SELASA 24 JANUARI 2017
MAKASSAR—Menghadapi kejadian antraks di Yogyakarta Kepala bagian kesehatan hewan Dinas Peternakan Sulawesi Selatan Ir. H. Syamsul Bachri M.Si mengatakan hingga saat ini kasus Anthrax di Sulsel belum terlalu mengkahwatirkan.
![]() |
| Peternakan sapi di Sulawesi Selatan. |
Kasus antraks memang pernah terjadi Sulawesi Selatan sekitar Maret 2016 bahwa antrax telah menyebabkan kematian pada sapi ternak yang ada di Kampung Mallimpung Kecamatan Patampanua Pinrang. Pada serangan waktu itu 31 ekor sapi mati dikarenakan antraks.
“Pada waktu itu kami melakukan beberapa langkah dalam mengantisipasi dan mencegah penyakit antraks seperti “membakar hewan yang terjangkit antraks dan menguburnya, mengisolasi peternakan yang terjangkit antraks, memberikan vaksnasi pada hewan ternak, mengadakan penyuluhan pada peternak tentang bahaya antraks,” kata Syamsul kepada Cendana News Senin( 23/1).
Antraks merupakan penyakit yang menyerang hewan ternak seperti sapi,kambing,kerbau dan yang lain bahkan tidak hanya hewan pada hewan namun penyakit antraks juga dapat menular dari hewan ke manusia. Penyakit ini ditularkan melalui bakteri bacillus anthracis. Saat ini terdapat 11 provinsi yang menjadi daerah endemik antraks.
Untuk di Sulawesi Selatan sendiri terdapat beberapa kabupaten yang menjadi daerah endemik antraks seperti Makassar, Gowa, Maros, Pinrang, Sidrap, dan Bone. Itupun terjadi pada daerah-daerah tertentu yang ada di masing-masing setiap kabupaten. Dinas perternakan sendiri telah menaruh perhatian khusus pada daerah yang menjadi tempat endemik antraks. Sehingga masyarakat yang tinggal di daerah tersebut tidak perlu khawatir.
Pada kesempatan lain Cendana News menemui H.Paccong seorang pemilik ternak di Maros. Menurut dia kerap menjaga kebersihan kandang dan memberikan laporan pada dinas peternakan secara rutin agar dapat diberi vaksinasi pada sapi-sapinya untuk tindakan pencegahan agar sapinya tidak terjangkit antraks.
“Dibutuhkan kerja sama yang baik antara peternak dan dinas terkait agar untuk seterusnya Makassar tetap menjadi daerah bebas antraks,” ujarnya kepada Cendana News Selasa (24/1).
Jurnalis: Nurul Rahmatun Ummah/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Nurul Rahmatun Ummah