Gerakan Menabung Air, Kampung Glintung Malang Bebas Banjir

KAMIS, 5 JANUARI 2017

MALANG — Glintung, tepatnya di RW 23, merupakan nama salah satu kampung yang berada di Kelurahan Purwantoro Kecamatan Blimbing Kota Malang Provinsi Jawa Timur. Dahulunya merupakan kampung kumuh yang selalu menjadi langganan banjir saat hujan melanda. Namun sejak 3,5 tahun terakhir, kondisi tersebut perlahan mulai berubah dengan diterapkannya Gerakan Menabung Air (GEMAR) oleh warga yang di pelopori langsung oleh Bambang Irianto yang tak lain adalah ketua RW 23. 
Gerbang masuk kampung 3G
Tidak hanya mencanangkan GEMAR, di kampung ini juga mewajibkan setiap warganya untuk memiliki tanaman di rumahnya masing-masing. Hampir setiap rumah tidak memiliki lahan dan lokasi rumah warga berada di gang-gang kecil yang sempit, mereka akhirnya menyiasati dengan cara menerapkan taman vertical garden di dinding rumah serta menerapkan pola pertanian dengan menggunakan air sebagai media tanam yang sekarang lebih dikenal dengan sistem pertanian Hidroponik, sehingga kampung ini kini terkenal dengan sebutan kampung Glintung go Green (Kampung 3G).
“Kampung kumuh, kampung banjir dengan angka kesehatan rendah dan angka kematian tinggi merupakan potret kelam kondisi kampung Glintung pada saat itu sebelum sekarang  berubah menjadi kampung 3G dengan konsep GEMAR dan penghijauannya,” jelas Bambang Irianto kepada Cendana News, Rabu (4/1/ 2017).
Ketua RW 23 Bambang Irianto
Ia menjelaskan, konsep Gemar Menabung Air bukan berarti menampung air hujan di dalam tandon, tetapi memasukkan air dan menyimpan air sebanyak-banyaknya di dalam tanah melalui pembuatan lubang biopori, sumur resapan maupun sumur injeksi di beberapa titik yang menjadi aliran air hujan yang dilakukan oleh warga secara bergotong royongg, sehingga kampung Glintung sekarang sudah terbebas dari banjir. Setidaknya sekarang sudah ada tujuh sumur injeksi, 600 biopori ukuran standar dan 50 biopori super jumbo.
“Dengan menabung air di dalam tanah, maka cadangan air tanah akan meningkat sehingga air sumur warga akan naik dan tidak kering. Pada siang hari air dalam tanah akan menguap sehingga udara tetap segar dan resiko global warming akan menurun,” jelasnya. 
“Tidak hanya sampai disitu, dengan menabung air dapat mengurangi resiko terjadinya banjir pada musim penghujan. Pada lubang biopori juga dapat dimasukkan sampah basah yang nantinya akan menghasilkan kompos,”sambungya. 
Lebih lanjut, alumni Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (UB) ini dalam melakukan penanganan banjir dengan menerapkan GEMAR ia mengaku mendapatkan pendampingan dari Prof. Bisri yang menjabat sebagai Rektor UB.
“Dalam menangani banjir dengan konsep GEMAR kami mendapat pendampingan dari rektor UB Prof. Bisri dan sumur injeksi adalah salah satu hasil karya ilmiah darinya yang kami terapkan di kampung 3G,” akunya.
Hidroponik
Disebutkan, selain mendapat pendampingan dari perguruan tinggi, untuk penghijauan di kampung 3G pihaknya juga didukung sekaligus dibantu oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP), Dinas Pertanian serta Balai Penelitian Benih Jawa Timur dengan menurunkan tim penyuluhnya untuk mendampingi warga Glintung.
Sementara itu, proses perubahan kampung Glintung yang dulunya kampung kumuh dan rawan bajir menjadi kampung yang hijau, inovativ dan produktif serta terbebas dari banjir rupanya menjadi perhatian dari beberapa kalangan sehingga kini kampung 3G menjadi tujuan dari berbagai daerah maupun instansi untuk melakukan studi banding. 
Bahkan kampung 3G dengan konsep GEMAR, kini tidak hanya dikenal di dalam negeri saja, tetapi juga dikenal secara intenasional dengan keikutsertaannya dalam ajang Guangzhou International Award for Urban Innovation pada bulan Desember 2016 yang lalu. Melalui konsep Gemar Menabung Air yang diterapkan di kampung Glintung, pada ajang Guangzhou award tersebut kota Malang berhasil menyingkirkan beberapa kota dari berbagai negara sehingga dapat masuk 15 besar dan disandingkan dengan kota maju lainnya diantaranya Brussels (Belgia), Copenhagen (Denmark) maupun  Boston (Amerika).
“Pada tahun ini akan ada 14 negara yang akan berkunjung ke kota Malang tepatnya ke Kampung 3G untuk belajar mengenai gerakan Gemar Menabung Air. Dan nanti saya juga diundang keliling ke 14 negara untuk melihat inovasi-inovasi yang ada di negara tersebut,” ucapnya. 
Sumur Injeksi
Namun begitu Bambang menganggap keberhasilan tersebut hanya sebagai lomba, bukan tujuan dari kampung 3G sebenarnya. Kami membangun kampung 3G dengan tujuan untuk menyelesaikan permasalahan dari kampung ini sendiri.
“Bukan untuk lomba, itu yang paling penting,” pungkasnya.

Jurnalis : Agus Nurchaliq / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Agus Nurchaliq

Lihat juga...