Sahabat Bekantan Indonesia Minta 15 Ekor Bekantan di Surabaya Segera Dipulangkan

SENIN, 9 JANUARI 2017

BANJARMASIN — Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) meminta Pemerintah Provinsi dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan mempercepat pemulangan 15 ekor bekantan dari Kebun Binatang Surabaya ke habitat asalnya di Kalimantan Selatan. Penasehat SBI, Feri Lens, mengatakan, proses pemindahan satu kelompok bekantan itu dalam konsep government to government.
Markas Rehabilitasi Bekantan milik SBI di Banjarmasin.
“Kami sebagai lembaga nirlaba dan mewakili masyarakat, hanya ingin pemulangan bekantan segera dikembalikan. Teknis pemulangan itu ranah Pemda dan BKSDA,” ujar Feri Lens, saat ditemui di penangkaran bekantan milik SBI, Senin (9/1/2017).
Dia mendengar, manajemen KBS sejatinya sudah memberikan sinyal positif atas rencana pemulangan 15 dari 62 ekor bekantan yang hidup di sana. Persoalannya, kata Feri, BKSDA dan Pemprov Kalsel belum membahas di mana tempat yang sesuai untuk menampung 15 ekor bekantan tersebut. Menurut Feri, satu kelompok bekantan pindahan itu sebaiknya menempati Kebun Binatang Jahri Saleh, Kota Banjarmasin.
Ia mengakui, idealnya 15 ekor bekantan itu dilepas-liarkan ke area konservasi di Pulau Bakut. “Tapi, bekantan-bekantan ini sudah lama hidup di KBS, jadi tidak mudah dilepas-liarkan ke habitat asalnya. Perilakunya sudah berubah, nanti bisa dibuatkan kolam yang ada pulaunya seperti di KBS,” Feri, melanjutkan.
Sementara itu, Ketua Umum SBI, Amelia Rezeki, mengatakan, Tim Rescuer Bekantan berencana mengoperasi seekor bekantan pejantan usia 7 tahun akibat tertembak senapan angin pada Senin, 2 Januari 2016. Ia menemukan bekantan jantan ini dalam kondisi sekarat di Desa Ilung, Kabupaten Hulu Sungai Tengah. “Rencana Rabu dilakukan operasi di sini,” ujarnya.
Saat pertama menemukan si bekantan malang itu, Amelia lekas membawa ke RSUD Damanhuri untuk tindakan pertama. Dokter hewan sempat mengeluarkan dua dari empat proyektil peluru yang bersarang di kaki kanannya. “Kemungkinan karena konflik dengan warga, lalu warga menembaknya,” kata Amelia.
Menurut Amelia lagi, dokter menolak mengeluarkan semua proyektil, karena melihat kondisi bekantan yang masih stres dan tingginya resiko kematian. Itu sebabnya, kata dia, si bekantan sementara dikasih obat anti radang untuk memulihkan fisiknya. “Perlu pemulihan trauma dulu. Kami memberi makanan jambu dan tumbuhan liar yang banyak kandungan airnya,” pungkas Amelia.

Jurnalis : Diananta P. Sumedi / Editor: Koko Triarko / Foto : Diananta P. Sumedi

Lihat juga...