Damandiri Kucurkan Modal untuk Pengrajin Daur Ulang Lintas Pulau

MINGGU, 26 FEBRUARI 2017

JAKARTA — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Marini Tinuk namanya, murah senyum dan pastinya ramah. Begitulah kesan yang didapat ketika bertemu pengusaha daur ulang kreatif dari daerah Rawa jati, di sekretariat Posdaya Tunas Mekar binaan Yayasan Damandiri di Gang Tan Malaka II RW02, Rawa jati, Jakarta Selatan.

Tinuk dan Bunga hasil produksinya

Perempuan kelahiran Sukoharjo, 16 Juni 1968 ini sudah kurang lebih beberapa tahun belakangan ini menggeluti bisnis daur ulang. Andalan Tinuk, sapaan karibnya, adalah mengolah sampah organik botol minuman plastik menjadi bunga hias aneka warna. Keahlian ini didapat melalui kegiatan PKK yang sudah belasan tahun diikutinya.

Bermodal cat semprot (pilox), gunting, cutter, patri (solder) beserta timahnya dan lem cair, Tinuk menuangkan kreatifitas membuat bunga-bunga indah untuk hiasan interior. Dalam satu bulan, ia bisa memproduksi 10 hingga 15 bunga hias aneka warna dari botol plastik kemasan. Bahan membuat bunga tersebut didapat dari bank sampah atau jika memang banyak pesanan Tinuk pasti berusaha membelinya dari pengepul sampah organik maupun pemulung.

Hasil kerajinan tangan Tinuk ternyata sudah banyak dikenal oleh para penggiat RW, RT, Kelurahan Rawa jati, Kecamatan Pancoran, Kodya Jakarta Selatan serta masyarakat Rawa jati khususnya di daerah kediamannya RT03, RW02, Rawa jati. Bahkan produk daur ulang Tinuk sudah menyeberang pulau ke Pangkal Pinang dan Belitung. Sebanyak 50 paket  rutin dikirim Tinuk setiap bulannya ke dua daerah tersebut.

Untuk bunga ukuran kecil dijual Tinuk seharga Rp 35 ribu, ukuran besar Rp 50 ribu dan motif anggrek Rp 100 hingga 150 ribu tergantung warna dan lekuk kelopak anggrek. Bahkan Tinuk melayani paket bunga aneka warna seharga Rp 150 ribu dengan permainan warna menyala indah.

Karena sudah terkenal, ditambah rajin ikut bazaar maupun pameran baik kecil maupun besar, intensitas pesanan mulai membuatnya kelimpungan. Bukan saja kelimpungan dalam pembuatan akan tetapi juga kelimpungan dalam hal permodalan.

“ Kerajinan tangan yang saya geluti ini boros penggunaan cat semprot dan timah patri. Jika berusaha irit pasti hasilnya buruk karena kelopak bunganya mudah lepas,” ujar Tinuk kepada Cendana News.

Bunga dari bahan botol plastik kemasan

Sejak awal Januari 2017, ia sudah mendengar info pameran kerajinan tangan besar di Senayan Jakarta. Tinuk ingin ikut pameran itu agar bisa promosi dan menjual hasil kerajinan tangannya.
Karena kebutuhan modal usaha sudah semakin kuat, dan ia tahu di Posdaya Tunas Mekar ada program pinjaman modal usaha bunga ringan 1,5 persen bernama Tabungan Kredit Pundi Sejahtera (Tabur Puja).

Tinuk langsung mengajukan pinjaman modal usaha kepada Kepala Bidang (Kabid) Tabur Puja Posdaya Tunas Mekar, Henny Anggraeni. Dan akhirnya Yayasan Damandiri mengabulkan pengajuan Tinuk. Pada 24 Januari 2017, Tinuk menerima pencairan dana Rp 2 juta dari Tabur Puja Damandiri dengan termin cicilan 12 kali. Dan Februari 2017 ini sudah masuk pembayaran cicilan pertama sebesar Rp 202 ribu, tepatnya Jumat, 24 Februari 2017.

Pada bulan pertama pinjamannya, Tinuk langsung berpacu membuat kerajinan bunga andalannya. Setiap hari ia terus menumpahkan kreatifitas untuk memproduksi bunga-bunga cantik nan unik dengan permainan warna mempesona.

“ Sabtu, 25 Februari 2017 besok, saya ada pameran kerajinan tangan di JHCC Senayan. Jadi selama satu bulan belakangan sibuk memproduksi bunga-bunga dari bahan daur ulang untuk dipamerkan sekaligus dijual di sana,” pungkas Tinuk.

Jurnalis : Miechell Koagouw / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Miechell Koagouw

Lihat juga...