Longsoran Merusak Musala, Warga Sidorejo Tagih Janji Pemerintah

SENIN 6 MARET 2017

BANTUL—Sejumlah warga Sidorejo, Ngestiharjo, Kasihan, Banguntapan, Bantul, mendesak pemerintah serta instansi terkait untuk turun tangan menangani bencana longsor yang terjadi di kampung mereka. Mereka menagih janji pemerintah untuk segera membantu rehabilitasi sejumlah bangunan yang rusak akibat bencana longsor itu. Pasalnya meski sudah terjadi setahun lebih, belum ada pihak terkait yang turun tangan mengatasi persoalan tersebut. 

Musala Kampung Sidorejo yang terancam roboh karena longsor.
Salah seorang tokoh warga Kampung Sidorejo, Slamet Priyanto, mengatakan bencana longsor terjadi di bantaran Sungai Bedog kampung mereka sejak April 2015. Longsoran kembali terulang pada Februari 2016, dan Maret 2016. Akibatnya sebaian bangunan Musala Asy-Syifa dan bangunan rumah kos-kosan milik warga rusak. Warga merasa khawatir longsoran kembali terjadi dan merobohkan seluruh bangunan termasuk jika merembet memotong akses jalan kampung.

“Awalnya longsor itu hanya merusak sebagian talud saja. Tapi kemudian longsor kembali terjadi hingga merusak tempat wudhu musala dan bangunan rumah kos milik warga hingga tak bisa digunakan. Yang kita khawatirkan longsoran akan kembali terjadi dan merobohkan seluruh bangunan musala. Apalagi jika sampai merembet ke jalan kampung. Karena otomastis akan memotong akses warga kampung,” tutur Salmet Senin (06/03/2017).

Warga sendiri sebagaimana dikatakan Slamet mengaku sudah melaporkan peristiwa itu kepada pihak terkait mulai dari pemerintah tingkat Kecamatan, BPBD, Dinas terkait hinga DPRD. Dari audiensi yang sudah dilakukan warga sendiri mengaku dijanjikan akan mendapat tindak lanjut. Namun hingga setahun lebih, tindak lanjut yang dilakukan ternyata tidak seperti yang diharapkan warga.

“Sampai saat ini tindak lanjut yang dilakukan pemerintah sangat lambat, bahkan tidak ada. Sehingga masih belum seperti harapan warga. Warga secara swadaya bahkan melakukan pengumpulan dana sendiri secara swadaya untuk memperbaiki musala. Sampai saat ini sudah terkumpul Rp30 juta. Kita berharap agar segera mendapat solusi dari pihak terkait,” katanya.

Dijelaskan selama ini musala yang rusak tersebut menjadi tempat ibadah bagi warga Sidorejo yang tersebar di 4 RT. Sejak adanya peristiwa longsor itu tempat wudhu musala tersebut sama sekali tidak bisa digunakan. Bangunan rumah di samping musala juga tak lagi ditinggali karena khawatir akan bahaya yang terjadi.

“Yang jelas setiap ibadah kita was-was dengan adanya longsoran ini. Karena takut jika sewaktu-waktu terjadi longsor susulan. Pengajian TPA untuk anak-anak sampai saat ini juga kita hentikan total, karena takut jika nanti terjadi hal yang tidak diinginkan. Kita berharap segera ada tindak lanjut dari pihak terkait. Karena ini sudah berlangsung lama namun tidak ada respon,” imbuh Takmir Musala Asy-Syifa, Arkhamiatno.

Jurnalis: Jatmika H Kusmargana/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Jatmika H Kusmargana

Lihat juga...