RABU 14 DESEMBER 2016
YOGYAKARTA — Titiek Hediati Soeharto meminta kepada kelompok pembudi-daya ikan air tawar Dusun Morobangun, Madurejo, Prambanan, Sleman, untuk lebih mengoptimalkan sumber daya manusianya, mengingat potensi dusun setempat yang besar. Selain potensi perikanan, dusun tersebut juga memiliki potensi obyek wisata sejarah yang sangat bermanfaat bagi masyarakat luas.
![]() |
| Titiek Soeharto saat meninjau kolam ikan Ngudi Makmur di Sleman. |
Wakil Ketua Komisi IV DPR RI dan anggota Fraksi Partai Golongan Karya tersebut mengatakan hal itu, saat meninjau kawasan kolam ikan Kelompok Budidaya Ikan Ngudi Makmur Dusun Morobangun, Rabu (14/12/2016), siang. Titiek mengatakan, selama ini kebutuhan ikan air tawar di DI Yogyakarta masih lebih banyak disuplai dari daerah lain, seperti dari Jawa Timur. Karenanya, potensi pasar ikan di Yogyakarta sangat besar.
“Di sisi lain, pemerintah telah menyediakan bantuan yang begitu besar di bidang pertanian dan perikanan, karena kita ingin swasembada pangan dan protein. Maka, berbagai bantuan itu harus bisa dimanfaatkan sebesar-besarnya dan sebaik-baiknya,” tegasnya.
Titiek mengungkapkan hal itu guna menjawab berbagai keluhan warga kelompok perikanan Dusun Morobangun, yang selama ini merasa terkendala mahalnya harga pakan, terbatasnya air di musim kemarau dan sarana-prasarana lainnya seperti akses jalan menuju sejumlah kawasan di dusun tersebut yang sebenarnya juga memiliki potensi obyek wisata sejarah.
Ketua Kelompok Budidaya Ikan Ngudi Makmur, Tulus Munarto, mengatakan, selama ini potensi ikan di dusunnya sangat besar. Sudah tergarap maksimal, namun beberapa kendala belum bisa diatasi sendiri seperti ketersediaan pakan murah dan sumber air.
“Untuk itu, kami berharap bisa dibuatkan embung yang bisa menampung air, untuk digunakan sebagai sumber air di saat musim kering,” ujarnya.
Menurut Tulus, potensi ikan air tawar di dusunnya sangat besar. Sejak 2014, hingga sekarang kolam ikan kelompoknya sudah berkembang menjadi 25 kolam dengan luas masing-masing kolam sekitar 6 X 12 meter, yang berada di dua lahan terpisah dengan total luas lahan sekitar 2.000 meter persegi. Lahan tersebut merupakan tanah kas desa yang disewa. Sementara, dari masing-masing kolam bisa menghasilkan sebanyak 4-5 Kwintal ikan.
Dengan jumlah anggota 25 orang, Kelompok Ngudi Makmur mengembangkan ikan nila dan patin. Dua jenis ikan itu dipelihara dalam satu kolam, sebagai solusi penghematan pakan dan menekan biaya pemeliharaan. Hal demikian bisa dilakukan, karena dua jenis ikan itu bukan merupakan ikan kanibal yang bisa saling memangsa.
“Dengan dua jenis ikan dalam satu kolam, pakan yang diberikan tidak akan terbuang. Pakan yang tidak habis dimakan nila, bisa dimakan patin, sehingga tidak bersisa,” ujarnya.
Namun demikian, harga pakan pelet yang masih tinggi selama ini, sekitar Rp280.000 per 30 kilogram, tetap dirasa memberatkan. Karenanya, selain embung, Tulus berharap agar sekiranya Pemerintah bisa memberikan bantuan berupa peralatan mesin pakan mandiri. Terhadap berbagai keinginan warga, Titiek menjelaskan, jika pemerintah telah menyediakan berbagai bantuan. Hanya saja, kelompok-kelompok perikanan dan pertanian harus terdaftar di dinas pertanian setempat, agar bisa mengakses bantuan-bantuan itu.
“Saya harap bantuan-bantuan itu bisa dimanfaatkan, dan kami selaku anggota dewan akan mengawal permohonan kelompok-kelompok tani dan ikan agar bisa terealisir. Saya minta juga untuk membuat koperasi, yang bisa mengatasi masalah keuangan. Ada beberapa yayasan Pak Harto yang bisa dimanfaatkan sebagai modal koperasi, sehingga semua masalah bisa diatasi,” pungkas Titiek.
![]() |
| Salah-satu kolam ikan Ngudi Makmur, ikan nila dan patin dipelihara bersama. |
Jurnalis: Koko Triarko/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Koko Triarko
