Air Hujan dan Belik Jadi Tumpuan Warga Pulau Rimau Balak Lampung

LAMPUNG — Air hujan menjadi berkah tersendiri bagi sekitar 97 kepala keluarga Pulau Rimau Balak yang tinggal di Dusun Sukamaju, Gusungberak, Kampung buah dan Peritaan, Desa Sumur Kecamatan Ketapang sebagai salah satu cara memenuhi kebutuhan sehari hari untuk aktifitas mandi, cuci dan kakus (MCK).

Santi, salah satu warga Dusun Gusungberak menyebutkan, sebagian besar warga Pulau Rimau Balak saat musim kemarau, tepatnya dalam dua bulan terakhir kesulitan air bersih akibat mata air yang mulai menyusut debitnya.

Sebagian warga masih memanfaatkan air laut untuk mencuci di dekat Pulau Rimau Balak Lampung Selatan [Foto: Henk Widi]
Ia bersama warga lainnya memanfaatkan hujan deras yang terjadi selama dua hari terakhir dengan ditampung menggunakan drum drum plastik dan akan dimanfaatkan untuk mencuci dan mandi.

Selain air hujan, kebutuhan air bersih saat ini juga mengandalkan belik penampung air dari lereng pulau, meski dalam beberapa bulan kondisi air berwarna kecoklatan dengan debit air yang mulai menyusut.

“Kalau musim hujan sebagian warga masih bisa memanfaatkan air dari belik atau melakukan proses pipanisasi dari sumber air yang dialirkan ke rumah warga namun musim kemarau membuat pasokan menyusut sehingga untuk minum kami membeli air bersih dari Pulau Sumatera,” beber Santi yang ditemui Cendana News tengah mengambil air bersih untuk kebutuhan mencuci dalam beberapa ember berukuran besar di samping rumahnya yang berhadapan dengan laut, Kamis (28/9/2017).

Belik yang dimanfaatkan warga Dusun Gusungberak Desa Sumur Kecamatan Ketapang yang berada di Pulau Rimau Balak untuk kebutuhan air bersih [Foto: Henk Widi]
Sebuah belik berukuran besar yang selanjutnya dibuat pagar dari batu bata yang disemen hingga saat ini masih dimanfaatkan oleh sebagian ibu rumah tangga untuk mandi, mencuci bahkan dibawa pulang menggunakan jeriken.

Dina,warga Dusun Gusungberak Pulau Rimau Balak yang memanfaatkan belik untuk keperluan mencuci [Foto: Henk Widi]
Dina, warga lain mengungkapkan keluarganya pernah mencoba membuat sumur di dekat pantai meski air yang dihasilkan payau dan hanya bisa dipergunakan untuk keperluan mencuci dan mandi. Sementara belik yang terbentuk secara alami mengeluarkan air tawar.

“Kalau sekedar untuk mencuci dan mandi sumur air payau yang ada masih bisa digunakan sementara untuk air tawar kami manfaatkan dari belik yang dijaga oleh masyarakat,” beber Dina.

Kepala Dusun Gusungberak Suhendra mengaku pernah mengusulkan untuk pembuatan sumur bor dan program air bersih komunal namun program tersebut belum bisa direalisasikan. Selain fasilitas penyediaan air bersih komunal ia bahkan berharap penyediaan sanitasi berupa jamban sehat komunal bisa dibangun di pulau tersebut untuk memudahkan masyarakat yang hinggasaat ini masih melakukan aktifitas buang air besar sembarangan di pantai.

Lihat juga...