Indonesia Tumpuan Pengukuran Air Berkualitas di Asia Pasific

BOGOR – Indonesia dalam hal ini Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menjadi tumpuan dalam pengukuran air berkualitas di wilayah Asia Pasifik. Kemampuan teknologi yang dimiliki memiliki Indonesia di bidang air bersih dinilai cukup mumpuni.

Pernyataan tersebut muncul dalam acara Asia Pasific Metrology Program (APMP) di Bogor, Jawa Barat, Selasa (19/9/2017). APMP adalah organisasi metrologi regional yang diakui oleh Komite Internasional Takaran dan Satuan atau “International Committee for Weights and Measures (CIPM) untuk pengakuan bersama di seluruh dunia mengenai standar pengukuran dan sertifikasi kalibrasi dan pengukuran.

“Indonesia ditunjukkan untuk membidangi salah satu program dari Asia Pasific Metrology Program (APMP) untuk menyelenggarakan simposius internasional tentang pengukuran kualitas air,” kata Kepala Pusat Penelitian Metrologi, LIPI Mego Pinandito usai Simposium Internasional APMP di Bogor, Jawa Barat.

LIPI secara khusus mengangkat persoalan air karena dinilai memiliki kemampuan teknologi dalam pengelolaan air. Apa yang sudah dihasilkan di Indonesia nantinya akan dibagikan ke negara-negara di Asia Pasifik. Sebagai “focal point” dalam simposium internasional metrologi selain untuk menetapkan standar kualitas air baik untuk di Indonesia dan juga di negara-negara Asia Pasifik. Juga menjadi ajang saling berbagi pengalaman dan bertukar informasi pengelolaan air di negara-negara maju seperti Jerman, Tiongkok dan Korea Selatan.

“Kami mencoba mengadopsi apa yang sudah dijalankan di negara maju, kalau itu cocok yang kita coba terapkan,” katanya.

Dalam pengukuran kualitas air lanjut Mega perat metrologi sangat penting. LIPI memiliki satua kerja Puslit Metrologi yang memiliki fokus kegiatan pada metrologi fisika dan kimia. Pengukuran kualitas air masuk dalam metrologi kimia. Untuk air dikatakan berkualitas baik, salah satu ukurannya adalah kualitas Ph (derajat keasaman) untuk standar internasional nilainya tujuh persen.

“Saat ini ph air di Indonesia belum mencapai tujuh persen, ini yang perlu kami standarkan, agar kualitas air dalam negeri dapat mengaku pada standar internasional,” katanya.

Plt Kepala LIPI Prof Bambang Subiyanto menyebutkan LIPI memiliki perhatian tinggi terhadap air, melihat dari mulai hulu sampai hilirnya, untuk menghasilkan air yang berkualitas bagi masyarakat. LIPI telah membantu untuk meningkatkan kualitas air di Pulau Bangka Barat. Sebuah lokasi bekas tambang, apabila kemarau tingkat ph nya empat persen, dan kalau musim hujan menjadi lima.

Menurut Bambang persoalan air sangat krusial, selain masuk dalam target pembangunan nasional juga menjadi target SDGs 2030 yakni air bersih dan sanitasi. Ini yang mendorong LIPI untuk mengangkat persoalan air. Dalam mengukur kualitas air peran metrologi sangat penting, untuk menguji kualitas air dan produk-produk ekspor pertanian. Karena sejumlah negara di dunia memiliki standarirsasi, sehingga tak jarang banyak produk Indonesia tidak bisa masuk pasar internasional.

“Standarisasi pengukuran kualitas air menjadi penting, agar kualitas air Indonesia memiliki daya saing, serta masyarakat mendapat jaminan terhadap layanan air bersih berkualitas,” kata Bambang.

Simposium tersebut menghadirkan sejumlah pembicara kunci di antaranya Ulrich Borchers dari PTB, Jerman, Prof Ma Liandi dari APMP TCQM Chair, dr Sonny P Warauw, Kepala Subdirektorat Air dan Hanitasi, Kementerian Kesehatan, dan Plt Kepala LIPI Prof Bambang Subiyanto.

Kegiatan ini dihadiri oleh tujuh negara delegasi APMP yakni Korea Selatan, Singapura, Tiongkok, Malaysia, Filiphina, Bangladesh, dan Indonesia. Selain itu pemangku kepentingan lainnya yang berasal dari 90 laboratorium pengujian, dan instansi yang terkait di seluruh Indonesia.

Selain simposium juga digelar workshop dan pertemuan grup terarah APMP yang mengangkat tema “air berkualitas untuk hidup yang berkualitas” atau “quality water for quality life” yang berlangsung sekama dua hari 19-20 September 2017. (Ant)

Lihat juga...