Inovasi Petani Tanjungsari Tingkatkan Produktivitas Jeruk Siam
LAMPUNG — Wilayah Kecamatan Palas yang dikenal sebagai kawasan pertanian memiliki sentra pertanian. Salah satu komoditas pertanian yang menonjol adalah jeruk siam atau dikenal dengan jeruk peras.
Lahan pertanian jeruk siam itu berada di wilayah Dusun Solo Desa Tanjungsari, Dusun Rejosari Desa Kalirejo serta beberapa desa lain dengan penanaman jeruk sistem multikultur dengan tanaman lain.
Menurut Sukarmin (35), salah seorang petani jeruk di Desa Kalirejo pohon jeruk jenis siam asal Banyuwangi yang mulai banyak dikembangkan petani Lampung. Sukarmin memiliki lahan seluas setengah hektare dan menanam sekitar 500 batang tanaman jeruk siam. Kalau tak ada aral melintang dia punya rencana pengembangan sekitar 500 tanaman jeruk pada akhir tahun ini.
Keberhasilan tukang bangunan ini mengembangkan pekerjaan sampingan sebagai petani jeruk siam berkat keberhasilan sang kakak yang terlebih dahulu menanam jeruk siam Banyuwangi dengan jumlah mencapai 1000 batang.
Kesuksesan sang kakak yang telah menanam jeruk siam Banyuwangi dengan produksi mencapai 15 ton perbulan tersebut diakuinya menjadi pendorong baginya untuk ikut membudidayakan jeruk segar tersebut.
“Prospek usaha pertanian jeruk memang cukup menjanjikan bahkan kakak saya telah membeli lahan untuk perluasan tanaman jeruk Siam Banyuwangi dan ini menjadi pemicu bagi saya dan sebagian petani di wilayah Palas memanfaatkan lahan untuk budidaya tanaman jeruk,” ujar Sukarmin saat dijumpai Cendana News, Senin (14/8/2017).

Mengawali penanaman jeruk pada awal 2012 ia memulai dengan bibit sebanyak 100 batang yang dibelinya dengan harga Rp12.500 dari wilayah Pekalongan Kabupaten Lampung Timur serta sebagian dari Banyuwangi Jawa Timur.
Kemudian dia melakukan penambahan bibit pada tahun selanjutnya hingga kini dirinya memiliki sebanyak 500 tanaman jeruk Siam Banyuwangi.
Pada umur tiga tahun tanaman jeruk Siam Banyuwangi miliknya bahkan telah memproduksi rata rata 8 ton dengan harga jual Rp7 ribu ditingkat petani, dirinya rata rata memperoleh omzet sekitar Rp70 juta sekali panen dengan keuntungan bersih Rp45 juta.
Berlatih dari sang kakak dan sekaligus melakukan pengembangan secara otodidak Sukarmin menyebut masih melakukan pola penanaman dengan membuat guludan dan sistem pengairan menggunakan saluran tradisional selanjutnya melakukan instalasi pengairan dengan menggunakan pipa pvc untuk memudahkan penyiraman.
Jeruk siam hasil kebunnya bahkan terus dikembangkan dengan proses pemupukan menggunakan pupuk khusus jenis Mutiara,Phonska,ZA serta penambahan Petrofur dan penambahan pupuk kandang dan pupuk kompos.
Sebagai upaya pemanfaatan limbah pertanian jenis kelapa ia bahkan menggunakan sabut kelapa sebagai media untuk untuk pertumbuhan pohon jeruk siam Banyuwangi dengan tujuan menghindari pertumbuhan rumput sebagai gulma pengganggu sehingga mengurangi penggunaan pestisida.
Selain itu sabut kelapa yang sudah lama akan membusuk menjadi pupuk alami dari proses penguraian cocopeat yang berguna untuk pertumbuhan pohon jeruk Siam Banyuwangi.
“Efesiensi biaya penggunaan pupuk dan juga pestisida bisa dikurangi dengan pemanfaatan limbah pertanian dan saya melakukan pengolahan pupuk kompos dan kotoran ternak kambing yang saya ternak,” tutur Sukarmin.
Penerapan pengelolaan irigasi yang bersumber dari sumur dangkal dilakukan oleh Sukarmin dengan membuat tandon untuk proses penyiraman saat musim kemarau. Ia menyebut tanpa adanya persediaan air yang cukup produktivitas jeruk siam miliknya bisa menurun sebab diakuinya rata rata pohon jeruk miliknya berbuah sebanyak 10-15 kilogram per pohon.
“Butuh penanganan yang lebih baik agar produktifitas buah jeruk yang saya hasilkan banyak karena pohon jeruk yang saya tanam berbuah setiap tahun,” kata Sukarmin.
Senada dengan Sukarmin, petani jeruk lainnya di Dusun Solo, Hendra, mengungkapkan akses infrastruktur jalan yang memadai membuat petani penanam jeruk bisa memangkas biaya operasional untuk distribusi. Selama ini dengan jalan yang cukup mulus dengan aspal hotmix para pedagang buah jeruk akan mendatangi kebun miliknya dengan sistem timbang di kebun.
“Kami buat kebun dengan akses jalan yang memungkinkan pembeli masuk ke kebun dan bagi pembeli perseorangan bisa wisata petik buah dan ditimbang,” ungkap Hendra.
Pemasaran yang masih terbuka lebar diakuinya bahkan masih terbatas memenuhi kebutuhan pedagang lokal ditambah buah buahan lain diantaranya semangka, nangka, pisang dan melon. Hendra dan pemilik kebun jeruk menyebut tidak perlu kuatir akan pemasaran sebab dengan harga Rp7 ribu per kilogram dan harga jual di pasaran Rp10 ribu perkilogram menguntungkan petani dan pedagang buah keliling dan pedangan minuman buah dengan bahan baku jeruk peras Siam Banyuwangi.