YOGYAKARTA – Posdaya Ontoseno yang berada di Dusun Puton, Trimulyo, Jetis, Bantul, merupakan salah satu Posdaya berprestasi tingkat nasional yang telah membuktikan keberhasilannya memberdayakan masyarakat sekitar. Salah satu keberhasilan terbesar adalah memulihkan kondisi sosial, ekonomi, maupun budaya masyarakat yang luluh lantah akibat gempa dahsyat pada 2006, silam.

Selain menjadi rujukan serta tempat belajar berbagai kelompok dari dalam maupun luar negeri, Dusun Puton juga banyak menyandang berbagai predikat dan prestasi. Mulai dari juara Posdaya Nasional Damandiri Award 2014, Juara Bina Keluarga Remaja tingkat Nasional 2015, Kampung Iklim Nasional, juara Kampung Hijau tingkat Provinsi, juara Desa Wisata Tingkat Propinsi, juara BKB tingkat Kabupaten dan sederet prestasi lainnya.
Ketua Posdaya Ontoseno, Soraya Isfandari, didampingi Wakil Ketua, Kohar, menjelaskan, dusun yang terletak tak jauh dari Sungai Opak, ini memiliki luas sekitar 70 hektare, dengan jumlah penduduk mencapai 1.700 jiwa, terdiri dari 450 KK dan 9 RT. Mayoritas penduduk berprofesi sebagai petani, pedagang, tukang maupun pegawai.
Posdaya Ontoseno dibentuk pada 2009, satu tahun pasca pencanangan pembentukan secara serentak 1 dusun 1 posdaya se-Kabupaten Bantul, oleh Bupati Bantul pada 2008. Pembentukan Posdaya dilakukan sebagai upaya pemulihan kondisi masyarakat yang terdampak gempa bumi. Melalui Posdaya inilah berbagai program kegiatan dusun disusun, guna memberdayakan masyarakat agar bangkit dari keterpurukan.
“Kondisi Dusun Puton pasca Gempa Bumi benar-benar parah, 90 persen rumah penduduk, hancur. Puluhan warga dusun meninggal. Ekonomi warga benar-benar lumpuh. Kondisi sosial masyarakat juga terpuruk,” katanya.
Setelah upaya rekonstruksi fisik selesai 2 tahun pasca gempa, yakni sekitar 2008, pemulihan ekonomi dan sosial mulai berjalan di Kabupaten Bantul. Di Dusun Puton, pemulihan ekonomi masyarakat dilakukan melalui Posdaya, khususnya memberdayakan ibu-ibu dan kaum perempuan.
“Awalnya kita tidak tahu apa itu posdaya. Sampai akhirnya kita menterjemahkan sendiri. Yakni dengan menggalakkan berbagai kegiatan produktif bagi kaum perempuan dusun,” katanya.
Seperti halnya posdaya pada umumnya, ada 4 bidang pemberdayaan yang dilakukan Posdaya Ontoseno. Yakni, ekonomi, pendidikan, kesehatan serta lingkungan. Bidang ekonomi menjadi prioritas pemberdayaan. Alasannya, karena banyak warga dusun yang menganggur pasca gempa bumi. Empat puluh persen penduduk bahkan tercatat sebagai keluarga miskin.
Untuk mengubah kondisi tersebut, berbagai program pemberdayaan ekonomi dilakukan. Sepuluh unit ekonomi dibentuk, mulai dari koperasi, pemberdayaan keluarga miskin, kelompok UMKM, kelompok tani wanita, kelompok perikanan wanita, kelompok peternakan, hingga kelompok kuliner. Agar seluruh unit berjalan, berbagai pelatihan digelar dengan mengundang tenaga pelatih secara swadaya, baik dari pemerintah, swasta maupun perguruan tinggi.
“Yang ada di benak kita saat itu, hanyalah bagaimana membuat kaum perempuan di dusun ini produktif dan bekerja. Tidak menganggur. Yang terpenting itu dulu,” katanya.
Adanya upaya tersebut membuat sejumlah usaha bermunculan. Tak sedikit warga mulai membuka usaha secara mandiri, baik itu pembuatan makanan seperti roti kering, rempeyek, kerajinan batik, ternak, dan berbagai kelompok UMKM lainnya. Selain mendapat pelatihan, warga juga dapat meminjam modal usaha melalui koperasi yang telah dibentuk. Satu tahun terakhir, Koperasi Simpan Pinjam Tabur Puja juga didirikan di Dusun Puton, ini.
“Dulu banyak sekali warga khususnya ibu-ibu yang menganggur, sekarang sulit menemukan warga yang menganggur,” katanya.
Di bidang kesehatan, Posdaya Ontoseno setidaknya memiliki 4 unit kegiatan. Mulai dari posyandu balita, posyandu lansia, pos PHBS hingga desa siaga. Setiap bulan sekali, tenaga dokter didatangkan untuk melakukan penyuluhan pemeriksaan dan pengobatan bagi warga. Baik itu bekerjasama dengan pihak rumah sakit swasta maupun puskesmas sekitar. Pemberian tambahan gizi juga diberikan setiap minggu sekali dari hasil swadaya masyarakat.
Di bidang pendidikan, berbagai program kegiatan disusun. Mulai dari pendirian PAUD, Bina Keluarga Remaja, taman bacaan dan informasi dusun, Bina Keluarga Lansia dan Taman Lansia, pembelajaran bagi anak putus sekolah, pemberdayaan kelompok cacat, pembentukan dharmawisata, hingga pembentukan rumah budaya yang melestarikan kesenian dan tradisi masyarakat dusun.
Di bidang lingkungan, gerakan kampung hijau dilakukan dengan penanaman tanaman toga di setiap halaman rumah warga. Tak hanya itu, untuk menambah penghasilan ekonomi, gerakan penanaman jeruk pecel, pohon durian dan pohon sirsak juga dilakukan pasca gempa. Kegiatan minggu bersih, kelompok pemantau jentik nyamuk, hingga bank sampah juga didirikan oleh Posdaya Ontoseno.
“Dalam waktu kurang lebih dua tahun, berbagai program kegiatan itu sudah mulai terasa hasilnya. Warga bisa memanen jeruk pecel dan menjualnya ke pasar. Lingkungan dusun menjadi lebih bersih dan tertata. Perubahan perilaku juga nampak terjadi di tengah masyarakat. Warga malu jika tidak bersekolah atau bekerja,” katanya.
Keberhasilan Posdaya Ontoseno memberdayakan warga masyarakat dusun yang terdampak gempa, itupun secara otomatis menjadikan Dusun Puton sebagai daerah percontohan dalam bidang pemberdayaan. Berbagai kelompok dari banyak wilayah se-Indonesia datang ke dusun ini untuk belajar.
Tak hanya itu, berbagai lembaga ataupun instansi asal mancanegara seperti Korea, Jepang, Cina, Pakistan, Suriname, Nepal, Kanada hingga Afrika dan banyak negara lain juga berkunjung ke Posdaya Ontoseno, untuk belajar memberdayakan masyarakat dan memulihkan kondisi mereka dari keterpurukan.
Berjalannya setiap program kegitan yang disusun Posdaya Ontoseno, juga secara otomatis membuat perhatian pemerintah ke Dusun Puton, meningkat. Berbagai predikat disematkan ke Dusun Puton, mulai dari desa wisata desa, kampung hijau, dan sebagainya. Berbagai bantuan pemerintah, baik itu berbentuk dana maupun barang, juga mengalir dengan sendirinya ke dusun ini. Tak terhitung berapa jumlah program bantuan yang masuk ke dusun ini, baik dalam bidang pertanian, peternakan, perikanan, lingkungan, kesehatan, pendidikan, dan banyak lagi.
“Memang keberhasilan ini tidak serta merta muncul begitu saja. Butuh perjuangan dan kesabaran semua pihak mulai dari pengurus ataupun seluruh warga masyarakat. Kuncinya adalah rasa kebersamaan dan kekeluargaan. Adanya saling keterbukaan, rasa saling berbagi dan saling peduli satu sama lain,” pungkasnya.