Kenalkan Wayang Kekayon Khalifah, Ki Lutfi Caritogomo Keliling Masjid

MINGGU, 26 FEBRUARI 2017

YOGYAKARTA —  Sebagai salah satu kesenian asli Indonesia, wayang memang telah berkembang seiring perkembangan zaman. Banyak seniman melakukan kreasi-kreasi sehinggga memunculkan jenis-jenis wayang baru. Salah satunya adalah Wayang Kekayon Khalifah yang kental dengan nuansa Islam. 
Ki Lutfi Caritogomo saat sedang melakukan pertunjukan wayang Kekayon Khalifah
Tak seperti wayang kulit atau purwo, wayang Kekayon Khalifah ini menggunakan jenis wayang maupun lakon yang sama sekali berbeda. Jika wayang kulit biasa mengangkat lakon cerita Ramayana atau Mahabarata, maka wayang Kekayon Khalifah ini mengangkat cerita kekhalifahan atau kepemimpinan Rasulullah Muhammad dalam awal penyebaran Islam. 
Sesuai ajaran ilmu fikih Islam yang tidak boleh nenggambaran sosok makhluk hidup khususnya nabi, maka setiap tokoh wayang kekayon khalifah ini pun dibuat seluruhnya berbentuk gunungan. Pembedaan setiap tokohnya hanya berdasarkan motif dan corak kaligrafi yang terdapat pada tokoh wayang. 
Adalah Ki Lutfi Caritogomo, sosok yang sejak awal mengembangkan wayang kekayon Khalifah ini. Lelaki bernama asli Luthfianto (37), warga Jetis Tamantirto Kasihan Bantul ini mulai mengembangkan wayang Kekayon Khalifah sejak beberapa tahun terakhir. 
“Awalnya tahun 2013 itu ada kongres wayang. Dari situ saya kemudian tertantang untuk membuat wayang yang tidak mainstream. Karena saya orang Muslim dan pengen belajar tentang kitab-kitab Sirah Nabawiyah (perjalanan hidup nabi), maka saya bersama kawan-kawan akhirnya membuat wayang kekayon Khalifah ini,” ujar lelaki lulusan Sastra Jawa UGM itu belum lama ini. 
Ki Lutfi Caritogomo
Dibantu kawan kawannya yang tergabung dalam Qilafah Art Network dan sejumlah teman lainnya, Lutfi pun mulai membuat tokoh-tokoh wayang seperti Rasulullah Muhammad, khalifah Al Rasyidin yakni Abu Bakar, Umar bin Khatab, Usman bin Affan dan Ali bin Abu Tholib, hingga sahabat Nabi yang lain. 
“Saat ini baru ada 10 tokoh wayang yang kita buat. Rencananya kita akan membuat 60 tokoh sahabat Nabi. Semuanya model kekayon atau gunungan dan tidak berupa sosok fisik seseorang karena agar sesuai fikih Islam. Jadi hanya berupa kaligrafi gambaran sifat-sifat maupun watak para sahabat,” kata guru bahasa Jawa SMA 1 Pajangan Bantul itu. 
Seperti pertunjukan wayang pada umunya, wayang Kekayon Khalifah ini memiliki alur cerita baku, berdasarkan kitab Sirah Nabawiyah. Saat ini, Lutfi mengaku baru membuat satu skrip atau naskah lakon berbahasa Jawa berjudul “Mulabukaning Dakwah Rasul”. Terdiri dari tiga babak, dengan durasi setengah jam untuk tiap babak, lakon ini menggambaran kehidupan Rasulullah, mulai dari pertama kali turunnya wahyu, hingga perjuangan penyebaran dakwah Islam di Makkah atau Madinah. 
“Rencananya kita akan membuat lebih banyak lakon lagi. Termasuk juga menggarap iringan musiknya. Karena sampai saat ini musik belum kita garap. Masih sebatas menggunakan cempolo dan geprakan,” ujarnya di sela pementasan wayang di Masjid Nur Rahman, Dukuh Mantrijeron, Yogyakarta. 
Ki Lutfi Caritogomo saat sedang melakukan pertunjukan wayang Kekayon Khalifah
Mengenakan pakaian jawa lengkap dengan blangkon, Lutfi biasa mementaskan pertunjukan wayang Kekayon Khalifah di sejumlah masjid yang menghendaki. Ia juga rutin mementaskannya dalam pertemuan MGMP dua bulan sekali. 
“Sebenarnya wayang ini untuk mengopinikan syariah dan khilafah melalui kesenian tradisional Jawa berupa wayang. Prinsipnya tidak melanggar SARA dan fikih Islam. Harapannya tentu semakin banyak orang yang mengenal dan mempelajari tetang syariah dan khilafah,” katanya. 

Jurnalis : Jatmika H Kusmargana / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Jatmika H Kusmargana

Lihat juga...