KAMIS 26 JANUARI 2017
BANJARMASIN—Pemerintah Kota Banjarmasin terus memperbanyak titik sebaran bank-bank sampah lewat pembentukan 50 bank sampah baru di Kota Banjarmasin. Rencana ini melengkapi 150 bank sampah yang sebelumnya telah dirintis sejak 2009.
![]() |
| Warga antri menyetorkan sampah kering di bank sampah Niaga Sya’riat. |
“Tahun 2017, kami targetkan ada tambahan 50 bank sampah. Nah, untuk mengawali itu, kami mulai dari pasar sepeda ini,” ujar Ibnu Sina usai meresmikan bank sampah ‘Niaga Sya’riat’ di Pasar Sepeda, Jalan Niaga Timur, RT 12 Kelurahan Kertak Baru Hilir, Kecamatan Banjarmasin Tengah, Kamis (26/1/2017). Bank sampah ‘Niaga Sya’riah’ sebagai momentum awal membentuk 50 bank sampah baru sepanjang 2017.
Ibnu berharap, bank sampah ‘Niaga Sya’riah’ berkontribusi menghimpun dan mengajak masyarakat sekitar untuk menyetorkan sampah. Lewat gerakan ini, Ibnu meminta masyarakat menjadi nasabah bank sampah. Ia optimistis tumpukan sampah berpotensi menghasilkan pundi-pundi rupiah asalkan dikelola.
“Lingkungan bisa bersih, menambah penghasilan, dan mengurangi sampah-sampah di Kota Banjarmasin,” Ibnu Sina berujar. Ia mengatakan pemerintah kota berkomitmen mereduksi sampah sekaligus menyadarkan perilaku bersih di tengah masyarakat. Itu sebabnya, kata Ibnu, Kota Banjarmasin menerima bantuan dana dari Institut of Global Environment Studies sebanyak US$25 ribu.
“Kami semula usul US$50 ribu, tapi dikabulkan US$25 ribu. Akhir tahun lalu, sebagian sudah ditransfer ke rekening bank sampah induk,” ujar Ibnu.
Menurut dia, bantuan IGES demi menyokong kepentingan Kota Banjarmasin dalam program Asia Sustainable City yang bersanding dengan 40 kota-kota lain se-Asia. Adapun di Indonesia, kata Ibnu, Banjarmasin sebagai kota keempat yang turut serta program ASC. Ibnu bersyukur Banjarmasin sukses sebagai kota keempat di Indonesia yang ikut ASC.
Panitia ASC dan IGES akan mengevaluasi komitmen Pemko Banjarmasin mengelola sampah pada 7-8 Februari 2017. “Dinas Lingkungan Hidup mewakili ke Thailand, semoga bantuan bisa diterima kembali. Program ini kontraknya tiga tahun,” ujar Ibnu.
Direktur Bank Sampah Niaga Sya’riat, Humaidillah, mengatakan ide mendirikan bank sampah sebetulnya sejak 2014 silam. Ia berkeinginan membentuk bank sampah karena prihatin melihat tumpukan sampah di sekitar pasar sepeda. Selain itu, Humaidillah tergerak memberdayakan pemulung yang kerap menghimpun sampah-sampah di sekitar pasar itu.
“Mereka gigih mengumpulkan sampah, jadi kenapa enggak bikin bank sampah saja. Bank sampah kan bisa meningkatkan kesejahteraan pemulung,” kata Humaidillah.
Pihaknya akan membeli setiap tumpukan sampah yang disodorkan pemulung. Setelah itu, menurut dia, pengelola bank sampah Niaga Sya’riat memberikan buku tabungan terhadap pemulung sebagai nasabah bank sampah. Menurut Humaidillah, cara semacam ini lebih bermanfaat mendongkrak tingkat kesejahteraan pemulung.
“Barang-barang yang terbuang bisa diinvestasikan lewat tabungan,” dia menambahkan.
![]() |
| Direktur Bank Sampah Niaga Sya’riat, Humaidillah berbincang ke wartawan. |
Jurnalis: Diananta P Sumedi/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Diananta P Sumedi
