BANDUNG–Kawasan Jalan Cihapit, Kota Bandung dikenal sebagai surga bagi pencinta barang-barang antik. Dari mulai buku, kaset tipe dan vinyl alias piringan hitam bisa ditemukan di jalan di sini. Sayangnya, kini tinggal beberapa lapak saja yang tersisa, salah satunya milik Ondi Turiat (74).
Ondi Turiat di depan lapak kasetnya,
Pada era digital ini masyarakat bisa mengunduh apapun via internet, termasuk karya musik. Namun hal ini tak menciutkan nyali Ondi untuk terus mendulang rupiah dari berjualan kaset bekas. Dia pernah merasakan manisnya menjual bentuk fisik karya musik bekas ini. Ya, Ondi bisa menunaikan ibadah haji, dari usahanya ini. Lantas bagaimana ceritanya?
Pensiun dari PT Kereta Api Indonesia (dulu Perusahan Jawatan Kereta Api) pada 1991 lalu, Ondi sempat bingung untuk menghidupi anak dan istri. Dengan latar belakang menyukai musik lawas, dan cerita-cerita berbahasa Sunda dia memulai usahanya dengan modal dengkul, alias menjual kaset milik orang lain.
Zaman itu memang kaset tape masih banyak dicari, namun Ondi harus bersaing degan toko besar yang menjual kaset baru. Dengan keuntungan yang tak seberapa, dia mensisihkan sebagian untuk ditabungkan.
“Saya berangkat Haji benar-benar dari kaset ini. Dulu saya nabung tiap hari ke Bank, bisa Rp 50 ribu sehari. Pada 1996 baru saya bisa pergi ke Mekah,” kenang Ondi.
Memasuki tahun 2000-an, usahanya sempat terkatung-katung, saat masa peralihan analog ke digital. Masyarakat lebih memilih MP3, seiring mudahnya untuk mengakses internet.
“Tapi ya saya jalani saja, yang penting terus berusaha jangan lupa juga berdoa, memang pada saat itu yang beli rata-rata kolektor saja,” katanya.
Ondi merasa perlu berinovasi, agar jualannya laris kembali. Keterbatasannya tak lihai mengakses internet bukan alasan dia untuk memutuskan gulung tikar. Untungnya kini dia dibantu oleh cucunya, untuk urusan penjualan via online.
“Sekarang saya jualan diantara Rp5000 sampai Rp10.000. Tapi ada juga yang lebih dari itu, terggantung jarang atau tidaknya,” sahutnya.
Dia mengaku, kini kaset bekas mulai kembali banyak diburu. Menurut dia, masyakat pun akhirnya tahu bahwa kualitas kaset pita lebih bagus disanding MP3.
“Sekarang rata-rata bisa jual 5 sampai 10 kaset sehari. Anak muda sama anak SMA juga sudah keracun beli kaset, karena kan enggak semua ada di internet juga,” katanya.
Jangan salah, dia sampaikan, harga kaset seniman lokal rata-rata dibandrol lebih mahal daripada seniman luar negeri. Ondi sempat menjual kaset musisi lawas asal Bandung ‘Braga Stone’ dengan harga Rp 100 ribu.
“Yang banyak dicari kaset tahun 80-an sama 70-an. Anak muda juga yang carinya,” imbuhnya.
Berkat menjual kaset ini, Ondi pun bisa menyekolahkan anak-anaknya hingga ke perguruan tinggi. Bahkan, salah satunya kini sudah punya perusahaan.
“Anak-anak saya juga dulu ikut jualan kaset, tapi sekarang mereka sudah punya perusahaan, dan ada juga yang punya toko bahan bangunan,” ujar pria yang kerap menggunakan peci hitam ini.
Dia masih ingat betul awal mula saat masih merintis usahanya. Kini pelanggan Ondi tak melulu dari Bandung.
“Kemarin-kemarin juga ada yang mesen di Bali. Saya masih simpan tipe pertama untuk berjualan karena ini sejarah dan kenang-kenangan juga,” kata dia