SELASA 3 JANUARI 2016
LAMPUNG—Sekolah tingkat dasar Madrasah Ibtidaiyah (MI) Di Desa Padan Kecamatan Penengahan merupakan salah satu madrasah yang ada di Kabupaten Lampung Selatan. Berbeda dengan sekolah lain setingkat sekolah dasar yang berada di bawah Kementerian Pendidikan, Madrasah Ibtidaiyah Nurul Hidayah berada di bawah Kementerian Agama Republik Indonesia.
![]() |
| Bangunan sekolah Mi Nurul Hidayah Desa Padan Kecamatan Penengahan Lampung Selatan milik Kemenag. |
Keberadaan sekolah sekolah negeri yang ada di sekitar Desa Padan juga tak menyurutkan niat para orangtua yang tinggal di sekitar sekolah untuk menyekolahkan anak anaknya di MI tersebut dengan alasan sekolah bernuansa religius menjadi harapan bagi orangtua agar anak anaknya bisa lebih mendalami pelajaran agama di sekolah dibandingkan bersekolah di sekolah umum. Kepala sekolah MI Nurul Hidayah, Siti Nurjanah bahkan mengungkapkan hal yang sama terkait alasan orangtua menyekolahkan anak anaknya untuk lebih mendapat porsi dalam pendidikan keagamaan khususnya agama Islam.
Berada di bawah kaki Gunung Rajabasa, Madrasah dengan NIM.111.218.010 dengan jumlah siswa di bawah 100 siswa bahkan menurut data hingga akhir 2016 jumlah siswa di MI tersebut mencapai 89 siswa. Keberadaan sekolah sekolah negeri yang ada di wilayah tersebut menjadi salah satu faktor siswa semakin berkurang bahkan MI Nurul Hidayah diapit oleh dua sekolah negeri yang saat ini juga beroperasi di antaranya SDN padan dan Sekolah Negeri Babulang.
Semangat mengajar para guru tersebut bahkan terlihat dari kegiatan belajar mengajar menggunakan ruang yang terbatas diantaranya dua lokal untuk ruang belajar bagi kelas I hingga kelas VI. Ruang kelas I menggunakan ruang guru, ruang kelas II di lorong dan ruang kelas III dan IV disekat dalam satu ruangan demikian juga ruang kelas V dan VI.
“Kalau dilihat dari sisi fasilitas memang masih terbatas namun semangat belajar siswa masih sangat tinggi dengan kepercayaan para orangtua untuk menyekolahkan anaknya di madrasah apalagi saat ini sekolah negeri menjadi pilihan,”ungkap Kepala Sekolah MI Nurul Hidayah, Siti Nurjannah saat dikonfirmasi Cendana News, Selasa (3/2/2017).
![]() |
| Busro , salah satu guru mengajar di kelas III yang di sekat dengan kelas IV untuk kegiatan belajar mengajar. |
Berada di bawah Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lampung Selatan yang secara struktural merupakan bagian dari Kementerian Agama, Siti Nurjannah mengaku telah berkali kali mengajukan usulan untuk penambahan lokal bahkan usulan ke pihak donatur pun dilakukan. Lokal yang terbatas dan membuat siswa yang belajar di lorong tersebut bahkan telah mendapat peninjauan dari Wakil Bupati Lampung Selatan Nanang Ermanto.
Berdiri sejak 1973 membuat sebagian bangunan tersebut harus mendapatkan perbaikan namun dengan keterbatasan dana penambahan lokal masih belum bisa dilakukan. Beberapa siswa di kelas II yang tidak memiliki lokal bahkan harus belajar di lorong dengan kursi dan meja seadanya. Hingga saat ini tenaga pendidik terdiri dari sebanyak 8 orang berikut kepala sekolah yang sebagian merupakan tenaga honorer dengan gaji hanya sekitar Rp100 ribu per bulan dan dibayarkan setiap tiga bulan sekali.
Salah satu guru yang mengajar di sekolah di bawah Kementerian Agama tersebut diantaranya Oman (48) yang mengajar di madrasah tersebut sejak tahun 2000. Meski hanya bergaji 100 ribu rupiah per bulan namun Oman tetap melakukan tugasnya mengajar untuk beberapa kelas terutama pelajaran agama.
Upaya untuk menambah penghasilan di samping sebagai guru honorer di MI Nurul Hidayah dilakukannya dengan berjualan donat. Donat yang dibuatnya bersama ibunya akibat sang isteri sakit sakitan dijualnya dengan berkeliling dari rumah ke rumah dan sebagian dititipkan di warung makan. Hasil menjual donat selama sepekan tiga kali tersebut diakuinya bisa menghasilkan uang sekitar Rp280 ribu yang dipergunakan sebagai modal untuk berjualan lagi.
“Kalau sore tidak ada aktivitas lain saya juga menjadi tukang ojek di pasar untuk memenuhi kebutuhan hidup karena tidak bisa hanya mengandalkan dari mengajar di sekolah,”ungkap Oman.
![]() |
| Siswa yang belajar di lorong akibat keterbatasan lokal |
Hal yang sama juga dilakukan guru kelas III MI Nurul Hidayah bernama Busro (43) yang setelah pulang mengajar masih menyibukkan dirinya dengan menjadi tukang ojek. Pekerjaan sambilan tersebut sudah dilakukan semenjak dirinya mulai mengajar di sekolah milik Kemenag tersebut. Sementara guru guru lain yang sebagian merupakan guru wanita sehari hari juga sibuk membantu sang suami bekerja untuk menambah penghasilan bagi keluarga.
Sementara itu salah satu wali murid siswa di MI Nurul Hidayah, Andi, mengaku sejak dirinya masih sekolah hingga memiliki anak peran sebuah madrasah masih sangat dibutuhkan. Ia menegaskan pelajaran akhlak, nilai nilai agama khususnya Islam diakuinya akan lebih baik jika anaknya berskolah di madrasah dibandingkan di sekolah umum. Ia juga mengaku dengan adanya madrasah yang masih minim sarana tersebut bisa mengetuk pemerintah khususnya Kementerian Agama untuk bisa memberikan perhatian terutama bagi penambahan lokal.
![]() |
| Siti Nurjanah kepala sekolah MI Nurul Hidayah. |
Jurnalis: Henk Widi/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Henk Widi


