Permintaan Tinggi, Petani Bayam di Yogyakarta Panen Lebih Awal


SELASA 6 DESEMBER 2016
YOGYAKARTA — Kendati curah hujan tinggi akibat cuaca ekstrim, sejumlah petani di Dusun Dukuh, Sinduharjo, Ngaglik, Sleman, tetap menanam sayuran. Ternyata hasilnya pun tetap maksimal dan laku keras, karena tak banyak petani di tempat lain yang berani menanam sayuran di musim hujan ini. Bahkan, petani sayur di Dusun Dukuh terpaksa panen dini, karena tingginya permintaan.

Ny. Wandi petani batam di Dusun Dukuh.

Musim hujan yang dikhawatirkan oleh sebagian besar petani palawija di berbagai daerah, ternyata ditangkap sebagai peluang oleh para petani di Dusun Dukuh. Dengan sedikit teknik sederhana, yaitu dengan menutup tanaman sayuran dengan plastik yang berfungsi sebagai atap, tanaman sayuran seperti bayam dan kangkung tetap bisa hidup dan hasilnya maksimal.

Ny. Wandi (60), petani bayam di Dusun Dukuh saat ditemui ketika sedang memanen tanaman bayamnya, Selasa (6/12/2016), mengatakan, bayam yang dipanennya itu sebenarnya masih berusia 20 hari. Kurang 5 hari untuk dipanen, sehingga daunnya memang terlihat kecil-kecil atau belum mengembang besar dan sempurna.
“Tapi, ini terpaksa dipanen lebih awal karena permintaan pedagang yang katanya sudah kehabisan persediaan,” ujar Wandi, sembari mengimbuhkan, meski panen awal namun harga jualnya tetap sama.
Menurut Wandi, di saat musim hujan ekstrim ini pasokan sayuran memang menjadi sulit. Karenanya, banyak pedagang di pasar turun ke sawah menemui petani untuk memborong tanaman sayuran. Wandi sendiri hanya menanam bayam dan kangkung di lahan seluas 1.000 meter.
Lahan seluas seribu meter persegi itu dibuat petakan-petakan yang disebut bedeng sebanyak 50 bedeng. Satu bedeng tanaman bayam dihargai Rp50-60.000. Demikian pula dengan kangkung. Sementara, untuk menghasilkan bayam sebanyak 50 bedeng di lahan seluas 1.000 meter persegi itu, Wandi hanya membutuhkan bibit bayam sebanyak 1 Kilogram yang dibelinya seharga Rp80.000. 
“Tidak ada biaya lain kecuali hanya untuk beli bibit itu. Juga tidak ada biaya semprot obat atau macam-macam, karena saya menggunakan pupuk kandang,” ujar Wandi.
Dengan kecilnya biaya produksi yang harus dikeluarkan itu, membuat Wandi merasa beruntung menanam sayuran di musim penghujan ini. Diakuinya, resiko gagal terkena banjir atau genangan air memang ada. Namun, resiko itu sudah diperhitungkan dengan membuat bedeng yang agak tinggi, dengan atap plastik yang rendah supaya tempias air hujan tidak langsung mengenai tanaman.
“Atap plastik yang pendek itu juga supaya menimbulkan hawa panas atau mencegah kelembaban tanah secara berlebihan yang bisa membuat tanaman bayam terkena jamur. Dengan cara ini, musim hujan tidak masalah. Justru meningkatkan penjualan karena tempat lain jarang yang menanam,” pungkasnya.
Jurnalis: Koko Triarko/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Koko Triarko
Lihat juga...