SMK Yohanes XXIII Wakili NTT di Festival Seni Siswa Nasional
MAUMERE – Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Yohanes XXIII meraih juara pertama lomba film pendek dan tarian tradisional tingkat Provinsi NTT dalam Festival Seni Siswa pada 9 Agusutus 2017 dan berhak mewakili Provinsi NTT dalam lomba serupa tingkat nasional yang akan berlangsung di Kupang pada 24 September 2017 nanti.
Demikian disampaikan Kepala Sekolah SMK Yohanes XXIII Maumere, Marselus Moa Ito, saat ditemui Cendana News di kantornya, Kamis (24/8/2017), terkait keberhasilan yang diraih anak-anak didiknya.
Dikatakan Moa Ito, tingkat SMK sekolahnya meraih juara pertama untuk lomba film pendek dan lomba tarian tradisional dimana untuk tarian tradisional SMK Yohanes XXIII merupakan juara pertama tingkat nasional tahun 2016 kemarin.
“Untuk tarian tradisional kami merupakan juara bertahan sehingga menjadi beban moril bagi kami untuk bisa mempertahankan prestasi yang didapat tahun sebelumnya dimana tahun ini kami tampilkan tarian Tua Reta Lou,” ujarnya.
Moa Ito mengucapkan terima kasih kepada panitia lomba, Dinas Pendidikan Provinsi NTT dan Kabupaten Sikka yang telah memberikan kesempatan kepada SMK Yohanes XXIII untuk mengikuti lomba ini.
Dirinya juga berterima kasih kepada para guru, guru pembimbing yang telah meluangkan waktu untuk melatih anak-anak didik hingga meraih prestasi serta orang tua siswa yang mempercayakan anak-anak mereka dididik dan ditempa di sekolah ini.
“Doa dan dukungan dari semua mereka masih kami butuhkan sebab perjuangan belum selesai dan kami berusaha semaksimal mungkin untuk meraih juara pertama di lomba tingkat nasional nanti,” ungkapnya.

Sementara itu, guru pembimbing lomba film pendek Marianus Milo saat ditemui Cendana News di ruangannya menjelaskan, film yang dibuat anak didiknya dan meraih juara berceritera tentang seorang siswa yang kesulitan membayar uang sekolah dimana dirinya hanya mengandalkan penghasilan seorang ibu yang pas-pasan.
Kondisi ini, jelas Marianus, membuat sang anak setelah mendapat surat teguran dari sekolah untuk membayar uang sekolah terpaksa bekerja di pasar selepas sekolah untuk membiayai pendidikannya.
“Para siswa yang terpilih mewakili sekolah yakni Marvin, Yustin dan Will, merupakan angkatan pertama jurusan multimedia. Semua mulai dari ide, proses pembuatan, mereka lakukan sendiri dan saya hanya mendampingi saja,” tuturnya.
Marianus sebagai guru pendamping merasa bangga sebab ini merupakan lomba pertama yang diikuti oleh sekolahnya dan bisa meraih prestasi maksimal di tingkat provinsi sehingga dirinya berharap bisa meraih sukses serupa di tingkat nasional nanti.