Petugas Ulu-ulu di Lampung, Kerja Keras Tanpa Honor

RABU, 22 MARET 2017

LAMPUNG — Kebutuhan akan air bersih dan air untuk lahan pertanian sawah di Kabupaten Lampung Selatan, masih dipegang oleh para petugas yang tergabung dalam Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A). Salah satunya di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan.

Slamet

Ketua P3A Pasuruan Jaya, Slamet (59), mengaku berperan sebagai pembagi air atau dikenal sebagai ulu-ulu merupakan bagian tugas dari P3A, dengan personel yang seharusnya ditunjuk khusus. Namun, karena kesibukan dan keterbatasan anggotanya, ia juga terkadang merangkap sebagai petugas pembagi air di beberapa bendungan kecil menuju ke areal persawahan.

Menurut Slamet, P3A saat ini memiliki tugas membagikan air di saluran air irigasi yang sebagian petani tergabung dalam kelompok tani (poktan). Sebagai petugas, ia mengaku kerap kewalahan saat musim hujan, ketika sampah-sampah dari aliran air menyumbat pintu air. Selain bekerja tanpa memperoleh insentif, ia juga mengaku kerap harus menyusuri aliran air di malam hari, terutama saat musim hujan, untuk memeriksa saluran air yang tersumbat sampah. Namun demikian, ia mengaku bersyukur bisa memberikan pelayanan kepada para petani, dengan bisa menyediakan air untuk kebutuhan pengairan sawah.

“Kami memang bekerja dengan pelayanan, meski saat ini kalau ditanya berapa insentif atau honor yang kami terima, ya hanya terima kasih. Tapi, kalau saluran air macet atau terhambat, kami dikomplain para petani,” terang Slamet, saat ditemui di Dusun Jati Sari, Desa Pasuruan Kecamatan, Penengahan, Rabu (22/3/2017).

Sebagai petugas, Slamet tetap harus menjalankan tugas meski hujan deras dan tanpa ada fasilitas mantel maupun senter dari kelompok. Meski demikian, ia mengaku P3A menjadi sarana untuk memfasilitasi kebutuhan kelompok tani, di antaranya dengan diberi bantuan infrastruktur irigasi yang merupakan bantuan Pemerintah, salah satunya di 2014 P3A Pasuruan Jaya menerima bantuan dari Pemerintah sebesar Rp170 juta untuk perehaban dan pmbangunan saluran irigasi baru sepanjang 336 meter di Desa Pasuruan.

Sumarno

Ia berharap dengan adanya P3A bisa ikut membantu petani dalam kebutuhan akan air, terutama saat musim kemarau, yang di wilayah Pasuruan ada beberapa wilayah yang kesulitan memperoleh air untuk kebutuhan pertanian sawah. Slamet juga mengaku selalu rajin memeriksa saluran-saluran air, terutama selama musim hujan. Pasalnya, jika tidak diperiksa saluran air yang tersumbat bisa mengakibatkan jebolnya tanggul saluran air dan air yang seharusnya bisa dialirkan ke lahan persawahan terbuang percuma.

Sebagai petugas pembagi air yang tidak memiliki honor dan hanya sebagai pengabdian, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya Slamet saat ini memiliki kesibukan sebagai tukang jahit. Meski sebagai tukang jahit yang menjadi pekerjaan pokoknya, namun tugas sebagai Ketua P3A Pasuruan Jaya tetap dijalankannya. Kesibukan Slamet akan semakin terasa saat menjelang musim tanam, ketika kebutuhan akan air sangat tinggi bagi para petani.

Keberadaan kelompok P3A yang saat ini ada di beberapa wilayah tersebut berdasarkan data Dinas Pekerjaan Umum (DPU) dan Tata Ruang Kecamatan Penengahan-Bakauheni, berjumlah sekitar 32 kelompok. Menurut Sumarno (57) pengamat pengairan wilayah Kecamatan Penengahan di Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kecamatan Penengahan-Bakauheni, kelompok-kelompok tersebut berada di bawah pembinaan Dinas Pekerjaan Umum.

Sumarno mengakui, meski tugas ulu-ulu atau pembagi air tidak seperti di wilayah yang memiliki sistem irigasi baik seperti di Bali dengan sistem Subak atau di Jawa ada ulu-ulu, namun peranan ulu-ulu atau pembagi air merupakan sub tugas dalam sebuah kelompok P3A. Tugas dan fungsi tersebut di wilayah Penengahan bersifat fleksibel dan kerap dirangkap juga oleh Ketua P3A, karena tugasnya bisa dikerjakan dalam waktu tertentu terutama menjelang masa tanam.

Di wilayah yang masih memilki sistem tersebut, Sumarno menyebut sebelum masa tanam dilakukan musyawarah terlebih dahulu antara pihak Dinas Pertanian, Kecamatan, dan Dinas Pekerjaan Umum. Dinas Pertanian akan menentukan jenis atau varietas bibit padi yang cocok ditanam sesuai kondisi musim, Dinas Pekerjaan Umum menyampaikan ketersediaan air untuk masa tanam tertentu karena saat musim kemarau dan musim hujan ketersediaan air akan berbeda. “Baru setelah ada penentapan waktu tanam, pengamat perairan akan berkoordinasi dengan kelompok P3A dan juru-juru air atau dikenal dengan ulu-ulu untuk melakukan pembagian air,” terang Sumarno.

Jurnalis: Henk Widi/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Henk Widi

Lihat juga...