JAKARTA—Pimpinan Dewan perwakilan Rakyat akan memberikan perhatian khusus pada pengelolaan konflik di Afghanistan. Mengingat, konflik di Afghanistan tersebut, hingga kini tak kunjung usai.
Pertemuan DPR dengan ulama senior Afghanistan,
Demikian dikatakan Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah ketika menerima 18 ulama senior Afghanistan di ruang tamu Pimpinan DPR, Lantai 3, Gedung Nusantara III, Senayan, Jakarta, Rabu (14/12/2016).
Kunjungan ulama Afghanistan ke Gedung Parlemen ini juga dalam rangka serial Workshop Islam, Leadhership, and Peace Building, Study and Dialogue Visit to Jakarta.
“Hubungan diplomatik antara Indonesia dengan Afghanistan telah terjalin dari tahun 1954. Saya kira kita perlu memberikan perhatian khusus kepada Afghanistan,” ujar Fahri.
“Afghanistan memperoleh kemerdekannya dengan perang, hampir sama dengan kita. Sampai-sampai mereka untuk membangun negara itu sulit, karena masih ada konflik antar suku dan agama yang masih sangat luas,” Sambungnya
Untuk itu, kata Fahri, Kedatangan Ulama senior ini, ingin mengetahui kiat Indonesia dalam cara mengelola dan menyelesaikan konflik di negara. Sebab, Mereka mengetahui Indonesia lebih beragam dengan lebih dari 17 ribu pulau, lebih dari 1000 bahasa, dan lebih dari 700 suku, kita bisa bertahan.
“Itu alasan ulama mendatangi DPR Karena mereka mengetahui kita Indonesia memiliki pondasi dan sistem perdamaian yang kuat, yakni Pancasila,” pungkasnya
Ketertarikan ulama Afghanistan pada Pancasila, jelas Fahri, karena Pancasila merupakan gabungan antara ide keagamaan dengan ide kebangsaan. Bahkan, pendiri Indonesia yang berjiwa agamawan, ilmuwan, negarawan, dan politisi, tidak mengkotak-kotakkan antara ulama dan pemimpin negara.
“Itu yang melahirkan Pancasila, di atas Pancasila, kita membuat konstitusi, di atasnya kita membangun negara yang kuat. Ini yang rupanya yang perlu mereka (Afghanistan) dalami dan pelajari, sehingga ada komitmen untuk berpegang pada sesuatu yang kuat sifatnya, karena mereka juga relatif beragam,” ungkapnya
Fahri Menambahkan, Indonesia memiliki Mahkamah Konstitusi, dimana lembaga negara ini salah satu tugasnya adalah untuk menyelesaikan sengketa di antara lembaga negara.
Konsep ini menurutnya, dapat dicontoh oleh Afghanistan. Karena mereka juga ada sengketa antara parlemen dengan presidennya itu yang tak kunjung selesai.
“Memang Mereka tidak seberagam kita, tetapi konflik di negara nya tidak selesai-selesai. Itu yang mereka ingin tahu, dan akan kita bantu perdalam,” pungkasnya
Pimpinan DPR dalam hal ini akan berkonsultasi dengan Duta Besar Afghanistan untuk Indonesia, agar lebih konsultatif terkait agenda para ulama senior itu di Indonesia.