Hotel Pelangi: Warisan Perjalanan Sejarah Kota Malang

JUMAT 6 JANUARI 2017
MALANG —Bila Anda berwisata ke Kota Malang dan mencari akomodasi, Hotel Pelangi yang terletak di Jalan Merdeka nomor 3, kawasan Alun-alun ini  bisa menjadi pilihan dan Anda merasakan sensasi menginap di hotel tertua di kota ini.  Berbeda dengan hotel-hotel di era modern yang banyak menggunakan beragam warna untuk bangunannya, hotel ini mempertahankan warna aslinya.  Dengan didominasi warna putih pada dinding luar bangunan yang tampak kokoh dan warna merah pada atap (genteng), seakan mampu menambah kesan kuno pada bangunan hotel yang telah berdiri sejak 1915.
Bagian depan Hotel Pelangi.  Bagian atap sebetulnya masih serupa ketika masih bernama Palace Hotel pada 1915.  Pada awalnya di kedua sisi bangunan utama ini terdapat menara kembar. Namun  hancur karena peperangan. 
Menurut Imam Santoso  yang menjabat sebagai HRD General Affair, perjalanan sejarah Hotel Pelangi sebenarnya sudah di mulai sekitar 1860 dengan nama Hotel Lapidoth. Nama tersebut diambil dari nama belakang pemiliknya yang merupakan orang Belanda yaitu Abraham Lapidoth. Namun pada 1870 Hotel Lapidoth berganti nama menjadi Hotel Malang.
“Hotel Malang adalah satu-satunya hotel yang ada di Malang pada masa itu, sehingga bentuknyapun sederhana masih seperti losmen atau rumah,” jelasnya saat di temui Cendana News di lobi hotel.
Setelah pemiliknya meninggal, Hotel Malang di jual dan di hancurkan. Barulah pemerintah Belanda kembali membangun sebuah hotel di atas bekas bangunan lama dengan nama Palace Hotel yang diresmikan pada 1915. Lokasi Palace Hotel sendiri masih sama seperti bangunan sebelumnya yaitu di di Aloen-aloen Straat yang sekarang berganti nama menjadi Jalan Merdeka Selatan No.3.
Kamar di Hotel Pelangi.  Eksteriornya masih dipertahankan seperti pada 1915. 
Nama Palace Hotel tersebut terus bertahan hingga sebelum Jepang datang ke Malang tepatnya pada tahun 1942. Pada jaman kependudukan Jepang (1942-1945), Palace Hotel kembali berganti nama lagi menjadi Hotel Asoma yang berarti Wisatawan. Namun nama tersebut tidak bertahan lama, setelah Jepang kalah oleh pasukan sekutu yang diboncengi Belanda, pada  1945 nama Hotel Asoma kembali menjadi Palace Hotel.
“Dijaman perang kemerdekaan (1945-1949), Palace hotel sempat tidak di fungsikan selama kurang lebih hampir lima tahun karena mengalami kerusakan sebelum akhirnya hotel tersebut dibeli oleh pengusaha kontraktor dari Banjarmasin,” ungkapnya.
Imam kemudian menceritakan bahwa pada tahun 1953,  pertama kalinya aset bangunan Palace Hotel dijual ke pihak swasta yaitu kepada pengusaha kontraktor berasal dari Banjarmasin yang bernama Sjachran Hoessein. Dari situ kemudian dilakukan perombakan dan direnovasi sedemikian rupa tanpa mengurai nilai kolonial dan sejarahnya. Hanya beberapa titik saja yang direnovasi maupun terpaksa dihilangkan karena pada saat itu kondisinya memang sudah bena-benar hancur.
“Dulu sebenarnya di depan hotel ini ada dua buah menara namun kemudian hancur karena ada peperangan dan setelah itu oleh pihak pengelola hotel sekalian dihilangkan,”ucapnya.
Suasana ruang makan yang masih asli. Interior ruangan ini lega dan megah pada masanya. Nyaris serupa dengan interior hotel-hotel peninggalan kolonial umumnya. 
Menurut penuturannya, setelah dibeli oleh pengusaha dari Banjarmasin tersebut, sejak t1953 Palace Hotel berganti nama dengan Hotel Pelangi dan nama itu bertahan hingga sekarang.
“Pada saat dipegang oleh Sjachran Hoessein, pemerintahan orde lama memiliki kebijakan untuk merubah nama peninggalan-peninggalan kolonial dengan nama yang lebihIndonesia, dan akhirnya muncullah nama Hotel Pelangi pada waktu itu 1953 sampai sekarang,” tutur Imam.
Lebih lanjut Imam menyebutkan setelah Sjachran Hoessein meninggal pada 1999, kepemilikan Hotel Pelangi sekarang  dipegang oleh generasi keduanya yang  tak lain adalah anak kandung  Sjachran Hoessein sendiri.
“Sjachran Hoessein meninggalkan 11 orang anak, dan kini kepemilikan Hotel Pelangi dipegang oleh 11 orang anaknya dalam bentuk saham,” katanya.
Lukisan kuno yang masih dipertahankan.  Lukisan hand painting
Menurutnya, selama ini tidak ada perubahan yang signifikan pada bentuk fisik luarnya. Kalaupun ada perubahan, lebih kepada bagian interiornya. Bahkan pihak Hotel Pelangi tidak melakukan pemekaran bangunan sehingga luasnya masih sama seperti keadaan semula.
“Ada satu ruangan yang masih terjaga keasliannya dan belum pernah dilakukan perubahan yang signifikan. Ruangan tersebut berada di ruang makan atau restoran. Dalam ruangang tersebut, mulai dinding, lantai, hingga atap masih sama seperti pertama kali hotel ini dibangun. Termasuk juga dengan ornamen-ornamen yang ada di dalamnya,” terangnya. 
Tutur Imam lagi  did alam ruang makan tersebut terdapat sebanyak kurang lebih 22 ornamen lukisan tangan (hand painting) dari orang Belanda yang sudah ada sejak awal bangunan ini berdiri. Lukisan tangan tersebut menggambarkan kondisi kota-kota di Belanda pada masa itu” imbuhnya.
Sementara itu sebelum mengakhiri obrolan, Imam menyebutkan bahwa meskipun konsep awal dari bangunan ini diperuntukan untuk hotel atau tempat penginapan, Pada saat Hotel Pelangi masih bernama Palace hotel, hotel ini pernah dijadikan sebagai tempat pusat pemerintahan kota Malang  yang disebabkan kondisi perpolitikan yang pada saat itu masih kacau, pungkasnya.
HRD General Affair, Hotel Pelangi Imam Santoso. 
Jurnalis: Agus Nuchaliq/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Agus Nurchaliq
Lihat juga...