CERPEN WAYAN SUNARTA
Mangku Gejor termenung di beranda rumahnya. Angin senja berhembus perlahan, menebarkan harum bunga-bunga kenanga. Mangku Gejor menghisap rokoknya perlahan. Kopi dalam cangkir telah dingin karena tak disentuhnya dari tadi.
Pucuk-pucuk kenanga bergoyang ditiup angin. Pikiran Mangku Gejor makin tak menentu. Dia kembali teringat permintaan cucu kesayangannya, Wayan Darya. Sesungguhnya, permintaan cucunya sangatlah sepele. Dan, semestinya Mangku Gejor bisa memenuhinya.
Wayan Darya tidak meminta Mangku Gejor untuk menjual tanah, lalu membeli mobil, seperti kelakuan teman-teman sebayanya yang suka memamerkan harta warisan orang tua. Meski Mangku Gejor memiliki tanah yang siap dijual kapan pun dia mau, cucunya cukup metilesan raga, tahu diri, untuk tidak menggerogoti harta warisan. Wayan Darya hanya meminta sebuah cincin. Ya, sebuah cincin!
Meski hanya sebuah cincin, permintaan Wayan Darya telah membuat Mangku Gejor tak bisa tidur. Seandainya cucunya meminta mobil, tentu Mangku Gejor dengan mudah memenuhinya, semudah membalikkan telapak tangan. Tapi, yang diminta cucunya adalah sebuah cincin pusaka yang tersimpan di pelangkiran, di kamar suci Mangku Gejor.
Sudah tiga hari Wayan Darya tak pulang ke rumah. Mangku Gejor makin prihatin dan cemas dengan keadaan cucunya. Mangku Gejor kembali teringat percakapan sebelum cucunya menghilang dari rumah.
“Kek, saya dengar-dengar, katanya kakek punya cincin pusaka, ya?” Wayan Darya menghampiri kakeknya yang baru keluar dari kamar suci.
“Tidak. Kakek tidak punya cincin pusaka. Siapa yang bilang?” Mangku Gejor merangkul cucu kesayangannya, dan mengajaknya duduk di beranda rumah.
“Ah, kakek jangan bohong. Orang-orang tua di desa ini banyak yang bilang begitu.”
Mangku Gejor berusaha menahan diri. Dia tidak ingin cucunya tahu siapa sebenarnya dirinya di masa lalu. Perasaan bersalah terus menghantui hidup Mangku Gejor. Dan, dia khawatir hukum karmaphala akan menimpa cucunya akibat perbuatan buruknya di masa lalu.
“Kenapa kakek tak pernah cerita tentang masa lalu kakek? Saya bangga padamu, Kek. Kakek ternyata orang pemberani yang disegani di desa ini,” ujar Wayan Darya dengan wajah bangga.
Mangku Gejor diam hening, sembari berusaha menduga-duga arah pembicaraan cucunya.
“Banyak orang bilang, kakek dulu jagoan, kebal berbagai jenis senjata. Orang-orang juga bilang, kakek dulu pemimpin tameng yang disegani di desa ini. Tameng itu apa, Kek? Apa sejenis laskar, atau ormas yang saya ikuti sekarang?” Wayan Darya kembali melontarkan kebanggaannya.
Mangku Gejor merunduk. Dia berusaha menyembunyikan kelopak matanya yang mulai basah. Keriput-keriput di wajahnya makin jelas terlihat. Ringis wajah-wajah kesakitan dari bongkah-bongkah kepala yang telah dipisahkan dari badannya kembali menyeruak, seakan memenuhi beranda rumahnya. Mangku Gejor menggeleng-gelengkan kepalanya, sembari dalam hati berkata, “Tidak… tidak.. tidak….” Dia berusaha menepis masa silamnya.
Wayan Darya menatap kakeknya dengan heran. “Kakek kenapa?”
“Wayan, kamu jangan percaya ocehan orang-orang tua yang pikun itu,” ujar Mangku Gejor dengan wajah yang masih menunduk, seakan beban masa lalu kembali menimpa dirinya.
“Kenapa kakek bilang mereka pikun? Mereka teman-teman seperjuangan kakek ‘kan? Bukankah mereka pahlawan, sama dengan kakek, yang ikut memberantas orang-orang komunis dari desa ini?”
“Wayan, sudahlah. Cukup!” bibir keriput Mangku Gejor bergetar. Wajahnya memelas.
“Mengapa kakek jadi lemah begini? Kenapa kakek tidak bangga dengan masa lalu kakek yang hebat itu?” Wayan Darya tak bisa menyembunyikan keheranannya.
Mangku Gejor diam bagai patung antik di beranda rumahnya. Bibir keriputnya masih bergetar. Dia berusaha menahan kata-kata agar tak terlontar dari bibirnya.
“O, ya, sekarang saya telah meneruskan perjuanganmu, Kek, menjaga tanah Bali. Saya ikut ormas, Kek. Teman-teman saya badannya kekar-kekar. Cuma saya yang masih kerempeng. Makanya, saya berharap kakek menganugerahi saya cincin pusaka itu, untuk jaga diri, Kek,” Wayan Darya terus mengoceh.
Mangku Gejor terkesiap. Dia tidak suka jika cucunya ikut-ikutan masuk dalam kelompok atau ormas ini-itu. Baginya, itu hanya akan mengulang sejarah pertumpahan darah di Bali, yang pernah dialaminya dulu. Sungguh, Mangku Gejor berusaha berdamai dengan dirinya. Dia sangat menyesali perbuatannya di masa lalu. Cincin pusaka itu telah disimpannya di pelangkiran. Kelewang yang dulu haus darah telah dia buang ke laut.
Sepuluh tahun lalu, setelah terus menerus dihantui mimpi buruk, Mangku Gejor meluasin, bertanya ke balian, orang pintar, di desa tetangga. Menurut petunjuk niskala, alam gaib, balian menasehati agar cincin dengan permata putih bening yang sering dikenakannya, sebaiknya dilepaskan dan disimpan di pelangkiran. Cincin itu tak boleh diwariskan kepada siapa pun, karena mengandung kutukan, dan akan memakan korban jika dipakai oleh keturunannya. Balian kemudian menasehati agar Gejor melukat, meruwat batin, di tujuh sumber mata air suci.
Sejak minta petunjuk pada balian, kehidupan Gejor menjadi lebih tenang dan damai. Dia pun semakin rajin tangkil, bersembahyang, ke berbagai pura di seantero Bali, bahkan luar Bali. Oleh keluarga besarnya, dia kemudian dibuatkan upacara pewintenan dan dinobatkan sebagai pemangku Pura Dadia. Maka sejak itulah Gejor, yang dulu ikut dalam barisan tameng dan ditakuti, bergelar Jro Mangku Gejor. Dia telah mengabdikan dirinya di jalan dharma, jalan Tuhan.
“Wayan, kakek tidak suka kamu ikut-ikutan ormas. Lebih baik kamu kuliah yang rajin. Jangan tiru ayahmu yang jadi pemimpin ormas, tapi mati mengenaskan dikeroyok ormas lain. Kematian ayahmu sudah cukup membuat kakek bersedih,” nasihat Mangku Gejor.
“Tapi, Kek, ayah meninggal tidak sia-sia. Dia membela desa kita dari serbuan ormas lain. Justru saya ingin melanjutkan perjuangan beliau. Jika kakek sayang pada saya, berikanlah cincin pusaka itu. Cincin itu akan menjaga saya dari hal-hal yang tidak kita inginkan,” bujuk Wayan Darya.
“Kamu keras kepala seperti ayahmu! Dulu, ayahmu bersikeras ingin memiliki cincin itu. Dan, kakek sungguh menyesal telah mengijinkannya memakai cincin itu. Tapi, akhirnya apa? Karena dia merasa dirinya kebal, dia menjadi sombong dan angkuh. Dia mati sia-sia. Kekuatan cincin itu akan luntur jika digunakan untuk kesombongan,” Mangku Gejor berusaha meyakinkan cucunya.
Wayan Darya tercenung. Mangku Gejor terdiam, namun pikirannya terkenang kembali akan peristiwa tragis yang menimpa anak lelakinya, dua puluh tahun lalu, ketika Darya masih bocah. Meski sangat bersedih, Mangku Gejor berusaha mengambil hikmah dari kejadian itu. Mungkin itu bagian dari karmaphala yang menimpa dirinya.
“Tapi, Kek, saya berjanji akan selalu menjalani nasehat kakek. Meski saya ikut ormas, saya tak pernah sombong dan angkuh. Justru saya setia pada kawan, dan berusaha membela mereka jika terjadi perkelahian. Bukankah itu sebagai bentuk jiwa ksatria, Kek?”
Wayan Darya tetap kukuh pada pendiriannya. Darya telah terobsesi dengan cincin itu, sejak orang-orang tua di desa mengatakan kakeknya punya cincin pusaka yang berkhasiat kekebalan. Tapi, Wayan Darya akhirnya tahu, bujuk rayu dan rengekannya tak akan mempan. Dia terus memutar otak dan menyusun rencana untuk bisa mendapatkan cincin itu.
“Wayan, itu cincin pusaka. Kakek menyucikannya di pelangkiran. Tidak boleh dipakai sembarangan. Cincin itu sangat tenget, sangat angker,” ujar Mangku Gejor, masih terus berusaha menasehati cucu kesayangannya.
“Iya, sudahlah, Kek. Jika kakek tetap bersikukuh tak mau memberikan cincin itu pada saya, ya, sudah, saya tak apa-apa. Tapi, saya akan tetap bergabung dalam ormas itu. Dan, Kakek tak perlu khawatirkan saya,” ujar Darya.
Itulah kata-kata terakhir yang diucapkan Darya, sebelum dia menghilang dari rumah.
Mangku Gejor menghela nafas. Berkali-kali dia menghisap rokoknya. Asap mengepul berbaur aroma bunga-bunga kenanga yang ditiup angin senja. Pikirannya tertuju pada cincin bermata putih bening yang disimpannya di pelangkiran kamar sucinya. Dia terkenang pada pemilik cincin itu.
Dulu, di masa G30S/PKI, di desa tetangga Gejor ada seorang pemangku yang masih muda. Pemangku itu sering dipanggil Jro Mangku Alit. Gejor berkawan akrab dengan pemangku muda itu. Namun, Jro Mangku Alit terbukti komunis oleh pemangku lain yang lebih tua. Pasukan tameng di desa itu menangkap Jro Mangku Alit, lalu diserahkan pada pasukan tameng di desa sebelah yang dipimpin Gejor. Jro Mangku Alit ditangkap saat memimpin persembahyangan di sebuah pura di desanya.
Malam harinya, dengan mata ditutup dan tangan diikat, pemangku yang menjadi gembong komunis itu dibawa ke kuburan untuk dihabisi. Diterangi lampu senter, mata kelewang yang berkilat menyambar leher pemangku itu. Tubuhnya ditombak dan dibacok. Namun, anehnya, tak ada setetes darah pun yang mengucur. Tubuhnya masih utuh tanpa luka. Setelah berusaha berkali-kali, seperti mencincang batang pisang, anak buah Gejor pun kewalahan.
“Jika desa menginginkan saya mati, baiklah, saya siap mati. Biarkan saya berdua bersama Gejor. Ada yang ingin saya sampaikan,” ujar Jro Mangku Alit dengan tenang. Gejor memberi isyarat kepada para anak buahnya agar menyingkir dan membiarkan mereka berdua.
“Gejor, kita bersahabat sejak lama.”
“Maafkan saya, Jro. Saya tak punya pilihan lain. Saya hanya menjalankan tugas dari desa. Kamu telah bersalah sebagai seorang pimpinan PKI yang berniat melakukan kudeta dan akan membantai para pemuka agama. Maafkan saya…” ujar Gejor dengan perasaan tak menentu.
Jro Mangku Alit memahami perasaan sahabatnya itu. Dia tidak menyalahkan Gejor.
“Baiklah. Buka cincin di jari saya. Kamu simpan sebagai tanda persahabatan kita. Sekarang, saya siap mati di tanganmu untuk membayar kesalahan saya,” ujar Jro Mangku Alit, lirih.
Gejor melepas cincin dari jari manis sahabatnya. Kemudian, setelah berdoa dan meminta maaf, Gejor memeluk Jro Mangku Alit sembari membenamkan belati ke jantungnya. Darah muncrat membasahi tubuh keduanya. Jro Mangku Alit meregang nyawa dalam pelukan sahabatnya. Dengan separuh sedih, Gejor memerintahkan anak buahnya untuk mengubur mayat Jro Mangku Alit secara terhormat. Sejak itu, tersiar kabar, Gejor berhasil membunuh pimpinan komunis di Bali yang memiliki ilmu kebal. Gejor pun semakin disegani warga desa.
***
Senja makin paripurna. Dengan tertatih, Mangku Gejor melangkah ke kamar sucinya. Sejenak, dia bersemadi menenangkan pikiran yang kacau. Kemudian, hatinya tergerak untuk memeriksa cincin yang dibungkus kain putih di pelangkiran. Betapa terkejutnya Mangku Gejor. Cincin itu telah raib.
“Darya… Pasti Darya…!” wajah Mangku Gejor pucat pasi. Jantungnya berdegup kencang. Tubuhnya gemetar. Dia duduk lemas di sudut kamar sucinya. Pikirannya makin kalut. Dia cemas jika cincin itu disalahgunakan oleh cucu kesayangannya.
Cincin itu selalu mengingatkan Mangku Gejor atas Jro Mangku Alit yang kembali terlintas, silih berganti dengan cipratan darah yang membasahi tubuhnya. ***
Wayan Sunarta lahir di Denpasar, 22 Juni 1975. Lulusan Antropologi Budaya, Fakultas Sastra, Universitas Udayana. Buku kumpulan cerpennya: Cakra Punarbhawa (Gramedia, 2005), Purnama di Atas Pura (Grasindo, 2005), Perempuan yang Mengawini Keris (Jalasutra, 2011). Buku kumpulan puisinya: Pada Lingkar Putingmu (Bukupop, 2005), Impian Usai (Kubu Sastra, 2007), Malam Cinta (Bukupop, 2007), Pekarangan Tubuhku (Bejana, 2010), Montase (Pustaka Ekspresi, 2016). Novelnya: Magening (Kakilangit Kencana, 2015). Kini, Wayan aktif mengelola Jatijagat Kampung Puisi (JKP-109), sebuah komunitas seni di Denpasar.
Redaksi menerima kiriman cerpen dari pembaca. Tema bebas yang pasti tidak SARA. Lengkapi naskah dengan fotokopi identitas diri dan nomor ponsel. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com