Perikanan Tangkap Penyokong Ekonomi Masyarakat Perairan Timur Lampung

SENIN 6 MARET 2017

LAMPUNG—Perairan Timur Lampung mempunyai beberapa pusat pendaratan ikan (PPI), seperti di Kecamatan Ketapang dan  Kecamatan Bakauheni. Di kedua kecamatan itu terdapat beberapa lokasi d iantaranya PPI Ketapang, PPI Keramat, PPI Muara Piluk yang menjadi lokasi sandar beberapa kapal. 

Seorang nelayan menjemur ikan untuk oleh-oleh keluarganya di Rangkasbitung.
Berdasarkan keterangan salah satu anggota kelompok nelayan di Muara Piluk, Somad (40) kehidupan para nelayan di Perairan Lampung Timur  masih bergantung dari sektor perikanan tangkap. Pada saat kondisi cuaca memburuk yang berakibat nelayan tak bisa melaut sebagian nelayan memilih memperbaiki peralatan melaut, kapal serta peralatan lain untuk digunakan saat kondisi membaik.

Somad mengungkapkan saat ini kondisi perairan mulai membaik sehingga dirinya dan beberapa nelayan mulai bisa mencari ikan. Sebagian ikan dijual dalam kondisi segar dan sebagian dibuat menjadi ikan asin untuk dijual.  Sebagian dari ikan asin ini  dipergunakan sebagai oleh-oleh untuk keluarga terutama bagi nelayan yang melakukan kegiatan “ngebabang” dari wilayah Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Banten yang menyandarkan kapal ke dermaga Muara Piluk. Kembali melautnya nelayan memberi sumber penghasilan bagi sejumlah pekerjaan lain yang ditekuni masyarakat di wilayah kampung nelayan.

“Awal Maret kami mulai melaut dan ini berimbas pada kehidupan ekonomi masyarakat nelayan. Kami bisa mendapatkan uang, para pengojek ikan mendapat muatan, penjual bahan bakar minyak menghabiskan stok dan juga sejumlah pengrajin ikan teri dan pengepul mendapatkan ikan untuk dijual,” terang Somad saat ditemui Cendana News di pusat pendaratan ikan Dusun Muara Desa Bakauheni, Kecamatan Bakauheni, Senin (6/3/2017).

Semenjak tidak melaut, Somad mengungkapkan dalam sehari dirinya bersama kru kapal jenis bagan congkel bisa kehilangan uang sekitar Rp500 ribu per hari untuk kebutuhan kru kapal. Padahal selama kondisi cuaca membaik, nelayan bisa mencari ikan penghasilan per har isekitar Rp2-3 juta terutama saat musim ikan jenis tertentu.  

Cumi dan tenggiri memiliki harga jual cukup bagus bagi nelayan dengan kisaran Rp40-60 ribu per kilogram. Selain itu pekerjaan pekerjaan lain juga ikut terbantu khususnya yang dikerjakan oleh sebagian anak anak dan juga orang dewasa di dekat pusat pendaratan ikan.

Somad mengaku dengan mulai melautnya para nelayan membuat para pelele (penjual ikan), alang alang (anak anak pencari ikan) serta tukang ojek ikan mulai kembali bisa menjalankan aktivitasnya. Sumber pekerjaan yang saling berkaitan tersebut bahkan seolah “macet” selama musim cuaca buruk dengan tidak adanya sumber penghasilan dari melaut dan mencari ikan. Beberapa pengepul tidak memperoleh ikan, peleles harus beralih menjadi penjual ikan air tawar akibat pasokan ikan laut terbatas dan harus mencari ikan dengan harga ikan yang lebih mahal dari biasanya.

Salah satu pengojek ikan, Juanda (40) mengaku selama musim cuaca buruk dirinya sama sekali tidak memperoleh orderan untuk mengangkut ikan dari PPI Muara Piluk untuk dikirim ke sejumlah pasar ikan. Bahkan ia mengaku semenjak nelayan tidak melaut selama hampir empat bulan lebih ia memilih untuk menjadi tukang ojek anak sekolah dan pedagang di pasar untuk mendapat penghasilan sembari menunggu aktifitas PPI kembali normal.

“Kalau selama musim ikan seperti pada awal Maret ini yang sudah mulai banyak ikan cumi dan cuacanya bagus saya mendapat banyak pesanan mengantar ikan ke pasar dan dari ongkos ojek ini bisa saya pergunakan untuk keperluan keluarga,” ungkap Juanda.

Juanda salah satu pengojek ikan di PPI Muara Piluk Bakauheni.
Juanda yang sudah menjadi tukang ojek spesialis ikan tersebut mengaku dalam sekali mengangkut ikan dia membawa 100 kilogram dengan kendaraan roda dua. Upah sebesar Rp75-100 ribu diperolehnya untuk satu kali pengangkutan dan terkadang pemilik ikan memberi uang lebih belum termasuk penerima ikan tersebut. 
Dalam sehari Juanda  bisa mengojek sebanyak 4 kali untuk beberapa pemilik ikan. Selain menjadi pengojek, tugas bongkar muat dari atas kapal menuju ke PPI juga sekaligus menjadi tugasnya bersama beberapa tukang bongkar muat lainnya.

Selain mengojek ikan, Juanda memiliki tugas mengangkut balok balok es untuk pengawet ikan dengan rusaknya beberapa lemari pendingin (cold storage) yang sudah tak bisa dimanfaatkan. Membaiknya cuaca tersebut menurut Juanda akan memberi penghasilan bagi sejumlah pemilik usaha pembuatan es batu, pembuatan ikan teri serta para penjual ikan yang mengandalkan ikan dari PPI Muara Piluk Bakauheni.

Kendala Pabrik Es Jauh Dikeluhkan Nelayan

Sektor lain yang cukup menjanjikan dalam bidang perikanan tangkap di Lampung Selatan diantaranya penyediaan balok es untuk digunakan melaut. Salah satu pekerja di usaha pembuatan teri di Kecamatan Ketapang, Umar (45) mengaku para nelayan di wilayah tersebut mengandalkan pasokan es balok dari wilayah Kabupaten Lampung Timur.  

Pabrik es skala besar ada di wilayah Kalianda dan akses distribusi lebih jauh sehingga memilih membeli dari Lampung Timur. Dia mengaku kebutuhan akan lemari pendingin (cold storage) pernah tersedia di wilayah PPI Ketapang namun akibat kurangnya perawatan membuat sebagian cold storage rusak dan tidak bisa dimanfaatkan.

Beberapa cold storage dengan kapasitas ikan mencapai 2 ton dengan kotak kotak besar berjumlah sekitar 4 bok bahkan kini sudah tak terpakai. Sementara kebutuhan akan es sangat diperlukan nelayan untuk menjaga keawetan ikan terutama saat nelayan melaut selama beberapa hari dan tidak kembali ke darat saat musim ikan cumi dan teri.

“Kami sudah pernah mengusulkan ke instansi terkait namun belum ada realisasi sebab kebutuhan akan pabrik es di wilayah kami cukup penting agar nelayan bisa lebih lama melaut,” terang Umar.

Es balok yang didatangkan dari pabrik es di Kalianda untuk nelayan.
Mengenai  pasokan bahan bakar minyak (BBM) tidak menjadi masalah bagi para nelayan sebab sudah cukup tersedia. Beberapa pusat pendaratan ikan (PPI) bahkan kini telah memiliki stasiun pengisian bahan bakar nelayan (SPBN) yang menyediakan kebutuhan akan bahan bakar untuk para nelayan tangkap. 
Umar dan sejumlah nelayan di wilayah pantai Timur Lampung mengungkapkan sektor perikanan tangkap sekaligus menjadi pilihan dengan adanya musim yang membaik dan tumbangnya beberapa sektor pertambakan udang jenis vaname akibat serangan virus myo dan banjir.

Jurnalis: Henk Widi/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Henk Widi

Lihat juga...