Abdul Rohim: Menjaga Pohon Menjaga Sungai Menjaga Kehidupan

KAMIS, 5 JANUARI 2017

LAMPUNG — Keberadaan Gunung Rajabasa di ujung Selatan Pulau Sumatera dan masuk di wilayah Kabupaten Lampung Selatan memiliki arti yang sangat penting bagi masyarakat di sekelilingnya. Kawasan hutan lindungnya bahkan menjadi penyokong kehidupan bagi ribuan warga yang tersebar di beberapa kecamatan diantaranya Bakauheni, Penengahan, Kalianda dan Rajabasa.
Abdul Rohim warga Taman Baru pengguna mata air Tebing Ceppa
Salah satu desa yang berada di kaki Gunung Rajabasa diantaranya Desa Taman Baru, Kecamatan Penengahan. Sebagian masyarakatnya merupakan pekebun dan petani sawah. Keberadaan sungai, sumber air menjadi sangat krusial dan memberi penghidupan bagi masyarakat yang ada di sekitar gunung sebagai hulu sungai hingga ke hilir ke beberapa kecamatan.
Salah satu warga Desa Taman Baru Kecamatan Penengahan, Abdul Rohim (65) memiliki areal persawahan dan menggantungkan hidupnya dari aliran sungai di kaki Gunung Rajabasa menyebutkan, salah satu mata air yang hingga kini dilestarikan masyarakat Taman Baru bernama Tebing Ceppa (TC) dan dikenal dengan Lagondi. Sebagian menyebutnya mata air Taman Baru yang terletak di bawah kaki Gunung Rajabasa dengan air yang sangat jernih dan muncul dari bawah akar akar pohon berusia ratusan tahun dengan diameter mencapai hampir empat meter dengan jenis tanaman gondang serta tanaman lainnya.
“Sudah ratusan tahun mata air ini menjadi sumber penghidupan warga untuk keperluan minum, mandi, mencuci bahkan untuk kebutuhan pengairan areal persawahan dan perkebunan karena tak pernah kering saat musim hujan maupun kemarau,”ungkap Abdul Rohim saat ditemui Cendana News di sekitar mata air tebing Ceppa Desa Taman Baru Kecamatan Penengahan, Kamis (5/1/2017).
Pohong yang berusia lebih dari seratus tahun
Abdul Rohim menjelaskan, bertahannya sumber mata air di wilayah tersebut akibat kearifan lokal masyarakat yang mempertahankan ratusan pohon dan hutan yang ada di atas sumber mata air. Beberapa pohon bahkan telah ada dengan diametar yang sudah besar saat Abdul Rohim berusia belasan tahun dan sering mandi di sungai dan mata air tersebut. Ia mengaku selain sebagian pohon merupakan tanaman yang alami tumbuh di sekitar mata air sebagian ditanam untuk menjaga penyediaan air di wilayah tersebut.
Sebagian masyarakat ungkap Abdul Rohim, menganggap mata air dan sungai merupakan sumber kehidupan yang dipercaya sejak dahulu sehingga sebagian masyarakat tak berani melakukan penebangan di sekitar areal mata air. Bahkan berdasarkan kepercayaan akan adanya “penunggu” maka masyarakat akan tetap mempertahankan pohon di sekitar mata air untuk keberlangsungan pasokan air di wilayah tersebut. 
Beberapa aliran pipa dari besi yang panjangnya mencapai beberapa kilometer dan dialirkan dalam bak bak penampungan diakuinya bisa dipergunakan untuk sumber air minum masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut sementara yang mengalir bebas dialirkan ke saluran irigasi untuk warga.
Sebagian masyarakat ungkapnya bahkan masih mempertahankan pola penanaman pohon tahunan dan pohon pohon besar di pinggir sungai, diantaranya pohon bambu, pohon gondanglegi, pohon pinang, pohon beringin. Selain digunakan sebagai penahan longsor pohon pohon tersebut diakuinya memiliki ketahananan untuk menjaga pasokan air dan mata air. Ia bahkan mengaku meski dilakukan penebangan terhadap sejumlah pohon masyarakat tetap melakukan penanaman pohon yang baru untuk menjaga kelestarian hutan.
Pohon bambu di aliran sungai
Tebing ceppa yang kini banyak digunakan untuk kebutuhan minum warga juga kerap dikunjungi masyarakat untuk mandi dan berenang. Beberap aliran dibendung membentuk kolam yang jernih hingga ke dasar dan bahkan Abdul Rohim mengaku air yang keluar dari mata air langsung bisa diminum tanpa kuatir mengandung kuman atau bakteri karena aliran air yang berasal dari mata air selalu berganti setiap menit bahkan detik. 
Ia mengaku kesadaran masyarakat untuk menjaga kelestarian hutan, pohon dan juga sungai yang ada di wilayah tersebut menjadi faktor utama masyarakat di sekitar Taman Baru tak pernah kesulitan air dalam musim kemarau. Ia bahkan mengenang saat pohon pohon masih dipertahankan pada zaman dahulu sebagian bahkan sengaja tak ditebang untuk dipergunakan sebagai sumber untuk mata air. Sebagian warga juga masih melakukan penanaman batang bambu untuk mempertahankan aliran sungai yang ada di wilayah tersebut.
“Hingga satu kilometer dari mata air aliran airnya nyaris tidak keruh dan masih bening sehingga banyak warga mengalirkan dengan pipa maupun selang dengan cuma cuma,”ungkapnya.
Ia juga mengakui dengan adanya program penghijauan pada zaman Menteri Kehutanan, Zulkifli Hasan mampu mempertahankan kelestarian hutan. Pembagian bibit damar, medang, bayur,pinang secara cuma cuma dan tanaman produktif lainnya diakuinya akan semakin mempertahankan kelestarian hutan. Selain bisa dimanfaatkan untuk pasokan air saat ini, menjaga pohon, menjaga kelestarian mata air merupakan warisan tak ternilai bagi anak anak dan cucu akan kekayaan yang tak pernah habis.
“Sekarang tentunya pihak desa memiliki peraturan desa untuk melarang menebang pohon produktif dan pohon di dekat sumber air sehingga tidak akan ada orang menebang pohon sembarangan di kawasan sumber mata air,”ungkap Abdul Rohim.
Aliran air sungai
Selain digunakan sebagai mata air kebutuhan minum, pertanian dan perkebunan. Sumber mata air tebing Ceppa kini sering digunakan kaum muda untuk melakukan aktifitas rekreasi karena air yang bening dan sering digunakan untuk menyelam dan diunggah ke media sosial. Abdul Rohim mewanti wanti agar kaum muda tetap menjaga lingkungan dengan tidak membuang sampah plastik di area tersebut meski sebagian area boleh digunakan untuk mandi.

Jurnalis : Henk Widi / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Henk Widi

Lihat juga...