SELASA, 24 JANUARI 2017
MAUMERE — Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, Ir. Hengky B. Sali, melalui Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Drh. Maria Margaretha Siko, M.Sc., mengatakan, pihaknya melalui Bidang Kesehatan Hewan, setiap tahun melakukan vaksin antraks pada sekitar 7.000 hewan ternak, baik kerbau, sapi dan kambing, yang ada di dua kecamatan di sebelah barat Kota Maumere, yakni Magepanda dan Alok Barat.
| Anjing milik warga di Kota Maumere, masih dibiarkan bebas berkeliaran. |
Menurut Maria, Kecamatan Magepanda merupakan daerah endemik antraks sehingga setiap tahun wajib dilakukan vaksin. Sementara, Kecamatan Alok Barat letaknya berdekatan dengan Kecamatan Magepanda sehingga harus pula divaksin secara rutin. “Kami setiap tahun wajib melakukan vaksin antraks pada hewan dan tahun ini pun kami akan melaksanakannya sekitar bulan Februari nanti,” ujarnya, Selasa (24/1/2017).
Selain melakukan vaksin antraks, lanjut Maria, pihaknya juga memberikan vaksin rabies setahun dua kali pada hewan seperti anjing dan kera, yang dipelihara masyarakat. Hal demikian dilakukan karena penyakit rabies juga masih ditemukan di wilayah tersebut. “Setiap tahun, rata-rata masih ditemukan kasus gigitan anjing yang terindikasi tertular rabies. Pada 2016, ada satu kasus gigitan yang setelah diperiksa ternyata positif rabies,” terangnya.
Korban gigitan anjing rabies ini, terang Maria, tidak meninggal dunia, karena sejak awal masuk ke rumah sakit sudah terdeteksi tertular virus rabies, sehingga langsung diberikan pengobatan hingga sembuh.
Sementara itu, lanjt Maria, populasi anjing di wilayah Magepanda juga telah mengalami peningkatan pesat, sehingga dikhawatirkan virus rabies yang masih ada bisa dengan cepat menular, sementara masyarakat juga masih membiarkan anjing peliharaannya bebas berkeliaran. “Tahun 2016 kami mengambil sampel daging anjing di dua rumah makan, ternyata setelah diperiksa di laboratorium positif mengandung virus rabies,” ungkapnya.
Karenanya, Maria berharap Komite Rabies Flores dan Lembata yang sudah terbentuk melalui SK Gubernur NTT bisa bekerja efektif dan diperhatikan pemerintah. Selama ini, komite ini tidak bisa bekerja efektif karena tidak memiliki dana. Hanya beberapa orang saja yang masih aktif bekerja secara mandiri dengan melakukan sosialisasi kepada masyarakat. “Masyarakat juga masih banyak yang tidak mau anjingnya diberi vaksin rabies, karena takut anjingnya mati. Pemahaman ini yang selalu kami temukan dan kami berusaha keras meluruskannya saat ada vaksinasi,” pungkasnya.
Jurnalis : Ebed De Rosary / Editor : Koko Triarko / Foto : Ebed De Rosary