SENIN, 30 JANUARI 2017
TUBAN — Musim hujan tidak hanya berdampak bagi para petani saja, tetapi juga membawa dampak pada perajin gerabah di Kelurahan Karang, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Selama musim penghujan, para perajin berbahan tanah liat ini kesulitan dalam proses pengeringan kerajinannya yang sangat tergantung sinar matahari.
![]() |
| Rusmiati, salah satu perajin gerabah di Tuban yang merasakan dampak seringnya hujan menjadikan usaha gerabahnya surut. |
Menurut Rusmiati (59), salah satu perajin gerabah mengaku, cuaca mendung yang seringkali diiringi dengan turunnya hujan pada musim penghujan, membuat para perajin gerabah di desanya, termasuk dirinya, mengalami kesulitan ketika harus mengeringkan. Karena tidak mendapatkan cahaya sinar matahari yang cukup, seperti pada musim kemarau. Tidak adanya sinar matahari yang mencukupi membuat proses pengeringan menjadi lebih lama daripada biasanya.
“Jika biasanya proses pengeringan hanya membutuhkan waktu 1-2 hari, pada musim penghujan proses pengeringannya bisa lebih lama yakni 3-5 hari,” jelasnya kepada Cendana News.
Masih kata Rusmiati, terhambatnya proses pengeringan tersebut juga otomatis mempengaruhi produksi gerabah setiap harinya. Disebutkan, pada musim kemarau, Rusmiati dapat memproduksi gerabah sebanyak 100 setiap harinya. Tetapi pada musim penghujan, ia hanya bisa membuat kerajinan gerabah 25-50 per harinya.
“Kalau musim hujan seperti sekarang ini, para perajin harus ekstra waspada ketika menjemur gerabah. Karena bisa saja tiba-tiba hujan turun sehingga gerabah harus segera dimasukkan agar tidak terkena air hujan,” ucapnya. Gerabah yang masih setengah jadi dan belum dibakar, lanjutnya, akan mudah rusak jika terkena air hujan.
Hal senada diungkapkan pula Narko (68), perajin gerabah lainnya yang juga mengaku kesulitan memproduksi gerabah pada musim penghujan. Menurutnya, mulai dari awal pembuatan kerajinan gerabah sangat membutuhkan panas dari sinar matahari sehingga jika panas tersebut tidak terpenuhi, maka akan berdampak pada kualitas dan kuantitas gerabah.
“Sebelum dibentuk dan dibakar, tanah liat yang digunakan untuk membuat gerabah terlebih dulu harus dikeringkan di bawah sinar matahari. Setelah itu, baru dimasukkan ke dalam bak untuk dicampur dengan pasir laut dan air. Selanjutnya, tanah liat dikeluarkan kembali untuk diinjak-injak dan dibentuk. Selesai dibentuk, gerabah kemudian dijemur lagi di bawah sinar matahari selama tiga hari baru kemudian dibakar,” jelas Narko.
Dari beberapa proses tersebut, ada beberapa tahapan yang sangat bergantung pada sinar matahari.
![]() |
| Narko. |
“Oleh sebab itu, setiap musim kemarau, bisa dipastikan para perajin gerabah mengalami penurunan jumlah produksi yang kemudian juga akan berimbas pada pendapatan mereka,” pungkasnya.
Jurnalis: Agus Nurchaliq / Editor: Satmoko / Foto: Agus Nurchaliq
