SENIN, 30 JANUARI 2017
BANJARMASIN — Pengusaha mebel dan aneka perkakas kebutuhan rumah tangga di Banjarmasin mengeluh penjualannya menukik turun selepas era pemerintahan Presiden Soeharto. Mereka kesulitan melego dagangan karena melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS dan tak kunjung membaiknya perekonomian nasional.
![]() |
| Zainudin menunjukkan mebel dagangannya. |
“Zaman Soeharto itu, mebel dan beras sama-sama kebutuhan. Dulu orang mudah dapat kerja, mudah dapat uang, dan nilai tukar rupiah masih kuat. Karena sekarang nilai tukar rupiah melemah, jadi daya beli masyarakat turun,” ujar seorang pengusaha mebel, Zainudin ketika ditemui Cendana News, Senin (30/1/2017).
Ia paham bagaimana masyarakat Banjarmasin antusias berburu mebel sebelum tahun 2000. Mebel di era Soeharto, kata Zainudin, ibarat kebutuhan pokok yang wajib dibeli oleh warga Banjarmasin. “Dulu, mebel itu bukan kebutuhan sekunder, tapi primer,” dia berujar.
Antusiasme membeli aneka mebel ini karena perekonomian tumbuh stabil. Penduduk Banjarmasin masih mudah mendapatkan pekerjaan dan harga-harga bahan kebutuhan pokok relatif murah. Zainudin menuturkan, kondisi mulai berbalik arah setelah Presiden Soeharto meletakkan jabatannya pada 1998 silam.
“Setelah penjualan turun mulai tahun 2000, sampai sekarang belum bisa bangkit,” ujar Zainudin.
Menurut pria sepuh pemilik toko mebel Rahmat itu, penurunan daya beli membuat masyarakat lebih memprioritaskan kebutuhan pokok ketimbang mengoleksi aneka mebel. Selain itu, kata dia, pemicu lain lesunya penjualan mebel karena perajin mebel kesulitan mendapat bahan baku kayu ditambah bertumbuhnya persaingan antartoko mebel di Kota Banjarmasin.
“Harga bahan baku mahal dan persaingan mebel tumbuh pesat. Jadi agak susah jual barang di atas modal,” Zainudin menambahkan. Walhasil, Zainudin mengaku, omset usaha yang sebelum tahun 2000 sekitar Rp 50-an juta per bulan, kini anjlok ke angka Rp 10-20 juta per bulan. Ia mulai berdagang mebel pada 1980 setelah mewarisi peninggalan usaha mertuanya.
Mebel-mebel yang ia jual berasal dari perajin di Kecamatan Alalak, Kota Banjarmasin; Kelurahan Pemurus Dalam, Kecamatan Kertak Hanyar, Kabupaten Banjar; dan Kota Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara. Menurut Zainudin, kayu jenis sungkai, kayu meranti, dan kayu lanan, kerap dijadikan bahan baku pembuatan mebel.
Di toko mebel Rahmat, ia menjual aneka mebel perkakas rumah tangga, seperti kursi, almari, dan dipan tidur. Harganya pun bervariasi menyesuaikan ukuran, kualitas barang, dan bahan baku kayu. Ia mencontohkan, almari ukuran sedang berbahan dasar kayu sungkai dibanderol Rp 2,5 juta. Adapun kursi duduk tanpa polesan pelitur dihargai Rp 200 ribu. “Harga masih bisa ditawar lagi. Konsumen rata-rata membeli mebel dalam kisaran harga Rp 750 ribu-Rp 1,5 juta,” ujarnya.
Setali tiga uang, pemilik toko mebel Murni, Isnaniah, membenarkan gairah bisnis mebel semakin melorot setelah tahun 2000. Seperti Zainudin, Isnaniah pun meneruskan usaha peninggalan orang tuanya. Menurut dia, konsumen saat ini cenderung mencari perkakas murah berbahan alumunium ketimbang kayu. Alasan konsumen, kata Isnaniah, perkakas stainless harganya jauh lebih murah dan awet.
“Kayu kan susah, jadi bahan bakunya sudah mahal. Sekarang omset ya sekitar Rp 10-20 juta, penjualan sepi,” kata Isnaniah. Toko Rahmat dan Murni merupakan dua dari sedikit toko mebel sederhana yang berdiri di Jalan Pangeran Antasari. Kedua toko itu mesti bersaing merebut ceruk pangsa pasar mebel dengan toko-toko mebel besar semacam Rapi Sari Mebel, Mebel Alfil Gina, dan Rapi Sari Gallery. Persaingan ketat di tengah mengecilnya penjualan itu, tidak membuat Zainudin dan Isnaniah jera berdagang mebel.
![]() |
| Konsumen memilih kursi kayu di toko mebel Rahmat. |
“Mertua dulu jualan mebel mulai tahun 1970 di Pasar Kelayan Luar. Sekarang, saya tetap meneruskan usaha walaupun penjualan turun,” ujar Zainudin seraya melayani konsumen yang saat itu sedang membeli kursi kayu seharga Rp 200 ribu.
Jurnalis: Diananta P. Sumedi / Editor: Satmoko / Foto: Diananta P. Sumedi
