MINGGU, 12 MARET 2017
SEMARANG — Banyaknya mahasiswa perantauan yang kuliah di Jawa Tengah, menjadi modal berharga untuk merawat kebhinekaan, karena pada saat kuliah mereka akan berbaur dengan etnis lainnya, sehingga ketika pulang ke daerahnya bisa membawa pengetahuan baru.
![]() |
| Tari Saman dari Aceh |
Hal ini diungkapkan ketua Persaudaraan Antar Etnis Nusantara (Perantara) Jawa Tengah, Krisna Umbu, saat ditemui usai Gelar Seni dan Budaya Daerah Jawa Tengah, di Wisma Perdamaian, Minggu (12/3/2017). Menurutnya, generasi muda mempunyai peran vital dalam menjaga persatuan. Mereka juga dituntut untuk lebih banyak bergaul dan mengerti kondisi di sekitarnya, sehingga mereka lebih cepat menyerap pengetahuan baru. Dengan pengetahuan yang didapat, generasi muda akan mempunyai banyak cara untuk bisa melestarikan kebudayaan lokal.
Indonesia mempunyai potensi yang besar, karena sebagai negara maritim yang mempunyai 17.000 pulau, tentunya mempunyai budaya daerahnya masing-masing, sehingga sudah sewajarnya generasi muda dituntut untuk terlebih dahulu melestarikan kebudayaan di daerahnya. “Jangan sampai banyaknya budaya, malah membuat kita menjadi fanatis terhadap daerah sendiri, sehingga budaya asing yang akhirnya menjadi raja,” terang Krisna.
Karena itu, Perantara mengajak semua generasi muda yang ada di Jawa Tengah untuk memperkenalkan budaya masing-masing, ketika berada di provinsi tersebut, sehingga kelestarian budaya akan tetap terjaga.
![]() |
| Plt. Kepala Kesbangpolinmas Jawa Tengah, Sri Surahmi |
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpolinmas) Jawa Tengah, Sri Surahmi, mengatakan keberagaman budaya di Jawa Tengah tercipta karena kondisi yang dialami oleh masyarakat di sekitar. Karena itu, penting bagi Pemerintah untuk bisa bersinergi dengan masyarakat.
Menurut Sri, tarian dan upacara adat adalah salah-satu budaya lokal yang tak akan lekang dimakan oleh waktu, sehingga sudah menjadi suatu keharusan jika generasi muda juga ikut belajar. Sri juga mengingatkan, pemuda adalah penjaga pintu bagi datangnya budaya impor, sehingga dengan kemampuan yang dimiliki pemuda harus bisa menyeleksi mana saja budaya luar negeri yang bisa diterapkan.
Selain itu, Sri juga menyoroti banyaknya budaya Indonesia yang diklaim luar negeri, karena ketidakmapuan kita untuk menjaga. Padahal, jelas dalam UU Hak Cipta Tahun 1987, budaya yang “dihasilkan” dari Sabang sampai Merauke adalah budaya asli Indonesia. Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk terlebih dahulu instropeksi, ketika budaya kita diklaim negara lain. “Arus budaya modern jangan sampai membuat kita gelap mata. Kemajuan teknologi harus dijadikan sarana untuk memperkenalkan budaya Indonesia,” terangnya.
Pementasan Gelar Budaya Jawa Tengah 2017 dihadiri lebih dari 300 orang penonton. Dalam pentas tersebut, ditampilkan 17 tarian yang berasal dari berbagai daerah di seluruh Indonesia, di antaranya Tari Saman dari Aceh, Tari Piring Sumatra Barat dan Tari Tibe-Tibe Maluku. Tarian tersebut dibawakan oleh komunitas mahasiswa perantauan yang ada di Jawa Tengah.
Jurnalis: Khusnul Imanuddin/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Khusnul Imanuddin
