SENIN, 27 FEBRUARI 2017
LAMPUNG — Keprihatinan akan berkurangnya tanaman cengkeh di wilayah lereng Gunung Rajabasa, membuat Jaka Susila (29) warga Desa Way Kalam Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, membudi-dayakan tanaman bahan baku pembuatan rokok dan jenis obat-obatan yang memiliki nilai jual tinggi tersebut. Jaka mengatakan, di wilayah Gunung Rajabasa yang merupakan sentra perkebunan cengkeh yang pernah berjaya pada 1980, kini banyak yang ditebangi.
![]() |
| Jaka Susia (kiri), penjual bibit cengkeh |
Di wilayah Way Muli, Batu Balak dan sebagian wilayah pesisir Kecamatan Rajabasa, banyak pohon cengkeh telah ditebangi untuk diganti tanaman lain seperti kopi, coklat dan jagung, akibat harga jual cengkeng yang anjlok hingga Rp 3.000 per kilogram. Namun, menurut Jaka, sejak harga cengkeh mulai membaik pada 2000, dengan harga jual mencapai Rp. 50.000 per kilogram, dan pada 2017 ini mencapai Rp. 100.000 per kilogram, membuat sebagian pekebun kembali menanam cengkeh di perkebunan serta di lahan lahan kosong yang selama ini tidak ditanami pohon.
Jaka sendiri sebagai penjual bibit cengkeh, mengaku membeli benih dari petani yang memiliki pohon cengkeh kualitas bagus dengan sistem beli per batang dengan harga Rp. 200.000 per batang. Ia mengaku membeli 5 pohon seharga Rp. 1 juta, untuk dipilih biji cengkeh terbaik sebagai benih untuk persemaian. “Kita pilih bibit yang terbaik dan perlakukan yang sangat intens dengan penggunaan tanah humus dari mulai pembenihan dan selanjutnya diberi pupuk cair pada umur dua bulan, untuk perkembangan selanjutnya” ungkap Jaka, saat ditemui Cendana News tengah menjual bibit cengkeh kepada masyarakat di Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan, Senin (27/2/2017).
Budidaya cengkeh yang ditekuninya sejak belasan tahun lalu, lanjut Jaka, bermula dari kecintaannya terhadap cengkeh dan selalu membantu orangtua yang terlebih dahulu melakukan budidaya cengkeh, dan memiliki ribuan batang cengkeh yang ditanam di lereng Gunung Rajabasa. Dalam setahun, ia mengeluarkan biaya untuk pembibitan dan biaya operasional sebesar Rp. 40 Juta, di antaranya untuk tenaga kerja mengisi tanah di polybag hingga pembelian pupuk jenis mutiara. Sementara itu, ia mendapatkan omset sebesar Rp. 140 Juta per tahun, dari penjualan bibit cengkeh, baik yang dijualnya keliling desa maupun yang dijualnya di tempat budi-daya di belakang rumahnya.
Jaka megatakan, biasanya pembeli skala besar akan melihat contoh bibit cengkeh yang dijualnya secara keliling dengan menggunakan sepeda motor, lalu setelah memesan dalam jumlah ribuan akan dikirim menggunakan mobil. Selama menjual dengan menggunakan kendaraan roda dua, khusus dilakukan untuk wilayah Lampung Selatan, sedangkan wilayah luar Sumatera seperti Cilegon, ia menggunakan kendaraan roda empat.
![]() |
| Saleh, salah-satu petani cengkeh |
Bibit cengkeh yang dijual keliling tersebut, kata Jaka, berusia sekitar 18 bulan yang dibawa menggunakan obrog (wadah dari bambu) dengan jumlah yang dibawa sekitar 100 bibit, dan rata-rata selalu habis setiap dibawanya keliling ke sejumlah kecamatan. Selain beberapa warga membeli dengan harga per batang Rp. 5.000, bagi yang akan membeli dalam jumlah banyak Jaka mengaku bisa mengirim menggunakan kendaraan roda empat.
Bibit cengkeh berusia 1,5 tahun rata-rata dijualnya kepada konsumen dengan harga Rp. 5.000 dengan ukuran 40 centimeter, sementara untuk bibit cengkeh usia 2,5 tahun dengan tinggi pohon 100 centi meter dijual seharga Rp. 10. 000.
Salah-satu penanam cengkeh, Saleh (51), mengaku menanam sekitar 100 batang dengan umur 4 tahun bisa memanen cengkeh sekitar 50 kilogram, yang dijualnya kepada pengepul seharga Rp. 90.000 per kilogram. Ia mengungkapkan, menanam cengkeh baginya merupakan investasi, karena cengkeh menjadi komoditas yang bisa disimpan di gudang dan baru dijual ketika harga mahal. “Kalau harga sedang anjlok, pemilik cengkeh akan menyimpan di gudang. Sementara, saat harga naik, segera dijual sebagai tabungan masa depan,” ungkapnya.
Saleh mengatakan, penanaman cengkeh bisa ditanam bersama tanaman lain dengan sistem tumpang sari. Guna memudahkan penjualan cengkeh di wilayah Way Kalam, Saleh juga mengatakan, ada yang bekerjasama melalui pola kemitraan dengan perusahaan rokok.
Jurnalis: Henk Widi/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Henk Widi
