi ruwatan ini hanya untuk 100 orang,” pungkas Jaya.

Lihat juga...