Ancaman ISPA di Sekitar Proyek Jalan Tol Sumatera
LAMPUNG – Dampak lalu lalang kendaraan pengangkut material tanah, pasir dan batu di sepanjang Jalan Lintas Sumatera untuk proses pengerjaan Jalan Tol Trans Sumatera ruas Bakauheni-Terbanggibesar dan sebagian dipergunakan untuk proses penimbunan dermaga VII Pelabuhan Bakauheni mengakibatkan masyarakat di sepanjang Jalan Lintas Sumatera masih terimbas debu.
Sebagian pengendara bahkan harus menggunakan masker terutama pengendara kendaraan roda dua menghindari gangguan pernafasan dan penyakit infeksi saluran pernafasan atas (ISPA).
Keluhan akan debu yang mengganggu pernapasan dan sebagian beterbangan ke perumahan warga di sepanjang Jalan Lintas Sumatera tersebut bahkan masih terjadi dari Kecamatan Bakauheni hingga Kecamatan Penengahan. Debu yang berimbas warga menutup sebagian pintu depan dan juga jendela pada jam tertentu tersebut bahkan masih terus terjadi akibat lalu lalang kendaraan pengangkut material tanah, pasir dan batu proses pengangkutan dari STA 02 di Dusun Bunut Kecamatan Bakauheni.
“Beruntung saat ini mulai berkurang debu yang mengganggu karena kendaraan pengangkut material timbunan tol sudah bisa melintas melalui ruas tol di STA 02 hingga STA 07 sehingga mulai berkurang namun sebagian kendaraan masih melintas berimbas debu,“ terang Suhardi salah satu warga di Dusun Umbul Jering Desa Bakauheni Kecamatan Bakauheni yang selama dua tahun terakhir terimbas debu proyek pembangunan Jalan Tol Sumatera saat ditemui Cendana News, Jumat (11/8/2017).
Suhardi menyebut pernah mengharapkan kompensasi terkait dampak debu yang mengganggu kesehatan dan material batu dan kerikil yang tumpah ke jalan berimbas terganggunya keselamatan pengendara kendaraan di jalan raya. Komplain warga terkait imbas debu berupa pembagian masker serta uang gangguan akibat proses pengangkutan material tol berimbas debu tersebut dipenuhi oleh pihak pelaksana proyek Tol Sumatera dengan melakukan proses penyiraman menggunakan kendaraan tanki berisi air.
Pemilik warung makan di tepi Jalinsum Desa Bakauheni yang setiap hari berjualan makanan bahkan harus mengeluarkan biaya ekstra untuk menyediakan kerai serta penutup makanan siap saji menghindari makanan yang mereka jual terimbas debu. Sundari, salah satunya, pemilik warung tersebut bahkan mengalah dengan membuat ruangan dari kaca menghindari debu masuk ke rumah makan miliknya yang bisa berimbas pelanggan enggan makan di warung miliknya.
“Bukan sekedar mengganggu kesehatan secara langsung akibat debu dampaknya juga sangat berpengaruh bagi makanan yang kami jual sehingga harus selalu kami tutupi,” ungkap Sundari.
Menanggapi keluhan masyarakat dan mengurangi dampak debu yang ditimbulkan akibat proses pengangkutan material tol berupa tanah, pasir dan batu PT Lancar Jaya Mandiri Abadi (LMA) selaku sub kontraktor proyek JTTS di ruas Bakauheni rutin melakukan proses penyiraman setiap hari sejak pagi sejak pukul 08.00 WIB hingga pukul 09.00 WIB menggunakan kendaraan tanki berisi air.
Salah satu pengemudi kendaraan tanki penyiram air menyebut proses penyiraman secara rutin tersebut terbilang efektif untuk mengurangi dampak debu yang ditimbulkan meski penyiraman hanya dilakukan pada ruas jalan yang dekat dengan perumahan warga. Kendaraan tanki yang dimodifikasi berisi air melakukan proses penyiraman di sepanjang Jalan Lintas Sumatera dan di jalan masuk ke Desa Bakauheni yang terdampak proyek Tol Sumatera.
“Penyiraman dengan air dilakukan selama dua kali sehari menghindari debu beterbangan terutama saat kondisi cuaca panas. Tapi saat turun hujan kami tidak melakukan penyiraman,” terang Joni, salah satu pengemudi truk tanki.
Berbeda dengan masyarakat sepanjang Jalinsum yang terimbas debu proyek Tol Sumatera, proyek pembersihan lahan dan penimbunan pembangunan dermaga VII di Pelabuhan Bakauheni dari pantauan Cendana News juga berimbas pada nelayan Muara Piluk. Meski terimbas debu pada saat tertentu penyiraman dilakukan oleh pelaksana tol dan sebagian warga di dekat proyek menyebut arah angin ikut membantu persebaran debu.
“Kalau arah angin dari laut menuju ke darat debu akan mengarah ke perumahan warga dan mengganggu pernafasan tapi penyiraman dilakukan saat debu berpotensi mengarah ke perumahan kami,” ungkap Doni warga Muara Piluk.
Selain berimbas pada batuk-batuk dan gangguan pernafasan, dampak debu tersebut membuat warga harus menjemur pakaian di lokasi yang tidak terimbas debu dan mengakibatkan pakaian yang telah dicuci terpapar debu dari tanah padas berwarna putih. Debu beterbangan tersebut ternyata juga mengganggu pernafasan bagi anak-anak nelayan yang tinggal di wilayah tersebut, terutama saat proses pengerjaan penimbunan.
