Mengintip Desa Pasuruan: Desa Transmigrasi dari Era Kolonial ke Desa Swadaya

RABU 4 JANUARI 2017
LAMPUNG—Program transmigrasi menjadi sebuah kesempatan bagi masyarakat di Pulau Jawa yang tidak memiliki lahan dan sumber penghidupan yang lebih baik. Beberapa wilayah yang memiliki sejarah sebagai wilayah Transmigrasi (awalnya disebut kolonisasi) adalah wilayah Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan yang menjadi salah satu wilayah di bawah kaki Gunung Rajabasa.
Warga melakukan penanaman pada lahan sawah miliknya.
Beberapa wilayah lain yang mulai menyusul sebagai wilayah transmigrasi juga berkembang di sekitar desa tersebut di antaranya wilayah Trans Aceh, Trans Cilacap, Trans Banyuwangi yang mulai berkembang sesudahnya dengan rata rata warga berasal dari warga yang berasal dari Pulau Jawa.
Desa Pasuruan, menurut sekretaris desa setempat M.Asmiharto tak bisa dilepaskan dari sejarah kolonisasi pada zaman Belanda yang memiliki program penyebaran penduduk dari wilayah Pulau Jawa ke Pulau Sumatera meski kala itu belum dikenal dengan istilah transmigrasi. Perpindahan penduduk dari beberapa wilayah di Pulau Jawa tersebut berasal dari Kediri Jawa Timur, Banyumas Jawa Tengah serta beberapa wilayah di Jawa.
Keberadaan Keratuan Darah Putih yang merupakan satu wilayah di kaki Gunung Rajabasa dan memiliki peran penting dalam perkembangan desa desa di wilayah tersebut diantaranya Desa Kelau, Desa Ruang Tengah, Desa Pasuruan,Desa Klaten.
“Sebelumnya belum ada namanya desa karena saat itu masih masuk wilayah Keratuan Darah Putih yang wilayahnya cukup luas dan sebagian warga yang berasal dari Pulau Jawa kala itu bekerja sebagai penggarap tanah warga di sini sekaligus bekerja hingga memiliki tanah di wilayah sini,” ungkap sekretaris Desa Pasuruan,M.Asmiharto saat ditemui Cendana News di kantor Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan, Rabu (4/1/2017).
Fasilitas masjid di Desa Pasuruan.
Setelah bekerja dan mulai memiliki tanah warga yang bekerja dan menjadi pekerja disebut dengan istilah “pesuruh” dan membantu warga di sekitar kaki Gunung Rajabasa mulai memiliki tanah dan membentuk kampung kampung kecil. Awal mulanya wilayah tersebut bahkan disebut sebagai “umbulan” dari Desa Ruang Tengah yang selanjutnya membentuk kampung di antaranya Kediri sebagai nama wilayah asal para warga yang ikut kolonisasi tersebut. 
Hingga akhirnya pada 1934 istilah “pesuruh” atau lokasi tempat tinggal warga yang sebagian bekerja pada warga Ruang Tengah mulai membentuk kawasan kampung yang diberi nama Pesuruhan dan kini menjadi nama administratif Desa Pasuruan hingga kini. Sebagai sebuah desa yang memasuki usia ke 82 pada 2016 wilayah Desa Pasuruan terus mengalami perkembangan cukup signifikan semenjak dibukanya Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) yang dikenal dengan jalan Trans Sumatera.
Selanjutnya beberapa dusun mulai terbentuk, seperti  Dusun Jati Bening, Dusun Jati Sari, Dusun Sumbersari, Dusun Pasuruan, Dusun Banyumas dan membentuk wilayah yang hingga kini didiami oleh berbagai macam suku diantaranya Bali, Padang, Jawa, Sunda, Serang, dan mayoritas masyarakat asli Lampung. Luas wilayah 377 hektar dengan batas wilayah sebelah Utara Desa Klaten, sebelah Selatan Gunung Rajabasa, Sebelah Barat Desa Ruang Tengah, Sebelah Timur Desa Banjar Masin merupakan pusat desa sekaligus ibukota Kecamatan Penengahan yang merupakan salah satu wilayah kecamatan tertua di Lampung Selatan.
Kantor pemerintahan Desa Pasuruan sebagai satu wilayah yang terus berkembang semenjak 82 tahun lalu.
Wilayah yang didiami oleh beragam masyarakat tersebut menurut M.Asmiharto kini didiami oleh sebanyak 3998 jiwa dengan sebanyak 1163 kepala keluarga (KK) dengan perincian laki laki sebanyak 2084 jiwa dan perempuan sebanyak 1914 jiwa. Berbagai sarana dan prasarana bagi masyarkat pun mulai berkembang berupa fasilitas pasar, lokasi pendidikan, kesehatan, pemerintahan yang berguna untuk menunjang kehidupan masyarakat yang bermukim di wilayah tersebut.  
Prasarana pendidikan berkembang  mulai dari tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA). Fasilitas pendidikan tersebut di antaranta sebanyak 2 unit PAUD, 2 unit TK, SD/MI sebanyak 4 unit , SMP sebanyak 3 Bangunan dan SMA sebanyak 1 bangunan.
Beberapa prasarana lain diantaranya prasarana ibadah meliputi Masjid sebanyak 5 buah, gereja sebanayk 2 buah selain itu fasilitas olahraga sebanyak 3 buah berupa lapangan, organisasi atau kelompok kesenian tradisional meliputi kuad kepang, campur sari sebanyak 4 kelompok. Proses perkembangan desa tersebut juga ungkap M.Asmiharto tak lepas dari jasa dan perjuangan Presiden Soeharto dengan adanya program ABRI masuk desa dengan membuka akses jalan jalan baru yang semula merupakan areal perkebunan, hutan dan belum memiliki fasilitas jalan sebagai penunjang.
“Selain jalan paska zaman kolonisasi dilanjutkan transmigrasi pada zaman Presiden Soeharto membuat fasilitas bendungan, irigasi pada lahan pertanian semakin mendukung pertumbuhan desa kami apalagi mayoritas pekerjaan warga di bidang pertanian,”terang M.Asmiharto
Beberapa peninggalan zaman presiden Soeharto yang masih bertahan hingga kini diantaranya bendungan Way Asahan yang terintegrasi dengan sistem irigasi untuk ratusan hektar lahan pertanian. Bendungan tersebut merupakan sumber pengairan utama bagi masyarakat petani yang ikut menyumbang pendapatan bagi masyarakat dan juga bagi desa.
M.Asmiharto sekertaris Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan.
Dipimpin oleh kepala desa perempuan bernama Kartini, Desa Pasuruan terus berkembang dengan adanya pendapatan asli desa (PAD) dengan nilai Rp30.000.000 ditambah bantuan yang diterima desa dari program dana desa (DD) sebesar Rp610.523.604 dengan besaran ADD yang dikelola pertahun sebesar Rp225.230.772. Jumlah dana yang diperoleh dan dipergunakan untuk belanja desa sebesar Rp865.754.376 tersebut sebagian digunakan untuk pembangunan infrastruktur yang berguna untuk kepentingan masyarakat desa diantaranya jalan, paving blok, talud serta beberapa sarana lain.
Desa yang telah berumur sekitar 82 tahun tersebut menurut M.Asmiharto kini mulai melakukan berbagai program pembangunan secara swadaya. Beberapa pemberdayaan tersebut diantaranya meliputi pemberdayaan perempuan melalui Badan Usaha Milik Desa (Bumdes)Simpan Pinjam dan Bumdes pembuatan paving blok. Pembuatan paving blok merupakan upaya desa untuk melakukan peningkatan jalan lingkungan yang semula berupa jalan tanah dan diubah menjadi paving blok dan sebagian jalan rigid pavement (cor semen). 
Sebanyak 8 dusun yang ada di desa tersebut bahkan memperoleh jatah untuk peningkatan jalan lingkungan dengan jalan rabat beton dengan oanjangs ekitar 1300,3 meter lebar 1,5 meter dan 2 meter yang berada di Dusun Pasuruan Atas, Dusun Sendangsari, Dusun Banyumas. Sementara rencana pemeliharaan jalan lingkungan pada termin kedua akan dilakukan menggunakan paving blok. Pembuatan paving blok yang dilakukan saat ini bahkan telah menghasilkan sebanyak 10.000 hingga 15.000 buah yang akan dipergunakan di beberapa jalan lingkungan.
Perkembangan desa yang memiliki sebanyak 16 aparatur desa termasuk kepala desa tersebut menurut M.Asmiharto didukung dengan kehidupan masyarakat yang juga disiplin dalam membayar pajak bumi dan bangunan. Hingga awal 2017 pihaknya bahkan mengakui penarikan pajak PBB dari masyarakat dari total yang sudah dibagikan sebanyak 85 persen masyarakat sudah menyetorkan pajaknya ke aparat desa dan disetorkan ke kecamatan. 
Selain itu berbagai pembinaan dalam usaha kecil bagi masyarakat yang memiliki usaha kecil terutama kaum perempuan difasilitasi oleh desa dengan adanya Bumdes Simpan Pinjam untuk meningkatkan sektor perekonomian warga yang dijalankan kaum perempuan.
Fasilitas tempat ibadah berupa gereja di Desa Pasuruan.
Salah satu warga, Slamet (60) yang berasal dari Jawa Tengah mengaku tinggal di Desa Pasuruan sebagai wilayah yang memiliki lahan pertanian cukup luas ,berada di bawah kaki Gunung Rajabasa merupakan harapannya. Sebab saat berada di daerah asalnya sebelum memutuskan pindah ke Lampung dirinya sama sekali tidak memiliki lahan garapan. 
Melakukan transimigrasi mandiri dengan bekal seadanya, kini ia memiliki sekitar 5 hektar tanah lahan sawah belum termasuk kebun. Sebagian warga juga berdatangan pada 1975 secara swadaya untuk mencari penghidupan yang layak di Pulau Sumatera setelah di Jawa mereka tidak memiliki lahan.
“Saya merasa terbantu dengan adanya program perpindahan penduduk tersebut meski awalnya saya diminta ke Kalimantan tapi karena banyak kerabat yang lebih dahulu ikut zaman kolonisasi akhirnya saya memutuskan ke Lampung,”ungkap Slamet.
Perkembangan Desa Pasuruan yang diakuinya pada awal terbentuknya masih berupa hutan dan kini mulai berkembang dengan banyak fasilitas, infrastruktur bagus merupakan perkembangan yang cukup membuat warga semakin sejahtera. Jalan jalan sebagian sudah berupa jalan lapisan tipis aspal pasir (lantasir), fasilitas sekolah dan beberapa fasilitas lain dan akses yang mudah untuk menuju Pelabuhan Bakauheni semakin membuat Desa Pasuruan bertumbuh setelah memasuki usia 82 tahun.
Jurnalis: Henk Widi/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Henk Widi
Lihat juga...