SENIN, 26 DESEMBER 2016
BANTUL — Berkurangnya lahan secara drastis, yang berpengaruh pada ketersediaan bahan material utama pembuatan batu bata, membuat perajin batu bata di sekitar wilayah Jambidan, Banguntapan, Bantul, semakin kesulitan melakukan proses produksi. Hadirnya jenis bahan konstruksi terbaru, seperti batu bata ringan produksi pabrik, beberapa tahun terakhir, juga semakin membuat mereka kesulitan bersaing memasarkan produk.
![]() |
| Seorang perajin batu bata tengah mencetak dan menjemur batu bata secara tradisional dengan mengandalkan sinar matahari. |
Hal itulah yang dirasakan salah seorang perajin batu bata tradisional, di sekitar wilayah Jambidan, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta, Supri. Lelaki yang telah menjadi perajin batu bata sejak puluhan tahun secara turun temurun ini, mengaku, harus mendatangkan tanah sebagai bahan material utama pembuatan batu bata dari wilayah Klaten, Jawa Tengah. Termasuk juga tanah liat sebagai campuran material dari daerah Gunungkidul.
“Saya harus mendatangkan bahan dari Klaten. Karena di sini sudah tidak ada lahan. Semua sawah habis jadi perumahan. Kalaupun ada harganya juga mahal. Perajin kecil seperti saya tidak akan mampu kalau harus beli bahan di sekitar sini, ” tuturnya kepada Cendana News, Senin (26/12 /2016).
Kawasan Jambidan Banguntapan Bantul sendiri bisa dikatakan merupakan salah satu sentra perajin batu bata di Kabupaten Bantul. Di kawasan ini banyak ditemui perajin batu bata yang masih melakukan proses produksi secara tradisional. Meski memiliki jumlah perajin batu bata yang cukup banyak, namun dikatakan Supri, tak ada paguyuban yang menaungi para perajin batu bata.
“Di sini sejak dulu memang tidak ada paguyuban perajin batu bata. Semua jalan sendiri-sendiri. Sehingga memang harga jual untuk setiap perajin bisa beda-beda,” ujarnya.
Supri sendiri mengaku, hanya menjual hasil produksi batu batanya dengan mengandalkan pedagang atau pembeli yang datang langsung ke tempatnya. Pada musim kemarau ia biasa memproduksi sekitar 40.000 baru bata setiap bulannya. Sementara pada musim hujan seperti saat ini, produksinya jauh berkurang hingga hanya sekitar 20.000 batu bata per bulan saja. Hal itu terjadi karena semua proses produksi masih dilakukan secara tradisional, yakni untuk pengeringan masih mengandalkan sinar matahari.
“Munculnya batu bata ringan, sekitar tiga tahun terakhir itu juga sangat berpengaruh pada penjualan. Karena banyak pengembang lebih memilih menggunakan batu bata ringan untuk membuat rumah atau gedung. Sehingga perajin tradisional seperti saya ini semakin kesulitan,” keluhnya.
Supri hanya berharap pada pemerintah untuk bisa membantu para perajin batu bata ringan seperti dirinya. Baik itu terkait masalah permodalan atau pun pelatihan dan pembinaan. Pasalnya, dikatakan Supri, selama ini pemerintah sama sekali tidak pernah hadir untuk membantu para perajin batu bata di sekitar wilayahnya.
“Harapannya, paling tidak, pemerintah bisa menggelar pelatihan atau pembinaan bagi para perajin batu bata tradisional seperti saya. Sehingga kita bisa mengembangkan usaha. Dan mampu bersaing, ” ujarnya.
Jurnalis: Jatmika H Kusmargana / Editor: Satmoko / Foto: Jatmika H Kusmargana