Puluhan Tahun SDN 5 Sumur Lampung Selatan Kekurangan Guru dan Murid

SELASA, 10 JANUARI 2017

LAMPUNG — Puluhan siswa Sekolah Dasar Negeri 5 Sumur, Kecamatan Ketapang, Kabupaten Lampung Selatan, terpaksa harus belajar dalam ruang kelas dengan sistem rangkap. Salah-satu Guru Honorer di SDN 5 Sumur yang tinggal di Pulau Sumatera, Sakdiah, mengatakan, setiap hari ia harus rela mengajar Kelas II dan III sekaligus, karena keterbatasan ruang kelas. Tak hanya itu, Sakdiah pun juga harus menempuh perjalanan ke sekolah di pulau terluar tersebut menggunakan perahu.
Sejumlah murid SDN 5 Sumur tampak sedang belajar di kelas.
Sakdiah, yang ditemui Selasa (10/1/2017), mengungkapkan, kelas yang diajarnya terpaksa dijadikan kelas rangkap akibat jumlah siswa yang sedikit. Kelas II hanya ada 5 siswa terdiri dari siswa putri sebanyak 1 orang dan 4 siswa putri. Sementara Kelas III sebanyak 3 siswa putra dan 4 siswa putri. “Saya harus memberikan pelajaran yang berbeda untuk siswa di kelas yang sama yang disekat-sekat menggunakan papan triplek. Tapi, proses belajar-mengajar tetap bisa berjalan dengan baik,” ungkapnya. 
Bersama 7 guru lainnya di SDN 5 Sumur, Sakdiah harus mengajar di sekolah tersebut meski harus berangkat menggunakan perahu kayu dari Dermaga Keramat, Desa Sumur, Kecamatan Ketapang. Perahu yang merupakan sumbangan dari Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan itu pun dikatakannya sudah rusak, dan kini tak lagi digunakan, sehingga terpaksa menggunakan perahu milik pribadi, meski dengan fasilitas pelampung dan sarana keselamatan yang tidak memadai. Para guru pun berharap, pemerintah memiliki kepedulian untuk memberikan bantuan kapal bagi para guru dan siswa.
SDN 5 Sumur. Insert: Iswandi, Kepala Sekolah SDN 5 Sumur.
Kepala Sekolah SDN 5 Sumur, Iswandi, mengatakan, 7 tenaga pengajar di sekolahnya terdiri dari 5 guru  laki-laki dan 2 guru perempuan. Sebanyak 7 guru yang menjadi tenaga pengajar itu, 4 di antaranya berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan 3 guru lainnya masih honorer, termasuk operator sekolah.
Iswandi mengungkapkan, kondisi yang dialami sekolahnya masih jauh dari standar minimal sebuah sekolah dasar, yang mengharuskan ada sebanyak 9 orang, terdiri dari 6 Guru Umum, 1 Kepala Sekolah, 1 Guru Agama dan Guru Olahraga di setiap Sekolah Dasar. Meskipun belum sesuai dengan sarat minimal sesuai petunjuk teknis Dinas Pendidikan, aktivitas belajar-mengajar tetap berjalan dengan baik. “Kita sebetulnya masih kekurangan guru, namun karena mengajar di pulau banyak  guru yang tidak bersedia mengajar, karena jaraknya yang jauh dan fasilitas yang kurang memadai,” terangnya.
Para guru dan murid di SDN 5 Sumur harus naik kapal untuk pulang pergi sekolah.
Hingga saat ini, sejumlah siswa yang merupakan anak-anak warga Pulau Rimau Balak di antaranya Kampung Buah Berak serta beberapa kampung lain, sebagian terpaksa menggunakan perahu untuk berangkat sekolah. Pada tahun ajaran ini, Iswandi mengakui jumlah siswa yang bertahan di antaranya Kelas I sebanyak 5 orang, terdiri dari siswa Kelas II sebanyak 1 siswa putra dan 4 siswa putri. Kelas III dengan 7 siswa terdiri dari 3 putra dan 4 putri. Kelas IV sebanyak 4 siswa putra dan 4 putri. Kelas V sebanyak 5 siswa terdiri dari 3 putra dan 2 putri. Kelas VII dengan siswa putra 4 dan 2 putri.
Salah-satu siswa Kelas VI, Santi, mengaku berangkat ke sekolah menggunakan perahu bermesin diantar sang ayah, karena kampung yang berada di seberang Pulau Rimau Balak yang harus ditempuh dengan menyusuri pantai. Ia berencana akan melanjutkan sekolah di Pulau Sumatera, karena sekolah di tempat tersebut tidak ada fasilitas Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Jurnalis : Henk Widi / Editor : Koko Triarko / Foto : Henk Widi

Lihat juga...