Gapoktan, Strategi Berdayakan Kelompok Tani di Perkotaan

KAMIS, 12 JANUARI 2017

YOGYAKARTA — Dari sekian banyak kecamatan yang ada di Kotamadya Yogyakarta, memang hanya Kecamatan Umbulharjo saja yang masih memiliki lahan cukup luas untuk pengembangan bidang pertanian maupun peternakan. Di kecamatan paling selatan yang berbatasan dengan Kabupaten Bantul ini, masih bisa ditemukan sejumlah kelompok tani yang bergerak di bidang pertanian tanaman pangan atau pun bidang peternakan.

Sekretaris Gapoktan Ngudirukun, Rubiah Sutono.

Salah satunya adalah kelompok tani yang tergabung dalam Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Ngudirukun di Kelurahan Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta. Gapoktan Ngudirukun, terbilang merupakan salah satu Gapoktan yang aktif memberdayakan masyarakat di tengah lahan perkotaan, melalui sejumlah kelompok tani maupun kelompok tani wanita yang dinaunginya. Didirikan sebagai upaya memaksimalkan pemberdayaan kelompok tani, Gapoktan Ngudirukun, Sorosutan, mulai berdiri sejak tahun 2012 silam. Gapoktan Ngudirukun sedikitnya terdiri dari sebanyak 10 kelompok tani atau pun kelompok tani wanita yang bergerak di berbagai sektor, mulai dari tanaman pangan, peternakan, holtikultura, hingga industri rumah tangga, khususnya makanan olahan.

“Gapoktan Ngudirukun didirikan sebagai upaya memberdayakan kelompok-kelompok tani yang ada di Kelurahan Sorosutan agar lebih maksimal. Sebab selama ini kelompok tani di sini selalu berjalan sendiri-sendiri. Namun dengan adanya Gapoktan ini bisa saling bekerjasama. Termasuk dalam hal permodalan. Karena setelah Gapoktan terbentuk, bantuan pemerintah yang masuk bisa dimanfaatkan secara lebih maksimal,” ujar Sekretaris Gapoktan Ngudirukun, Rubiah Sutono, saat ditemui Cendana News, Kamis (12/01/2017).

Rubiah menyebutkan, pada 2012, Gapoktan Ngudirukun mendapat bantuan permodalan dari pemerintah berupa dana hibah senilai Rp 100 juta. Dana bantuan tersebut tidak langsung dibagikan ke semua kelompok, namun dikelola sebagai dana kas oleh unit permodalan Gapoktan yang bisa dimanfaatkan sebagai modal pinjaman seluruh kelompok. Dengan begitu modal bantuan tidak habis begitu saja, namun justru berkembang.

“Jadi bantuan itu kita kelola sebagai dana permodalan dalam bentuk simpan pinjam. Masing-masing anggota kelompok tani, bisa mengajukan permintaan pinjaman modal melalui ketua kelompok tani masing-masing. Jika dinilai memenuhi syarat, maka bantuan modal kita berikan berupa pinjaman dengan bunga sebesar 1 persen. Dana yang terkumpul ini akan disimpan sebagai modal tambahan Gapoktan,” ujarnya.

Setelah sekitar 4 tahun berjalan dana bantuan yang awalnya Rp 100 juta, kini telah berkembang menjadi Rp 130 juta. Gapoktan Ngudirukun bahkan juga telah membagikan hingga dua kali SHU kepada seluruh anggotanya. Setiap anggota kelompok tani bebas menggunakan bantuan permodalan sesuai bidang usaha masing-masing. Misalnya untuk unit holtikultura seperti budidaya tanaman hias, bisa digunakan untuk membeli bibit, media tanam, pot atau sebagainya. Begitu juga untuk kelompok peternakan, bantuan bisa digunakan untuk membeli bibit sapi atau kambing.

“Kita juga memiliki unit produksi beras. Unit ini menjual beras yang diambil dari hasil panen semua anggota kelompok tani yang ada di wilayah Sorosutan. Unit ini dibentuk karena kita kebetulan mendapat bantuan mesin penggiling. Jadi kami beli gabah kering dari semua petani atau anggota kelompok tani yang ada, untuk kemudian kita giling dan kita jual. Hasilnya kita bagi untuk pembiayaan dana operasional, petugas pengelola dan sisanya masuk kas Gapoktan,” jelasnya.

Selain unit usaha produksi beras, Gapoktan Ngudirukun juga mendirikan unit usaha warung kebun asri. Dibangun memanfaatkan lahan milik salah seorang pengurus, warung kebun asri ini merupakan unit usaha bersama di bidang kuliner dan agrobisnis. Unit ini menjual berbagai macam tanaman hias ataupun tanaman holtikultura yang diambil dari hasil budidaya setiap kelompok tani wanita di Kelurahan Sorosutan.

Selain itu, unit ini juga menjual berbagai produk makanan olahan yang seluruhnya merupakan hasil produksi ibu-ibu rumah tangga yang tergabung dalam anggota kelompok tani wanita di Kelurahan Sorosutan. Tak hanya berupa warung makan, unit ini juga menerima pesanan berupa katering hingga berbagai jenis camilan untuk berbagai macam acara.

Salah satu unit usaha Gapoktan Ngudirukun Sorosutan.

“Ke depan kita ingin unit-unit kerja di Gapoktan ini terus dapat berjalan dan berkembang lebih maksimal. Kita juga ingin merangkul lebih banyak anggota, khususnya anak-anak muda  agar mau terjun ke dunia pertanian. Karena sekarang ini mayoritas pelaku usaha di bidang pertanian adalah orang tua atau pensiunan. Saya sendiri prihatin melihat banyak anak perkotaan yang tidak tahu bagaimana cara menamam padi, misalnya. Mimpi kita adalah bagaimana kita bisa mengedukasi mereka. Dari situ diharapkan ke depan akan lebih banyak anak muda yang mau terjun ke bidang usaha pertanian,” pungkasnya.

Jurnalis: Jatmika H Kusmargana / Editor: Satmoko / Foto: Jatmika H Kusmargana

Lihat juga...