SABTU, 25 FEBRUARI 2017
JAKARTA — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Warga RT02, RW04, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Rosita, sudah berdagang pakaian jadi selama tiga tahun dengan menggunakan beragam cara, mulai dari menawarkan rumah ke rumah ke sesama tetangga, menggunakan media sosial ke sesama teman di luar Jagakarsa, hingga secara online ke seluruh Indonesia. Perempuan kelahiran Jakarta, 3 Juli 1986 ini, selain pakaian jadi, ia juga berdagang tas wanita dan tas sekolah anak-anak sampai remaja.
| Rosita |
Di usia 31 tahun, Ita sapaan akrabnya, memiliki banyak keinginan dalam kehidupannya. Salah satu keinginannya membeli kendaraan baru. Tapi untuk membeli harus rajin berdagang sekaligus memiliki omset besar. Dengan omset besar, otomatis keuntungan juga naik signifikan.
Tahun pertama kegiatan berdagangnya, Ita biasa mengalokasikan modal masing-masing Rp 1 juta untuk pakaian jadi dan tas sekolah maupun wanita. Dari modal Rp 1 juta, omset pakaian jadi miliknya bisa menyentuh Rp 2,5 juta. Sedangkan untuk tas sekolah maupun wanita, dengan modal Rp 1 juta ia bisa meraup omset Rp 2 juta. Keduanya diraih Ita dalam periode satu bulan penjualan.
Dengan laba bersih dari keseluruhan dagangan bisa mencapai Rp 1 juta, Ita merasa belum bisa mewujudkan impian memiliki kendaraan baru.
Akhirnya Ita memutuskan untuk menemui Ketua Posdaya Cempaka RW04 Jagakarsa binaan Yayasan Damandiri, Yessy Febriane. Ia mengajukan pinjaman modal usaha melalui Tabungan Kredit Pundi Sejahtera atau Tabur Puja. Pengajuan modal usaha Ita disetujui sebesar Rp 2 juta dengan cicilan pelunasan 12 bulan.
“ Dari modal dua juta rupiah, saya alokasikan satu juta untuk pakaian jadi dan satu juta rupiah sisanya untuk tas wanita dan anak-anak,” sebut ibu dari seorang anak tersebut kepada Cendana News.
Ita mampu menjual 25 buah pakaian jadi dan 15 buah tas dalam satu bulan. Dan tanpa terasa cicilan Tabur Puja sudah lunas untuk putaran pertama. Ita langsung mengajukan pinjaman kedua di Tabur Puja. Karena tabungan dan kondite pembayaran Ita baik, Tabur Puja mencairkan pinjaman kedua sebesar Rp 3 juta. Dan kembali Ita mengalokasikan seluruh pinjamannya tersebut untuk dagangan pakaian jadi serta tas.
Dengan pinjaman baru dan suasana baru penuh semangat, Ita terus meningkatkan penjualan. Dalam satu bulan, dari hanya mampu menjual 25 pakaian, Ita mampu meningkatkannya menjadi 40 pakaian. Dan angka penjualan tas sejumlah 15 buah per bulan berhasil didongkrak menjadi 25 buah. Omset dan pendapatan otomatis meningkat, akhirnya Ita dan suaminya masing-masing berhasil memiliki kendaraan baru dalam kurun waktu tiga tahun usaha yang dilakukan Ita.
“ Uang milik suami digabungkan uang saya, kami mengganti sepeda motor lama masing-masing dengan yang baru. Alhamdulillah semua bisa kami beli cash, tidak kredit,” kata Rosita.
Sekarang cicilan Tabur Puja Ita sudah berjalan tiga kali. Dan Ita juga sedang dalam suasana hati yang bagus untuk terus meningkatkan penjualannya. Harapan ke depan Ita untuk Tabur Puja agar bisa terus menjadi pendamping para pengusaha kecil di wilayah Jagakarsa khususnya RW04. Masih banyak impian yang belum terwujud di Jagakarsa, dan Tabur Puja Yayasan Damandiri bisa menjadi jawaban untuk mewujudkan apapun impian para pedagang kecil itu.
“ Semua pedagang kecil adalah pekerja keras, ulet dan kalau bisa dikatakan sangat militan gerakannya. Pedagang kecil seperti kami hanya butuh pendamping yang cocok. Damandiri lewat Tabur Puja berhasil mengambil peran tersebut, sama seperti yang telah dilakukan kepada saya,” pungkas ibu muda anak satu ini kepada Cendana News.
Sementara itu, Ketua Posdaya Cempaka RW04 Jagakarsa binaan Yayasan Damandiri, Yessy Febriane mengungkapkan keberhasilan Rosita. Keuletan dan cara meyakinkan konsumen yang dimiliki saat masih menjadi SPG salah satu super market pusat belanja ternama Ibukota turut mendukung kenaikan angka penjualan.
“ Ita itu punya kelebihan melakukan persuasi kepada konsumen. Caranya yang lemah lembut mampu meyakinkan siapapun untuk menjadi pelanggan tetap dagangannya,”katanya.
Jurnalis : Miechell Koagouw / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Miechell Koagouw