Efendi Ghazali: Sosialisasi Empat Pilar MPR Butuh Strategi Budaya

SENIN, 13 MARET 2017

JAKARTA — Pengamat Komunikasi Politik, Efendi Ghazali menilai, dalam sosialisasi empat Pilar MPR di berbagai tempat masih terdapat satu masalah serius yang luput dari kaca pembesar.

Efendi Ghazali

“Sampai sekarang, negara ini belum memiliki strategi budaya untuk menghadapi ancaman disintegrasi bangsa,” sebut Efendi dalam diskusi efeksitifitas sosialisasi empat Pilar MPR yang diadakan Humas MPR RI dengan Koordinatoriat Jurnalis Parlemen, Senin (13/3/2017)

Salah satu strategi budaya adalah menanamkan rasa kebersamaan antara manusia nusantara yang majemuk. Dicontohkan, materi yang pernah beredar di media sosial tentang seorang suster secara spontan menolong seseorang yang kendaraannya mogok, kemudian muncul tulisan ‘indahnya kebersamaan’.

“Itulah salah satu contoh budaya dari sebuah bangsa besar majemuk seperti Indonesia, yaitu budaya tolong-menolong, apapun anda, dimanapun anda, serta kepada siapapun,”katanya.

Efendi melanjutkan, dengan tidak adanya strategi budaya, bangsa ini akan kehilangan cara-cara menyampaikan maupun cara-cara meresapi apa yang sudah disampaikan.

“Jangan dulu mencanangkan revolusi mental jika tidak ada dasar kuat untuk hal itu,”sebutnya.

Contoh dari belum adanya pemahaman empat Pilar MPR akibat tidak adanya strategi budaya dari pemerintah terlihat ketika seseorang masuk ke rumah sakit, bukannya diperiksa tapi ditanya terlebih dahulu siapa penjaminnya.

“Tidak ada rasa kemanusiaan untuk menolong pasien itu dulu agar terhindar dari sesuatu dan lain hal, tapi malah menanyakan biaya atau penjamin biaya jika rumah sakit melakukan upaya pertolongan,”jelasnya.

Pernyataan ini menurut Efendi bukan sebagai bantahan akan pentingnya empat Pilar MPR atau sudah berjalan dengan baik atau tidak, tapi lebih kepada apa seharusnya yang mendasari seseorang untuk memahaminya.

“Sehingga ke depannya eksekutif maupun legislatif tidak perlu kerepotan untuk menangani sosialisasi karena masyarakat sudah punya dasar kuat dalam memahami empat Pilar,”jelasnya.

Efendi meneruskan, ada konsekuensi yang harus dihadapi oleh bangsa ini terkait sinergi sosialisasi serta dasar seseorang memahami empat Pilar MPR antara legislatif, eksekutif dan media.

“Dalam empat Pilar ada yang bernama Bhinneka Tunggal Ika, sehingga potensi-potensi pertentangan akan bermunculan di media sosial seiring dengan gerakan penanaman empat Pilar MPR tersebut,” sambung Efendi.

Efendi juga memandang, bahwa semakin Bhinneka suatu bangsa, semakin tinggi potensi pertentangannya. Ditambah semakin deras arus peredaran berita Hoax di media sosial. Dan ini adalah konsekuensi yang harus dihadapi bersama-sama. Dengan kata lain, sinergi empat Pilar antara pemerintah dengan media justru menimbulkan kontradiksi, karena Kebhinnekaan adalah lahan subur untuk sebuah pertentangan di media sosial.

” Kalau begitu kembali ke poin awal, bahwa dalam konteks sosialisasi empat Pilar, harus ditanamkan terlebih dahulu strategi budaya sebagai dasar merangkak sebelum belajar untuk berdiri,” pungkas Efendi.

Suasana Diskusi 4 Pilar MPR

Menyikapi pandangan Efendi Ghazali, Tifatul Sembiring menilai inilah tantangan Indonesia untuk membangun Indonesia dengan menanamkan empat Pilar MPR di bawah hujan perbedaan pada era reformasi dan demokrasi seperti sekarang.

” Memang benar, negara ini butuh strategi budaya. Tapi bukan berarti menghentikan dulu sosialisasi empat Pilar, akan tetapi ini tantangan yang harus dilewati bersama-sama. Dengan kebersamaan itulah semoga terbangun kembali strategi budaya sebagai dasar memahami sekaligus mensosialisasikan empat Pilar MPR ke depan,” Tifatul mengakhiri perbincangan.

Jurnalis : Miechell Koagouw / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Miechell Koagouw

Lihat juga...