Suluh Harapan Insani Rutin Suplai Gizi Murid

RABU, 25 JANUARI 2017

LAMPUNG — Kegiatan belajar di rumah belajar Suluh Harapan Insani di Desa Giri Mulyo, Kecamatan Marga Sekampung, Kabupaten Lampung Timur, hingga kini masih menjadi rutinitas Lusia Yuli Hastiti (27). Gadis yang mendedikasikan hidupnya untuk mengajar puluhan anak-anak usia sekolah di desanya. Menurut Lusia Yuli Hastiti, saat ini sudah puluhan anak yang belajar di rumah belajar yang ada di samping rumah orang tuanya dengan bangunan sepanjang 6×4 meter. Berdinding papan, berlantai semen, dan atapnya dari asbes. Kegiatan belajar yang langsung dikelola oleh Lusia tersebut, di antaranya kegiatan belajar tambahan pelajaran di sekolah, kursus bahasa Inggris serta tambahan pelajaran lain bagi siswa yang akan menghadapi ujian.

Anak-anak mendapatkan asupan makanan bergizi secara rutin.

Lusia mengungkapkan, sebagai sebuah rumah belajar, Suluh Harapan Insani kini memiliki ratusan buku dan terus bertambah seiring dengan semakin banyaknya donatur buku yang memberikan buku-buku untuk dibaca anak-anak usia Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di desa tersebut. Ia menegaskan, anak-anak tersebut mengikuti kegiatan belajar di rumah belajar yang dikelolanya bersama salah seorang rekannya, Yunita (20). Ia selama ini juga berprofesi sebagai guru Taman Kanak-kanak (TK), sementara Lusia sendiri juga mengajar di Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang ada di Kecamatan Marga Sekampung.

“Semula siswa yang belajar memang hanya sedikit. Tapi, lama kelamaan banyak yang berminat dan hingga kini siswa menjadi puluhan orang sehingga guru pengajar pun bertambah,” ungkap Lusia Yuli Hastiti, penggagas Rumah Belajar Suluh Harapan Insani di Desa Giri Mulyo, Kecamatan Marga Sekampung, Kabupaten Lampung Timur, saat dikonfirmasi Cendana News, Rabu (25/1/2017).

Tambahan pelajaran serta buku-buku bermutu yang sebagian merupakan donasi dari komunitas peduli membaca, diakuinya telah memberi “nutrisi” bagi anak-anak yang ada di desa tersebut. Sebab, selama ini, anak-anak di desa yang jauh dari wilayah kota tersebut jarang membaca buku-buku bacaan terutama untuk anak-anak usia sekolah dasar dan sekolah menengah pertama bahkan kini sebagian anak-anak usia taman kanak-kanak pun ikut belajar di rumah belajar tersebut.

Pemberian Asupan Makanan Bergizi
Keceriaan anak-anak yang masih memiliki semangat belajar tinggi tersebut, ungkap Lusia, tak hanya saat akan belajar di Rumah Belajar Suluh Harapan Insani. Melainkan juga saat ada waktu khusus, misalnya ketika  ia memberikan asupan makanan tambahan bergizi bagi anak-anak tersebut. Khusus untuk makanan tambahan yang diberikan bagi anak-anak didiknya, ia mengaku, diberikan setiap sebulan sekali dengan memberikan makanan berupa kue-kue tradisional, makanan bubur kacang hijau, serta minuman susu. Pada saat tertentu, anak-anak didiknya pun mendapat makanan tambahan berupa nasi urap, telur rebus, dan es buah saat desa tersebut mengalami musim buah.

“Saya tetap memperhatikan kebutuhan asupan gizi bagi anak-anak didik saya. Hari ini pemberian susu dan bubur kacang hijau diberikan di sela-sela aktivitas belajar sebelum mereka pulang,” ungkap Lusia Yuli Hastiti.

Khusus untuk kegiatan pemberian makanan tambahan yang diberikan bertepatan dengan hari gizi tersebut, Lusia mengaku, proses pengolahan dilakukan dibantu oleh keluarga dan beberapa orang tua yang anak- anaknya belajar di rumah belajar miliknya. Selain menjadi penyemangat bagi anak-anak terutama usia TK, SD dan SMP, kebutuhan gizi bagi anak-anak di desa tersebut, diakui oleh Lusia, harus terus mendapat perhatian. Sebab, selama ini, terkadang anak-anak didiknya sebagian berasal dari keluarga kurang mampu.

Bubur kacang hijau dan susu yang sebagian berasal dari uang pribadi Lusia serta sebagian dari iuran para orang tua yang menitipkan anak-anaknya sengaja diberikan secara berkala. Pemberian tambahan makanan bergizi tersebut, diakuinya, selain mendapat respon positif dari para orang tua, sekaligus mempraktikkan beberapa isi buku bacaan yang ada di perpustakaan Rumah Belajar tersebut. Berupa penerapan resep masakan bergizi serta sumber-sumber asupan gizi yang baik bagi anak-anak usia sekolah.

“Sebagian buku-buku juga bisa dibaca oleh para orang tua terutama kaum ibu yang menyukai buku-buku resep masakan. Dalam waktu tertentu bisa dipraktikkan dan anak-anak yang menikmatinya,” ungkap Lusia.

Selain menjadi kesempatan untuk menikmati makanan bergizi, kegiatan makan bersama bagi anak-anak di rumah belajar Suluh Harapan Insani, diakui Lusia, bisa menjadi kesempatan untuk mengajarkan nilai-nilai positif lainnya. Nilai-nilai positif tersebut, di antaranya, kegiatan cuci tangan sebelum makan, berdoa, serta bisa saling menghargai teman-teman yang ada di rumah belajar Suluh Harapan Insani tersebut.

Selain kegiatan belajar, sebagian siswa yang ikut belajar di rumah belajar Suluh Harapan Insani tersebut juga diajari untuk bisa memanfaatkan lahan pekarangan yang ada. Sebagian diberi pelatihan cara menanam sayuran dalam polybag serta tanaman lain di antaranya cabai, tomat, serta tanaman sayuran petik yang bisa dimanfaatkan untuk tanaman sayuran. Selain mempraktikkan dari buku-buku bacaan yang ada di rumah belajar Suluh Harapan Insani.

“Kita tak hanya belajar dari buku-buku dan pelajaran sekolah. Tapi juga mengajari anak-anak untuk mengaplikasikan hal-hal yang sudah dibaca di antaranya tentang menjaga kebersihan rumah dan menanam tanaman hias dan tanaman sayuran,” terang Lusia.

Lusia Yuli Hastiti membereskan mangkuk sehabis untuk makan bubur kacang hijau anak didiknya.

Ia juga mengungkapkan, keberadaan rumah belajar Suluh Harapan Insani yang bisa menjadi sumber penerangan dan harapan bagi anak-anak dan para orang tua di desa tersebut. Tak hanya berkaitan dengan keilmuan di sekolah. Penyediaan buku-buku yang sebagian bisa dibawa pulang untuk dipinjam di antaranya buku-buku pertanian, peternakan, dan resep masak, juga ikut memberi ilmu bagi para orang tua yang bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Termasuk bagaimana cara meningkatkan usaha perbaikan gizi keluarga melalui usaha peternakan dan memanfaatkan lahan untuk pembuatan kolam ikan dengan terpal.

Jurnalis: Henk Widi / Editor: Satmoko / Foto: Henk Widi

Lihat juga...