Sosialisasikan Uang Baru, BI DIY Terjunkan Personil ke Pasar Tradisional

SENIN, 9 JANUARI 2017

YOGYAKARTA — Kantor Perwakilan Bank Indonesia Cabang DIY menerjunkan personil petugas lapangan ke sejumlah pasar tradisional guna mengenalkan mata uang baru secara langsung pada masyarakat. Pasar tradisional dipilih karena dinilai menjadi salah satu pusat kegiatan perekonomian sekaligus peredaran uang, khususnya di kalangan rakyat kelas menengah ke bawah.

Petugas menunjukkan ciri-ciri uang asli pada mata uang rupiah baru.

Deputi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Cabang DIY, Hilman Tisnawan,  menyebutkan, sosialisasi ke sejumlah pasar tradisional itu dilakukan di semua wilayah DIY, baik Kotamadya Yogyakarta, Kabupaten Sleman, Bantul, Kulonprogo maupun Gunungkidul. Ia mengatakan, sosialisasi itu tidak dilakukan di semua pasar tradisional, namun hanya pasar induk atau pasar besar saja.

“Tidak semua pasar kita lakukan sosialisasi, hanya pasar-pasar yang besar saja. Kalau di Kota Yogyakarta seperti Pasar Beringharjo, Pasar Demangan serta Pasar Kranggan. Ini lebih pada upaya mengedukasi keaslian mata uang baru pada masyarakat, khususnya para pedagang pasar,” ujarnya di kantor Perwakilan Bank Indonesia cabang DIY, Jalan Senopati, Yogyakarta, Senin (9/1/2017).

Selama periode 19 Desember 2016 hingga 5 Januari 2017, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Cabang DIY sendiri telah menerima penarikan atau penukaran mata uang lama ke mata uang baru, senilai Rp20.682.723.000. Mata uang baru pecahan Rp50.000, menjadi mata uang yang paling banyak ditukarkan dengan nominal mencapai Rp8.788.800.000. Diikuti pecahan mata uang Rp100.000, dengan nominal mencapai Rp5.241.200.000 serta pecahan mata uang Rp20.000 dan Rp10.000 dengan masing-masing nominal mencapai Rp2. 559.820.000 dan Rp2.769320.000.

“Untuk penukaran pecahan mata uang Rp5ribu, sudah terealisasi sebesar Rp342.820.000, pecahan mata uang Rp2ribu mencapai Rp661.288.000 sedangkan pecahan mata uang Rp1000 mencapai Rp229.581.000,” paparnya.

Dijelaskan, proses penukaran atau penarikan mata uang jenis baru ini tidak dibatasi, namun hanya dilakukan untuk menggantikan mata uang lama. Diharapkan dengan adanya mata uang jenis baru, yang memiliki tingkat pengaman sangat tinggi ini, dapat mengurangi jumlah peredaran uang palsu yang beredar di masyarakat.

Sejumlah pengaman pada mata uang rupiah baru tersebut, antara lain, color shifting, bila dilihat dari sudut pandang yang berbeda akan memberikan efek perubahan warna secara kontras. Selain itu, bila dilihat dari sudut pandang tertentu maka akan muncul gambar tersembunyi multiwarna berupa angka nominal.

Lalu ada pengaman latent image. Bila dilihat-lihat dari sudut tertentu, maka akan muncul gambar tersembunyi berupa teks BI pada bagian depan dan angka nominal pada bagian belakang yang berbeda dengan uang sebelumnya. Selanjutnya, ada ultraviolet feature yakni penguatan desain ultraviolet feature yang berbeda dengan uang sebelumnya. Dalam mata uang baru ini, desain dikatakan bisa memendar menjadi dua warna di bawah sorotan sinar ultraviolet.

Tak cuma itu, Bank Indonesia juga memberikan sistem pengaman rectoverso. Yakni bila diterawang uang baru ini akan terbentuk gambar saling isi berupa logo BI. Bagi para penyandang tuna netra BI juga memperbarui sistem pengaman blind code. Desain pada bentuk kode tuna netra berupa efek rabaan, untuk membedakan antarpecahan, pada mata uang baru ini dapat dilakukan dengan lebih mudah.

“Pembuatan dan pencetakan mata uang baru ini dilakukan dengan tingkat presisi sangat tinggi. Sehingga jika dua atau lebih lembaran uang kertas dijejer, maka desain gambar akan terlihat seperti nyambung,” tambahnya.

Jurnalis:  Jatmika H Kusmargana / Editor: Satmoko / Foto: Jatmika H Kusmargana

Lihat juga...