Pontren Miftahul Huda Cerdaskan Santri dan Masyarakat Sekitar

SELASA, 3 JANUARI 2017

LAMPUNG — Sebagai sebuah lembaga pendidikan berbasiskan agama Islam, Pondok Pesantren (Pontren) Miftahul Huda ikut membangun akhlak, pendidikan karakter, pendidikan keilmuan umum serta pendidikan keislaman bagi ratusan santri yang ada di dalamnya. Demikian diungkapkan oleh kepala pontren Miftahul Huda, H.Kusnadi Ahmad (40) yang sering dipanggil “abah” oleh para santri didikannya.
Para santri serius mendengarkan pelajaran dari guru
Sebagai sebuah pesantren terpadu dengan ratusan santri berasal dari beberapa kabupaten di Provinsi Lampung, pesantren tersebut dilengkapi dengan asrama, ruang belajar, tempat ibadah, aula, serta fasilitas untuk mengajarkan jiwa wirausaha bagi para santri dengan unit usaha warung untuk masyarakat.
H.Kusnadi Ahmad mengungkapkan, pondok pesantren tersebut merupakan salah satu cabang dari Miftahul Huda yang selama ini tersebar di seluruh Indonesia. Khusus di Lampung merupakan pontren ke-1041 di seluruh Indonesia. 
Sebagai cabang dari Pontren yang berpusat di Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat, Kusnadi mengungkapkan di pusatnya pondok pesantren tersebut didirikan oleh almarhum KH.Choer Afandi (dikenal dengan julukan UWA Ajengan) bin Raden Mas Haji Abdullah yang terlahir pada tanggal 12 September 1921 Masehi berserta isterinya Hj. Siti Shofiyyah mengembangkan pesantren hingga ke berbagai daerah berkat para santrinya yang kembali ke setiap daerah termasuk di Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan.
“Kami yang belajar di pesantren pusat di Tasikmalaya memiliki tugas untuk membuat pesantren yang juga memiliki ikatan dan semangat pendiri di setiap daerah, ikut mencerdaskan bangsa dan juga memberi bekal keilmuan agama Islam bagi generasi muda dan menjadi contoh bagi masyarakat,”ungkap kepala pondok pesantren Miftahul Huda Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan,H.Kusnadi ahmad kepada Cendana News, Selasa (3/1/2017).
Sebagai sebuah lembaga pendidikan, ia mengaku lembaga pendidikan pesantren berada di bawah struktur Kementerian Agama Republik Indonesia dengan kurikulum yang telah ditetapkan. Meski demikian ia mengakui pelajaran pelajaran keagamaan juga dilakukan sepanjang hari bagi para santri karena semua santri tinggal di asrama. 
Meski demikian  selain bagi para santri yang berjumlah sekitar 165 orang santri laki laki dan wanita. Pondok pesantren Miftahul Huda juga memberi kesempatan bagi siswa usia sekolah dari SD hingga SMP dan masyarakat umum untuk belajar beberapa pelajaran keagamaan saat sore hingga malam hari.
Suasana belajar para santri di pondok pesantren Miftahul Huda Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan
Pelajaran yang selalu diberikan kepada para santri yang berasal dari luar dan tidak tinggal di asrama diantaranya akidah Islamiah yang dilakukan bertahap dari siang hingga sore, praktek Sholat bagi siswa yang masih jenjang sekolah dasar, pengenalan Tauhid yang dimulai saat sore hari, selain itu pun diajarkan kitab Kuning, dimana semua pelajaran tersebut akan diintensifkan selama bulan Ramadhan. 
Secara khusus selama bulan Ramadhan bagi para santri di lingkungan asrama serta santri yang datang dari luar juga dilakukan program Khatam Quran dengan program “one day one juz” dengan menghapalkan satu juz Alquran setiap hari sehingga dalam satu bulan tersebut akan dites hapalan satu demi satu bagi para santri. Program satu hari satu juz Alquran tersebut dimaksudkan agar para santri lebih khusuk dalam menghapal Alquran dan semakin mencintai Alquran.
Bertempat di lahan seluas dua hektar, H.Kusnadi mengakui pendidikan bagi para santri merupakan hal yang penting namun bagi masyarakat yang tinggal di sekitar pesantren ia juga memiliki tanggungjawab. Sebanyak 165 santri putra dan putri diakuinya mulai dari tingkat Madrasah Ibtidaiyah (SD) hingga Madrasah Tsanawiyah (SMP) yang berasal dari Kecamatan Penengahan di Kabupaten Lampung Selatan bahkan sebagian berasal dari Kabupaten Lampung Timur, Kabupaten Pesawaran, Kabupaten Lampung Tengah. Sebagai tempat pendidikan sekolah pesantren memiliki sebanyak 28 lokal yang dipergunakan sebagai ruang kelas dan juga aula.
“Kami tetap memiliki tanggungjawab untuk memberi nilai keilmuan bagi para santri di dalam namun memberi kesempatan bagi warga luar pesantren untuk mendalami nilai Islami diantaranya sekitar puluhan ibu akan melakukan pengajian terutama guru guru ngaji sekolah dasar saat bulan Ramadhan,”ungkap H.Kusnadi.
Peranan pesantren yang juga terbuka untuk masyarakat lain juga bahkan dalam bidang ekonomi dimana pesantren tersebut memiliki toko penjualan barang barang kebutuhan warga. Barang barang yang dijual diantaranya beras, minyak goreng, terigu serta kebutuhan masyarakat yang ada di sekitar pesantren. Toko kebutuhan tersebut sengaja dibangun untuk mengajarkan para santri berwirausaha dan juga mendapat pemasukan bagi pesantren. 
Gerbang Pesantren Miftahul Huda Pasuruan
Selain bangunan pesantren sebagai cabang ke-1041,pondok pesantren Miftahul Huda Desa Pasuruan ungkap H.Kusnadi tengah menyempurnakan pembangunan gedung baru. Bangunan baru tersebut rencananya akan digunakan sebagai lembaga Kesejahteraan Anak bagi yatim piatu. Keberadaan lembaga kesejahteraan anak yang biasa disebut Panti Asuhan tersebut juga dikelola oleh Ponpes Miftahul Huda.

Jurnalis : Henk Widi / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Henk Widi

Lihat juga...