Keterbatasan Lahan, Jamur Tiram di DIY Tak Mampu Penuhi Kebutuhan Pasar

SELASA, 3 JANUARI 2017

BANTUL — Sejak beberapa tahun terakhir, jamur tiram telah menjadi komoditi pertanian yang cukup menjanjikan. Hal itu dapat dilihat dari semakin banyaknya permintaan masyarakat. Tempat penjualanpun beraneka ragam, mulai pasar tradisional hingga toko modern atau supermarket. Bahkan kini tak sedikit pula rumah makan atau restoran modern yang menyajikannya dalam berbagai jenis variasi olahan masakan.
Jamur tiram yang dibudidayakan di dalam ruang yang lembab

Salah seorang pembudidaya, Rokijan (30) warga dusun Klangon, Argosari, Sedayu, Bantul mengakui semakin tingginya minat masyarakat untuk mengkonsumsinya. Lelaki yang telah mulai membudidayakan jamur tiram sejak 2008 lalu itu, menyebut permintaan pasar saat ini sangat tinggi. Ia bahkan mengaku kewalahan untuk memenuhi permintaan pasar di wilayah sekitar Bantul dan Sleman.

“Saat ini saya hanya mampu memenuhi sekitar 30 kilogram jamur tiram setiap harinya. Padahal permintaan pasar jauh di atas itu. Ini lebih karena keterbatasan lahan untuk budidaya,” katanya saat ditemui Cendana News, Selasa (03/01/2017).
Rokijan mengaku, ia sebenarnya telah menambah kapasitas produksi jamur tiram miliknya secara bertahap setiap tahunnya. Yakni dengan menambah jumlah bubung atau kandang tempat untuk budidaya. Namun lagi-lagi keterbatasan modal, menjadi masalah klasik.
Selain itu, masih terbatasnya jumlah pembudidaya jamur tiram khususnya di wilayah DIY saat ini, juga diakui belum mampu memenuhi semua permintaan. Padahal semakin tingginya kesadaran akan kesehatan, telah mendorong masyarakat untuk mengkonsumsi produk-produk makanan yang dianggap bagus, seperti salah-satunya jamur tiram.
“Banyak disukai masyarakat karena memiliki kandungan protein yang sangat tinggi. Jamur tiram juga kaya akan kandungan vitamin dan mineral, kaya serat serta asam amino. Meski begitu kandungan kolesterol dan lemak sangat rendah, sehingga sangat baik dikonsumsi oleh mereka yang memiliki penyakit kolesterol, ” paparnya.
Kepala Sub Bagian Program dan Informasi, Dinas Pertanian DIY, Andi Nawacandra menyebutkan, dari lima kabupaten kota yang ada di DIY, terdapat dua daerah yang menjadi sentra pembudidaya jamur tiram. Keduanya yakni di wilayah kabupaten Bantul dan Sleman.

Dari dua kabupaten sentra budidaya jamur tersebut, diakui memang saat ini belum semuanya mampu memproduksi benih, karena lebih banyak fokus pada usaha pembesaran. Umumnya para pembudidaya membeli benih dari luar DIY untuk kemudian dilakukan pembesaran.

“Pendampingan pada pembudidaya jamur sudah kita lakukan sejak beberapa tahun terakhir. Namun untuk saat ini sudah kita lepas, sehingga tidak ada lagi program terkait jamur tiram. Termasuk untuk tahun ini,” ujarnya.

Jurnalis : Jatmika H Kusmargana / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Jatmika H Kusmargana

Lihat juga...