Potensi Ikan Patin di Yogyakarta Terkendala Tingginya Harga Pakan

RABU, 14 DESEMBER 2016  
 
YOGYAKARTA — Kelompok Budidaya Ikan Ngudi Makmur, Dusun Morobangun Madurejo, Prambanan, Sleman, sejak 2015 mulai mengembangkan komoditas ikan air tawar jenis patin. Hanya bermula dari 4 kolam dengan 4 anggota, kini kelompok tersebut telah berkembang menjadi 25 kolam dengan 25 anggota dari warga dusun setempat.

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Titiek Hediati Soeharto, dalam acara jaring aspirasi bersama Kelompok Budidaya Ikan Ngudi Makmur, Sleman, Yogyakarta.

Pesatnya perkembangan budidaya ikan di Dusun Morobangun, selain didukung ketersediaan air juga karena kejelian kelompok dalam memilih jenis ikan yang menjadi komoditas unggulannya. Di saat banyak kelompok budidaya ikan di Yogyakarta memilih jenis ikan nila yang sudah populer di masyarakat karena ketersediaannya yang relatif terjamin, Kelompok Ngudi Makmur mengembangkan ikan patin yang sejak tiga tahun ini mulai digemari.

Ketua Kelompok Ngudi Makmur, Tulus Munarto, usai kunjungan Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Titiek Hediati Soeharto, Rabu (14/12/2016), mengatakan, ikan patin saat ini semakin digemari kalangan pecinta kuliner di Yogyakarta. Berapa pun hasil panen ikan patin, dipastikan akan terserap habis para pengelola bisnis kuliner.

Titiek Hediati Soeharto bersama Kelompok Budidaya Ikan Ngudi Makmur.

Diakui Tulus, masa panen ikan patin memang membutuhkan waktu lebih lama, sekitar 7 bulan pemeliharaan. Namun, dengan memeliharanya bersama ikan nila dalam satu kolam, biaya pakan dan pemeliharaan relatif bisa ditekan. Pemeliharaan bersama dalam satu kolam itu juga menjadi solusi ketika salah satu di antaranya gagal, tetap masih bisa panen. Saat ini, harga jual ikan nila sebesar Rp 22.000 per kilogram, sedangkan ikan patin Rp 17.000 per kilogram. Sedangkan rata-rata hasil panen setiap 1 kolam bisa 4-5 kwintal atau kurang lebih senilai Rp 10-11 juta.

Tulus mengatakan, permintaan ikan patin saat ini sangat tinggi. Namun, pihaknya kesulitan untuk memenuhi semua permintaan, karena sulitnya pembibitan. Kecuali itu, di saat musim hujan tinggi seperti sekarang menyebabkan ikan patin terkena serangan jamur.

Kendati demikian, Tulus mengatakan, kendala paling berat adalah mahalnya harga pakan pabrikan yang mencapai Rp 280.000 per sak isi 30 kilogram. Sedangkan tiap bulan dibutuhkan 2-3 sak pakan. Berbagai kendala itulah yang disampaikan saat jaring aspirasi bersama Titiek Hediati Soeharto.

Seperti diberitakan sebelumnya, Titiek Soeharto dalam jaring aspirasi tersebut meminta kepada warga setempat untuk lebih meningkatkan sumber daya manusia dan memanfaatkan berbagai bantuan pemerintah, seperti alat mesin pengolah pakan mandiri dan sebagainya. Juga bantuan pendampingan usaha dan penyuluhan.

Jurnalis: Koko Triarko / Editor: Satmoko / Foto: Koko Triarko

Lihat juga...